Reseacah abousut inactivan Foot and Mouth Disease Virus

The inactivation potency analysis between 0.05 % Acethyl ethylene imine (AEI) and 0.05% Formalin to threat Foot and Mouth live virus.

Mochamad Lazuardi

Lecturer and Researcher in Veterinary Pharmacy Laboratory, Veterinary Faculty Airlangga University

Abstract

Previous study has been shown the potential inactivated substances of two inactivation substances that are AEI and Formalin at 0.05% concentrated (v/v) for immobilized of Foot Mouth Diseases (FMD)live virus as a Hostis Pecoris Species Virus. The objective of the present study was to investigated inactivated potency between two inactivant substances of Pico ribonucleic acid virus. The sixteen of 5 ml infected BHK21 suspension culture cells at 109 TC ID50 infectious grades on small bijou bottle as a samples trial were divided on two groups. (Each group consists of eight samples). The infected cells were added 0.5 ml of AEI and Formalin. After that, all samples were incubated at CO2 hot room (370C) during the three days. By time series research design the samples were analysis with TC ID50 method each 12 hour, 24 hour, 36 hour and 48 hours post inactivated. Result research funded that AEI was fastest inactivation activity than Formalin of equal concentrated at ranging 12 to 24 hours (p<0.5).

Key words: Inactivation substances, BHK21, Hostis Pecoris Virus, TC ID50, In vitro test


Research in Pharmacokinetics

Pharmacokinetics and Pharmacodynamic of Multiple Intramuscular Dosage of Diminazene in infected goats

Mochamad Lazuardi
Veterinary Faculty, UNAIR. Jl. Mulyorejo (UNAIR), Surabaya (60115).
Fax : 031-5993015, e-mail: ardiunair@yahoo.co.uk

ABSTRAK

Telah dilakukan investigasi farmakokinetik dan farmakodinami diminazen terhadap 5 ekor kambing penderita Tripanosoma evansi isolat bangkalan dan 5 ekor kambing sehat. Pada uji klinik dosis yang digunakan adalah 10,22 mg.kg-1 berat badan (bb) sebagai dosis muatan dan empat kali tambahan dosis penjagaan (7 mg.kg-1 bb) tiap interval 31 menit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data hubungan antara parameter kinetik dengan respon tripanosidal pada pemberian dosis berganda secara intra muskuler. Kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik, digunakan untuk analisis obat dalam plasma darah. Konsep superposisi dan ulas darah tebal digunakan untuk analisis parameter kinetik dan pengamatan eliminasi parasit. Card agglutinasi tes digunakan untuk penilaian keberadaan antigen Tryanosoma 45 hari pasca pengobatan.Paparan parasit terhadap lamanya konsentrasi terapi mobat pada rentang waktu rerata keberadaan obat antara 5,20 sampai 14,66 hari dihasilkan dari pemberian dosis berganda. Data tersebut menunjukkan bahwa Tripanosoma evansi isolat Bangkalan umumnya relatif sensitif terhadap diminazen dosis berganda (p<0,05).

Kata kunci: Penyakit Chagas, Tripanosomiasis, superposisi, kambing terinfeksi

ABSTRACT

The pharmacokinetics and the pharmacodynamic of diminazene had been investigated in 5 infected goats of Trypanosoma evansi bangkalan isolates and 5 of healthy goats. The 10.22 mg.kg-1 bw as loading dose and fourth times addition of maintenance dose (7 mg.kg-1 bw) each 31 minutes intervals was using for clinical trials. The objective of this research was to obtained realtionships data of kinetics parameter vs., trypanocide response at multiple dosng intramuscularly administrations. The high performance liquid chromatography reverse-phase was used for analysis drug concentration in blood plasma. The superimpose concepts and thick blood film method were used for analysis kinetic parameterand assessment of parasites elimination. The card agglutination test was used for assessment of available trypanosomes antigen 45 days post treatment.The expore of parasites to length of therapeutics drug concentration at ranging Mean Residance Time of 5.20 to 14.66 days was resulting multiple dosing. These data indicate that population of Trypanosoma evansi Bangkalan isolates, was generally sensitive to multiple dosing of diminazene (p<0.05).

Key words: Chagas disease, Trypanosomiasis, Superimpose, infected goats


Training

Training


Training for Veterinarian Practice :

RESEP (R/) LOGIS DAN BERTANGGUNG:

APA DAN BAGAIMANA PANDANGAN PADA IMPLIKASI KLNIK?

 

Dr. Moch. Lazuardi., Drh., MSi

 

Dokter Hewan Praktisi dan Pengurus Inti ONT BKN Farmasi-Veteriner se Indonesia.

Anggota Badan Pengurus Pusat Perhimpunan Farmasi-Kedokteran Indonesia (PEFARDI).

Dosen dan Peneliti di Sub.bag. Ilmu Farmasi-Veteriner FKH UNAIR.

 e-mail : ardiunair@yahoo.co.uk

 

 

Abstrak

 

Obat hewan dan alat-alat kesehatan hewan (ALKESWAN) pada dasarnya adalah sarana untuk kegiatan veteriner dan peternakan, namun demikian khusus ubat-obat hewan adalah sarana untuk melakukan tindakan medis veteriner.  Dengan demikian perolehan obat tersebut pada hakekatnya seyogyanya menggunakan resep dokter hewan. Mengingat obat adalah suatu racun dan ibarat pedang bermata dua maka harus ditatakelola dengan prinsip logis dan bertanggung jawab.  Logis dimaksudkan adalah sesuatu yang telah diverifikasi secara ilmu pengetahuan dan yang terbukti berkhasiat secara empirik kendati ilmu pengetahuan belum mampu melakukan verifikasi. Sedangkan bertanggungjawab dimaksudkan adalah manifestasi hak seorang dokter hewan menggunakan obat dengan salahsatunya adalah pembubuhan tanda tangan dan atau paraf saat menuliskan resep dibagian subscriptio. Bila prinsip tersebut diacu dan selalu difahami oleh insan dokter hewan, maka resiko tuntutan dari pemilik hewan tak terjadi. Dengan demikian seyogyanya menggunakan kaidah etika penulisan resep dalam menuliskan resep.

Sebagai kesimpulan adalah prinsip logis dan bertanggungjawab dengan menggunakan falsafah Maximum Asclepiades dan etika medis dalam mengelola  obat, akan meminimisasi resiko kemunculan tuntutan dari pemilik hewan.

 

Kata-kata kunci : Logico-verificatio, tanggungjawab dalam penulisan resep, Maximum Asclepiades, Etika medik,  Penulisan Resep.

 

 

 

Pendahuluan

Menjelang Binemium hingga masa mendatang, tatalaksana dokter hewan   dalam melakukan aktivitas jasa klinik menggunakan obat dan Alat-alat kesehatan hewan (ALKESWAN)  dimana didapatkan melalui media lembar kertas Resep (R/), dirasakan makin berat. Dikatakan berat sebab mengandung tiga point pokok yaitu pertama membuka kesempatan pemilik hewan dengan segala daya upaya melakukan klarifikasi keakurasian dokter hewan menggunakan obat. Point ke dua adalah membuka kesempatan masyarakat sekitar dimana mereka hidup di habitat/lingkungan yang berdekatan dengan hewan penderita pasca pemberian obat (oleh dokter hewan). Point terakhir (ke tiga) adalah membuka kesempatan bagi masyarakat pengkonsumsi daging olahan asal ternak hewan untuk mengaklarifikasi ekses akibat pemberian obat oleh dokter hewan. Sementara tuntutan masyarakat Indonesia pasca awal globalisasi terhadap pelayanan jasa veteriner dengan segala ekses yang ditimbulkan mengenai penggunaan obat, makin mengarah ketuntutan sophisticated.

Di dunia kedokteran dan bidang kefarmasian dan seiring dengan diundangkannya UU Praktek Kedokteran tahun 2006,  mulai awal 2007 persoalan tersebut telah diantisipasi. Bentuk konkrit yang terwujud adalah dibudayakannya persoalan medikolegal sejak di tingkat pendidikan sarjana kedokteran hewan hingga ditingkat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) maupun Super spesialis. Budaya pemahaman tersebut terus berlangsung hingga di tingkat kabupaten seluruh pelosok Indonesia.  Oleh sebab itu di setiap Fak. Kedokteran di Indonesia sejak tahun 2007 didirikan badan yang menangani  persoalan tersebut (Unit Bioetik Kedokteran Indonesia).

Bila profesi Dokter hewan di analogkan dengan profesi Dokter oleh seluruh masyarakat Indonesia, sementara persoalan tatakelola penggunaan obat hewan-ALKESWAN melalui R/ sesuai zaman tidak dilatihkan secara rutin.  Maka ekses negatif yang terjadi adalah (1) ketidak percayaan masyarakat, (2) adanya persoalan perdata dan pidana bagi dokter hewan Indonesia, (3) pemilihan dokter hewan asing. Ekses negatif di atas, sebenarnya sejak tahun awal tahun 2000, telah diantisipasi oleh fihak sejawat dokter hewan dengan dikeluarkannya Farmakope Veteriner (farmasetik dan biologik) Indonesia pertama kendati kurang lengkap.  Namun perangkat  tersebut belum pernah disempurnakn serta belum dibentuk perangkat-perangkat lain yang dapat membentengi dokter hewan dari ekses negatif tersebut. Sementara waktu berjalan terus, dan persoalan perangkat pengaman belum tersentuhkan maka probabillitas kemunculan ekses menjadi makin besar. Upaya minimisasi ekses negatif tersebut sebenarnya dapat dilakukan dengan catatan harus menggunakan prinsip penggunaan obat-ALKESWAN  logis dan bertanggungjawab. Apa dan bagaimana prinsip logis dan bertanggungjawab dalam pandangan implikasi klinik, akan dipaparkan dalam uraian di bawah.

I.        Mengenal falsafah penulisan R/  ”Maximum Asclepidaes”

Dalam penulisan resep dokter hewan, seyogyanya menggunakan falsafah yang telah disampaikan oleh seorang dokter Yunani yang hidup di Roma beberapa tahun sebelum masehi (Milks and Zeissig, 1947). Prinsip tersebut dalam perjalanan waktu serta terkait  dengan masa binemium hingga masa, dapat dilakukan modifikasi seperlunya. Prinsip tersebut dikenal dengan ”Maximum Asclepiades”, yaitu :

  1. Curare = Manjur
  2. Cito = Cepat
  3. Tuto = aman
  4. et Jucunde = dan Menyenangkan.
  1. Curare

Prinsip manjur merupakan niatan utama dari seorang dokter hewan dalam rangka pemberian obat.  Manifestasi tersubut dapat mengikuti kaidah 5 tepat dalam pengunaan obat  yaitu : (1) tepat jenis obat yang dipilih, (2) tepat dosis, (3) tepat bentuk sediaan, (4) tepat cara dan waktu pemberian dan (5) disesuaikan denga kondisi penderita.  Prinsip curare termanifes di bagian preskripsi dari suatu lembar kertas resep.

2.      Cito = cepat

Prinsip cito pada dasarnya adalah upaya/tindakan agar :

  1. Implikasikasi klinik yang haru dilakukan adalah :
    1. Pilihlah obat yang cepat dilayani di apotik atau penjual obat
    2. Buatlah penulisan resep baik patent atau racik saji (official atau non-official),  agar sebisa mungkin obat lebih cepat bekerja. Contoh pilihan R/ a. di bawah adalah resep dengan kerja obat tercepat dibandingkan R/ lainnya.
      1. a. R/  Acetosal                 
      2. ana 5

          Natrii bromidi           3

          Aqua               ad 150 ml

    

         m.f. solutio

         S. 3.d.d CI.

               #

 

 

 

    

  1. b. R/ Acetosal      5

         CMC-Na     1%

          Saccarosa q.s

          Aqua        ad  150 ml

     

          m.f. susp.

          S. 3 d.d CI

               #

 

  1.  c. R/ Pulv. Acetosal    500 mg

          Glucose            qs

 

           m.f. Pulv da in caps t.d no X

           S. 3.d.d caps I

                 #

 

  1. R/  Tab. Antalgin (Bayer)     No. X

           

           S. 3 d.d Tab.I

                     #

                  

 

  1. Obat cepat dikeluarkan pasca penderita sembuh dari tindakan pengobatan. Prinsip ini menjadikan dilakukan pilihan bahan aktif obat dengan duration of action seperlunya.  

3. Tuto = aman

           Prinsip tuto/aman dimaksudkan adalah :

  1. Aman dengan timbulnya reaksi obat lanjutan, sehingga menghindarkan penyakit karena obat.

Contoh aplikasi adalah sebagai berikut :

Penggunaan kemoterapi pada anjing yang penderita infeksi bakteri gram negatif dari golongan solfonamida.  Pilihan R/ b adalah yang terbaik dibandingkan R/ a, sebab sulfadiazine tak teraborbsi di lambung anjing, sehingga mengurangi resikoreaksi lanjutan akibat obat.

  1. a. R/ Sulfadiazin                    18

         Mucilago Tragacanth  2 %

         Saccharose              q.s

         Aqua                     ad  90 ml

       

         m.f. susp.

         S. 3 d.d CI

               #

 

b. R/  Decatrim tab  No. XVI

         

          S. 3 d.d tab 1

                 #

 

Pada unggas (Ayam berat 3 kg) dengan kasus salmonelosis, maka penulisan R/ dibawah adalah contoh aplikasi manifestasi dari prinsip tanggungjawab.

R/  Chloramphenicol   90 mg

      Glucose              q.s

      

       m.f. pulv dan in caps t. d No. XV

       S. u.c

              #

Penulisan u.c dapat dilakukan sebagai alasan agar mampu dipantau hingga pada akhir terwujudnya waktu henti obat (7 s/d 10 kali waktu paruh eliminasi).

  1. Dengan demikian pemberian obat harus tetap memperhitungkan ampak lingkungan (Enviroment).  Contoh konkrit adalah upaya desinfektan suatu wilayah untuk mencegah terjadinya flu brung. Pada keadaan demiian penyemprotan desinfektan tidak boleh mengakibatkan tanaman-tanaman disekitar tercemar, termasuk tanah dan air sungai yang akhirnya tercemar desinfetansia.

Contoh :

R/ Hexacholorophen  5 L

     S. u.c

         #

   Dengan penulisan u.c maka pengguna desinfektansia dapat diberi catatan khusus apa dan bagaimana teknik melakukan desinfetansia agar tak merusak habitat sekeliling.

4.      et Jucunde = dan Menyenangkan

 Strategi pemberian obat hewan harus berprinsip memegang teguh persoalan kenyamanan.  Dimaksud kenyamanan dapat berarti :

  1. Sebagai contoh adalah pemnberian obat-obat dengan bau yang tak nyaman dapat disembunyikan dalam capsul. Demikian pula penambahan coriggen rasa pada pemberian obat-obat yang tidak bersifat animal taste, atau dapat dibuat segar dengan bentuk sediaan saturatio (cocok untuk kera).

R/ Thiamphenicol    150 mg

     Saccarose    q.s

    

      m. f. pulv da in caps t.d no. IX

     

       S. 3. dd Caps I

                 #

 

  1. Citric      2,5
  2. 25
  3. 2,5 (r.p)
  4.       Syr. Simplex    12,5
  5.       Natr. Bicarb      3

       Aqua            55

      Vit C   tab ½

      m.f. potio

      S. haust

           #

  

  1. Nyaman bagi pemberi obat hewan yang akan mengaplikasikan ke hewan peliharaannya. Sebagai contoh pada kucing tak semuanya cocok diberika obat-obat dengan oral dengan bentuk sediaan cair. Bila memungkinkan dilakukan perancangan bentuk sediaan semata-mata agar nyaman diberikan oleh pemberi obat (agar tak digigit), dan hal tersebut dapat dirancang berupa suppositoria. Dapat pula dibuat pillulae sehingga cukup dilemparkan ke dalam mulutnya disaat hewan tersebut membuka mulut.

R/  Aminophyllin   200 mg

  1.       Ol. Cacao       q.s

     

       m.f supp. analia dtd no. IV

      

        S. p.r.n supp. I

                #

        

II.      Logis

Logis dari asal kata bahasa latin  Logos mengandung makna  ilmu, dan merupakan suatu epistemologi ilmiah dengan tata aturan yang menuntun penalaran untuk sampai pada suatu kesimpulan benar. Dengan demikian membutuhkan suatu pembuktian ilmiah (verifikasi), sehingga akhirnya kata logis bermakna Logico-Verificatio.

Aplikasi empirik penggunaan obat dapat terbagi tiga yaitu  (1) mampu dibuktikan (the true values), (2) belum dapat dibuktikan di zaman itu dan, (3) tidak dapat dibuktikan.

Pada pola penggunaan obat yang telah diaplikasikan secara empirik selanjutnya mampu dibuktikan secara ilmiah, maka akan menghasilkan fenomena reprodusibilas dan ripitabilitas.  Artinya pola penggunaan obat tersebut dapat diaplikasi di berbagai tempat dengan hasil sama kendati memiliki deviasi berbeda-beda. Pola pengobatan inilah yang disebut temuan empirik yang akhirnya diteotitikkan (the true values), dan dapat dijadikan standard operasional prosedur (SOP). Contoh persoalan tersebut adalah kasus-kasus jamur pada kulit (dermatophytosis), maka pilihan obat anti jamur dilakukan dengan SOP :

 

  1. R/  Ung. 2-4   100                           R/ Acid. Salcylic      2       3         4

                                                             Sulfur ppt           4        5        10

  1. ad 100

           #

                                                              S. u.e

                                                                   #

 

                                                             

Pola penggunaan obat pada kasus emprik dengan beberapa kali keberhasilan namun belum mampu diverifikasi dan hanya sedikit menghasilkan kegagalan. Pola demikian masih termasuk bagian dari prinsip pengobatan logis, kendati belum dilakukan pembuktian secara ilmiah karena ketidakmampuan ilmu pengetahuan di zaman tersebut.  Mengingat obat adalah seperti dua sisi mata uang, maka melalui prinsip bertanggungjawab menjadikan unknown characteristic obat dapat dikendalikan. Tanggungjawab dimaksudkan dapat dilakukan monitoring terapi obat (MTO) oleh dokter, sehingga dampak samping yang ditimbulkan dapat diantisipasi sejak awal. Contoh kasus tersebut adalah pada kasus Trypanosomiasis pada sapi, maka obat SOP yang dipilih adalah kemotripanosidal :

R/  Suramin (Naganol®)  flac. No I

     

      S. i.m.m

           #

 

.  Pada tahun 1980-an Suramin terkenal merupakan drug of choice antitrypanosoma, pada saat tersebut masih belum banyak diketahui profil ADME suramin, namun telah diketahui memiliki availabilitas lama di tubuh.  Pada kasus trypanosoma masuk ke dalam cerebrum atau cerebelum, maka dengan mudah akan terhindar dari Suramin.  Sebab suramin tak mampu menembus sawar otak akibat berat molekul besar. Persoaan itulah yang menyebabkan Suramin terkadang tak efektif sebagai tripanosidal. Namun terdapat persoalan yang lebih besar dari suramin yaitu (1) availabilitas yang terlalu lama dan (2)  tak dapat dimetabolisme dalam bentuk tak utuh. Dua persoalan tersebut akhirnya mengakibatkan ketidakamanan bagi masyarakat pengkonsumsi daging olahan asal ternak dan persoalan pencemar lingkungan. Sehingga tahun 1990-an, suramin sudah tak diproduksi sebagai antitrypanosoma (Lazuardi, 2005).

Contoh lain adalah kasus-kasus carcinoma,  sebagai berikut :

R/  Infusum folia Dendropthoe species 20% 445,5 ml

      Adde

      Syrupus simplex    4,5 ml

      

  1.        m.f solutio                                   

     

      S. o. 8. h CII

               #

 

Contoh resep di atas adalah suatu sari air panas dari daun benalu duku dan secara empirik diketahui mampu mengurangi rasa sakit pada Wanita  penderita kanker mamae. Dalam kajian laboratorik baik secara in vivo (pada tikus) maupun (in vitro) diketahui mampu mengeliminasi sel kanker mieloma. Fenomena tersebut masih belum mapu dijadikan suatu the true values. Oleh sebab itu harus dilakukan prinsip pertanggungjawaban dari seorang dokter melalui tindakan MTO.

Pola empirik terakhir adalah penggunaan obat dengan sifat trial and error, bila ternyata berhasil maka merupakan tindakan yang tak sia-sia namun bila tak menghasilkan keberhasilan dianggap hal lumrah. Pola pengobatan model demikian bukan bagian dari prinsip pengobatan logis, sebab tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.  Model pengobatan trial and error juga dirasakan sulit untuk dilakukan pemantauan sebagai upaya menjaga semangat bertanggungjawab  dari seorang dokter hewan. Hal tersebut disebabkan pola penyediaan hingga pemberian obat tidak harus mengikuti kaidah aturan resmi yang ditetapkan pada umumnya aturan obat-obatan (Farmakope, Vademekum, Pedoman Peracikan Obat, dsb).

     Contoh dalam kasus tersebut adalah pemberian resep di bawah :

     Serbuk buah jambu biji 1 gram ditambahkan air 50 ml dan diminumkan.

III. Bertanggungjawab

Obat adalah salahsatu perangkat untuk mengobati suatu keadaan patologis fisiologis kondisi tubuh suatu mahluk hidup (manusia maupun hewan).  Obat itu sendiri diketahui merupakan satu objek yang kompel sebab terdiri dari :

  1. Bahan aktif (Remedium cardinale)
  2. Bahan penambah (adjuvansia)

-          Corrigen rasa

-          Corrigen warna

-          Corigen bau

-          Preservatives

-          Bahan penambah/bahan pengisi

-          Bahan pembawa (vehiculum)

 

Selanjutnya obat itu sendiri dibentuk dalam sediaan obat tertentu misal padat, cair dan setengah padat.  Sementara kita mengetahui bahwa padat dapat terbagi berbagai macam misal tablet, kaplet, dragee, pulveres, pulvis, capsul, dsb  Bentuk sediaan setengah padat dapat berupa unguentum, cream, pasta, suppositoria dsb. Bentuk sediaan cair dapat berupa solutio, suspensi, injeksio, saturatio, dsb. Semua bentuk sediaan tersebut memiliki jenis-jenis adjuvansia dan vehivuculum bermacam-macam. Obat-obat itu sendiri di simpan dalam suatu kemasan tertentu yang harus mampu memproteksi obat terhadap pengaruh sinar, udara, suhu dan kelembaban (termasuk hewan-hewan mikroba lain).  Kemasan itupun ditandai dengan etiket dapat berwarna putih maupun biru.  Obat-obat yang ada dalam bentuk sediaan tertentu dengan etiket yang telah tertempel harus diminakan melalui resep dokter.  Gambaran itulah yang disebut obat bersifat komplek, oleh sebab itu dalam bahasa Inggris disebut medicine.

Bila obat memiliki arti dalam bahasa Inggris sebagai drug memiliki makna hanyalah berupa bahan aktif obat.  Dengan demikian mengandung makna suatu bahan generik atau patent dari obat itu sendiri baik bersifat tunggal (hanya satu jenis) atau bersifat komplek (lebih dari satu jenis).

Begitu berbahayanya obat tersebut maka proses pembuatannya, peredaran dan penggunaannya harus ada yang bertanggungjawab.  Ditingkat fabrikasi obat hewan maka pertanggungjawaban diletakkan pada produsen obat hewan yang diawasi oleh Dokter hewan atau Apoteker (khusus obat manusia diawasi oleh Apteker).  Ditingkat pengedaran obat hewan dapat diawasi oleh Dokter hewan dan atau Apoteker berizin. Dalam peredarannyapun digunakan berdasarkan resep dokter hewan.  Bila dibidang kedokteran manusia i terdapat interaksi kontrol penulis resep (dokter dengan apoteker). Dibiang veteriner hal tersebut tidak terdapat, dan inilah yang membuka kesempatan pemilik hwan melakukan verifikasi di saat tak terjadi pelayanan pengobatan. Resep itu sendiri harus terdapat paraf ataupun tanda tangan, serta tersimpan dalam arsip suatu tempat penjualan obat hewan.  Jumlah yang telah terjual dengan stok yang adapun selalu disampaikan pada instansi yang mengawasi masalah obat dan makanan. 

Mengapa harus bertanggungjawab ?

Obat hewan merupakan produk beracun dan mudah sekali disalahgunakan (abused) atau digunasalahkan (missused).  Obat hewan pada klas tertentu dapat disalahgunakan untuk mengobati manusia, atau dapat pula untuk tujuan membunuh manusia bahkan merusak lingkungan. Seandainyapun obat hewan digunakan seperti tujuan pengobatan, maka resiko terjadinya dampak samping obat atau penyakit karena obat (drug induced disseases) tetap mengancam.  Dampak itupun akan terasa langsung pada umat manusia manakala residu obat hewan tetap berada dala jaringan tubuh hewan yang akhirnya dikonsumsi oleh manusia.  Seandainyapun jaringan tubuh hewan dengan kandungan residu obat hewan termakan oleh hewan lain maka akan dapat berdampak negatif pada hewan itu sendiri.  Bila dampak negatif tersebut diinterpretasikan dengan kemunculan perangai hewan yang tak dapat dikendalikan oleh manusia, maka yang menderita umat manusialah yang menderita.

Ilustrasi tentang bahaya obat hewan itulah merupakan suatu fenomena lapangan yang selalu ditemui oleh profesi dokter hewan. Dengan demikian dokter hewan diberikan asupan ilmu pengetahuan yang rinci tentang obat hewan.  Paparan tersebut di atas pada akhirnya mengakibatkan konsep penggunaan obat hewan harus bertanggungjawab (responsibilities)

Bagaimana bentuk manifestasi tanggungjawab dokter hewan ?

Manifestasi tanggungjawab dokter terhadap instruksi penggunaan obat digambarkan dengan adanya keberanian dokter menuliskan resep dimana pada bagian dari resep tersebut mengandung tanda tangan/paraf dokter.  Kemunculan tandatangan/paraf dokter menjadikan resep sah, kondisi tersebut menyebabkan resep dapat dilayani. Bentuk manifestasi tersebut memiliki konsekuensi berat yaitu client harus mentaati perintah dokter agar tertib dalam penggunaan obat.  Dengan demikian keberhasilan pengobatan tergantung tertib tidaknya pengunaan obat seperti auran pakai yang dituliskan oleh dokter. Reprensentatif aturan pakai yang dituliskan oleh dokter hewan dapat ditampakan pada etiket obat yang ditempelkan di wadah obat.

Catatan:

Dengan penekanan tanggungjawab tersebut maka setiap orang yang akan menggunakan obat untuk pengobatan hewan dengan konsep apapun (misal rasional,  dsb) dapat saja dilakukan.  Namun apakah mereka yang non-dokter berani menetapkan konsep bertanggungjawab dalam melakukan aplikasi obat pada hewan.  Bila berani maka tanggungjawab tersebut harus ada ilustrasinya.  Bila tidak ada, maka konsep tanggungjawab yang diargumentasikan secara aotomatis gugur. Namun khusus dokter hewan, bentuk tanggungjawab telah tersurat dengan adanya kewenangan dalam menuliskan resep.  Oleh sebab itu khusus pendidikan dokter hewan, diberikan tambahan mata pelajaran yang mengkaji masalah obat dengan porsi yang cukup banyak.

Penggunaan obat hewan dengan prinsip logis dan bertanggung jawab, merupakan satu-satunya konsep yang dapat membedakan antara dokter hewan dan bukan dokter hewan.  Bila pemberi obat bukan dokter hewan maka tanggungjawab atas dampak karena obat  dijatuhkan pada Insitusi negara yang melakukan pengaturan, pengawasan penggunaan dan peredaran obat hewan  atau industri obat hewan. Seandainya dokter hewan pemberi instruksi penggunaan obat hewan menemui hal-hal yang kurang memuaskan terkait dengan kualitas obat hewan, maka tanggungjawab dapat dijatuhkan pada industri obat hewan.  Secara tidak langsung tanggungjawab juga dapat dijatuhkan pada Institusi resmi pengatur peredaran obat hewan.

Pada dasarnya dengan adanya konsep bertanggungjawab, maka para dokter hewan harus berhati-hati dalam melakukan penggunaan obat untuk tindakan pengobatan. Sebab tanggungjawab tersebut secara aotomatis melekat dan berhubungan langsung dengan cclient yang memiliki otoritas menetapkan hak atas hewan miliknya.  Tanggungjawab yang dimaksudkan juga berkaitan dengan hukum pelayanan kepada masyarakat atas hewan miliknya. Hukum jasa pelayanan kepada masyarakat inilah yang menyebabkan para dokter hewan harus berhati-hati sebab dengan mudah pemilik hewan melakukan class action atas tindakan dokter. Beberapa dampak hukum yang mungkin muncul, adalah :

  1. Penurunan kepercayaan dengan implikasi ditinggalkan fihak pasien
  2. Ketidak percayaan terhadap jasa pelayanan dokter hewan
  3. Tuntutan perdata atas jasa pelayanan yang dirasakan kurang memuaskan
  4. Tuntutan pidana atas jasa pelayanan yang dirasakan kurang memuaskan

   ad 1. Penurunan kepercayaan

Pemilik hewan atau lembaga yang akan mengobatkan hewan tanggungjawabnya, pada dasarnya memiliki perasaan gamang manakala memiliki pengalaman buruk dengan jasa kesehatan hewan.  Pada keadaan demikian yang terjadi adalah perasaan ragu-ragu dari pemilik hewan saat akan mengobatkan hewan ke jasa pelayanan kesehatan hewan.  Perasaan ragu-ragu tersebut disertai dengan perasaan curiga dengan apa yang telah dilakukan oleh dokter hewan.

 

    ad 2. Ketidakpercayaan

Perasaan ketidak percayaan akan muncul manakala pemilik hewan memiliki pengalaman buruk berulang-ulang dengan jasa pelayanan kesehatan hewan. Bila keadaan tersebut berlangsung terus menerus, maka yang terjadi adalah pemilik hewan tidak akan pergi ke jasa pelayanan kesehatan hewan.

  ad 3.  Tuntutan perdata

Tuntutan perdata timbul manakala pemilik hewan merasa bahwa apa yang telah dilakukan terhadap hewan pemeliharaanya, dirasakat sangat merugikan.  Persoalan tersebut menjelang abad ke 21 amat mengemuka dimana disebabkan hubungan antara dokter dengan pemilik hewan sudah bersifat equal.  Sehingga apa yang dilakukan dokter harus sepengetahuan terlebih dahulu dari pemilik hewan. Bila suatu saat tindakan dokter dilakukan disarasakan sangat merugikan bagi hewan peliharaannya sementara pemilik hewan telah merawat bertahun-tahun, maka persoalan perdata tidak mustahil akan muncul.

   ad 4. Tuntutan pidana

Tuntutan pidana merupakan tuntutan yang cukup berat bagi profesi doter sebab kesalahan tersebut selalu ditimpakan oleh profesi dokter.  Persoalan tersebut dapat diminimisasi manakala dokter hewan selalu melakukan tindakan medik berdasarakan  standard operasional prosedur.

Secara umum tuntutan perdata maupun pidana, dapat dihindari melalui jalan membangun satu ketergantungan antara pemilik hewan (clinent) dengan dokter hewan.  Ketergantungan dapat terjadi bila keduanya saling terbuka dan saling mempercayai.

Pada dasarnya client cukup terbuka dengan dokter hewan, dan oleh sebab itu performance tersebut tidak boleh hilang.  Pada kesempatan tersebut secara prosedural dokter hewan seharusnya menjelaskan semua hal terkait dengan penyakit hewan tersebut.  Pada kesempatan yang sama juga harus menguraikan semua hal tatacara strategi pengobatan yang akan dilakukan.  Bila mungkin dapat pula dijelaskan kemungkinan persentase kegagalan dalam pelaksanaan aplikasi. Pola bipartite seperti tersebut secara aotomatis akan menghasilan suatu bentuk bangungan yang saling mempercayai.  Bila hal tersebut telah terbentuk maka dengan mudah strategi pengobatan dapat dilakukan.  Pemilihan derivat bahan aktif yang akan diberikan sebisa mungkin diserahkan kepada pemilik hewan.  Namun bila hal tersebut tidak mungkin, maka harus dijelaskan apa dan mengapa jenis obat tersebut yang dipilih.

Upaya pemberian informasi sejelas-jelasnya kepada pemilik hewan akan mengarah pula kepada informasiyang terkait efek samping obat serta efek lain yang tak dikehendaki.  Bila telah diinformasika segala hal maka perlu pula dijelaskan bila terjadi hal-hal yang diluar perkiraan dokter hewan, maka persoalan tersebut diluar batas kemampuan manusia. Bila pemilik hewan, bersedia maka pengobatan dapat dilakukan bila tak bersedia maka dipersilahkan untuk mengambil hewannya.

IV. Etika menulis resep

Dalam dunia kedokteran legal persoalan medikolegal mulai dikaji secara melembaga dan diterapkan sejak pendidikan dini kedokteran di seluruh Indonesia. Dengan demikian persoalan etika jasa pelayanan medik (termasuk persoalan penulisan resep) selalu didorong untuk dikuasai oleh seluruh insan dokter di Tanah air (Roostantia, 2007). Terdapat empat azaz yang harus difahami oleh insan dokter pada umumnya dalam menjalankan jasa klinik yaitu (1) aotonomi, (2) beneficience, (3) non-malefience dan (4) justice. Adapun rule derivat emat azaz tersebut adalah veracity, privacy, confidentaility dan fidelity (Jacobalis, 2006a; Jacobalis, 2006b; Roostantia, 2007).

Secara khusus terdapat dlapan etika menulis resep oleh dokter hewan dengan butir-butirnya, yaitu  (Lazuardi, 2007):

1.      Prudentiality

Dokter hewan dalam penulisan resep diminta berhati-hati terutama terhadap :

  1. Tipe penebus resep (apakah akan disalahgunakan atau tidak) (DiGregorio and Barbieri, 1995).
  2. Kesalahan penulisan pada bagian praescriptio seperti nama dan jenis obat yang diminta dosis, bentuk sediaan yang dipilih, jumlah obat yang diminta, dsb (Spinelli and Enos, 1978; Lazuardi, 1996) .
  3. Jujur dan dapat dipercaya

Resep dokter hewan harus memiliki legitimasi tinggi, dengan demikian hanya dokter berizin yang memiliki legitimasi tinggi.  Di Eropa dan Amerika, penulis resep harus membubuhkan tanda tangan (bukan hanya paraf), dan harus di daftar ke lembaga resmi (British National Formulary, 1989; Gennaro, 1995).  Di Amerika profil resep sangat akomodatif dan menunjukkan tingkat legitimasi tinggi, sebagai contoh adalah blanko resep di bawah (Brander et al., 1982):

 

      Telephone (215) 555-2474

                            John V. Smith DVM

                            Paula A. Doe, DVM

      ——————————————————————–

                                                            Date

                                                            No. resep….

 

 

                  R/ 

 

 

 

 

             Dr……………………     Dr…………………

              Do not substitute           Substitution

                                                     Permissible

                                                    Qualification:….

            Client’s name

              Description subject (weight, sex)

             And address

            

 

  1. Non-Repet

             Instruction

             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Responsibility (bertanggungjawab)

Dokter dalam penulisa resep harus memegang prinsip keamanan yaitu (1) aman dari penimbul penyaki karena obat, (2) residu obat hewan, (3) pencemaran lingkungan.  Dengan demikian tindakan monitoring terapi obat harus terus-menerus dilakukan.  Di Inggris masalah monitoring obat pada manusia tetap dilakukan oleh dokter praktek dan di bawah ini adalah contoh formulir yang harus selalu diisi oleh dokter praktek di Inggris :

 

 In confidence-Committee on safety of medicine    (For advice on reporting reactions see)

Report on suspected adverse drug reaction     Adverse Reactions to Drugs section of BNF

 

 Name of patient

 Date of birth/age :  …………………… sex………………. Weight (kg)

 ——————————————————————————————————————–

 Suspect drug (brand name if known)………….Route …………..daily dose……………..

 Date started ……………..Date stopped……………….Indication………………………….

 

Suspect reaction                                                      Reporting Doctor (block letters)

……………………………………………………..       Name :…………………………

                                                                                 Address ………………………..

Date of onset …………  date stoped……………      ………………………………….

 

  1. Speciality

                                                                                 Signature         date

 

———————————————————————————————————————-

Other drugs :                 Route          Daily dose     date started   date stopped   Indication

 

 

 

Additional notes ……………………………………………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.      Non-descriminative

Penulis resep tidak diizinkan untuk mengarahkan apotik atau depo hewan mana yang seharusnya dituju, sehingga penebus resep memiliki kebebasan untuk memilih tempat penjualan obat. 

  1. Abused

Penulis resep tidak boleh menyalahgunakan seperti jual beli obat dan alkeswan atau penggunaan untuk pengobatan pada manusia, dsb. Contoh konkrit adalah :

R/  Spuit disposible 3 ml no XX

    

      S d.c form

             #

  1. Missused

Dokter hewan dilarang untuk menggunakan blanko resep tidak pada tempatnya

  1. Politnes

Dokter hewan penulis resep harus menuliskan dalam huruf-huruf yang dapat terbaca, serta menggunakan tinta gelap atau biru, dan harus selalu mengingatkan client agar menjaga keutuhan resep.  Dokter hewan harus mampu melafalkan nama-nama obat serta kepanjangan singkatan latin dengan aksen yang benar. Hal tersebut amat dibutuhkan manakala fihak pelayan obat menghubungi via telphon dan pada saat itu harus segera diputuskan (ingat Apoteker daat menuliskan resep di Apograph, sebagai kopi resep).  Bila tak mampu melafalkan nma obat besetya aksennya (termasuk bahasa latin) dikhawatirkan terjadi kesalahan disaat mengeja.

8.      Wisdom

Dokter hewan dalam menuliska resep tidak boleh menyulitkan pembeli obat dengan menuliskan nama-nama obat yang sulit didapat, sehingga resep dengan tidak dapat ditebus dengan cepat.

9.      Coaching

Dokter hewan dalam menuliskan resep, harus mampu melakukan edukasi terhadap pemilik hewan.

Kesimpulan

Penggunaan obat hewan pada dasarnya mengikuti prinsip logis dan bertanggungjawab dengan mengikuti falsafah ”Maximum Asclepiades” yaitu curare, cito, tuto et jucunde.  Manifestasi implikasi klinik yang legitimasi pada penggunaan obat hewan adalah yang termasuk dalam standard oprasional procedure sekaligus manifestasi dari ptinsip logico-verificatio. Tindakan empirik penggunaan obat yang belum diketahui secara ilmu pengetahuan (temuan empirik yang belum diverifikasi) dapat dilakukan monitoring terapi sebagai manifestasi tanggungjawab dokter hewan. Agar terhindarkan dalam masalah (1) ketidak percayaan, (2) tuntutan perdata dan pidana bagi dokter hewan dalam menggunakan obat hewan melalui penulisan resep, seyogyanya menerapkan etika jasa pelayanankedokteran hewan dan etika penulisan resep.

 

 

 

Daftar pustaka

 

Brander GC, Pugh DM and RJ Bywater, 1982. Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics. 4th Ed. London : Bailliere Tyndall.

 

British National Formulary, 1989. Great Britain : British Medical Asociation and Royal Pharmaceutical Society.

 

DiGregorio GJ and EJ Barbieri, 1995. Handbook of commonly prescribed drugs. 10th ed. USA : Medical Surveillance Inc., 237-245.

 

Gennaro AReds, 1995. Remington : Practice of Pharmacy. Vol II. 19th ed. USA : The Phyladelphia Collage of Pharmacy Science.1808-1821.

 

Jacobalis S, 2006a. Sumpah Dokter. Ebers Papyrus 12 (2) : 69-75

 

Jacobalis S, 2006b. Etika medis kontemporer. 12 (1) : 9-14.

 

Lazuardi M, 1996. Berlatih menulis resep dengan benar : Serial diktat Ilmu Farmasi-Veteriner. Surabaya : Fakultas Kedokteran Hewan Univ. Airlangga.

 

Lazuardi M, 2005. Pharmacokinetic of Suramin in Healthy Ongole Cattle Breed and Madura Cattle Breed. J. Veterinary Sci., 23 (2): 102-106.

 

Lazuardi M, 2007. Panduan dan Kontrak Perkuliahan PPDH Ilmu Terapetika Veteriner. Surabaya : Fakultas Kedokteran Hewan Univ. Airlangga.

 

Milks HJ and A Zeissig, 1947. Practical Veterinary Pharmacology, materia Medica and Therapeutics. 6th Ed. London: Bailliere Tindall and Co.

 

Roostantia I, 2007. Etika obat dan pengobatan dalam penulisan resep : Dalam Proceeding Seminar Ilmiah Nasional Drug Treatment : Designing, Prescribing and Monitoring 21 Juli 2007. Surabaya : BPP Perhimpunan Farmasi-Kedokteran Indonesia dan Departemen Farmasi-Kedokteran FK UNAIR.

 

Spinelli JS and LR Enos, 1978. Drugs in Veterinary Practice. USA: The CV Mosby Company. 335-337


Training in Indonesia Quarantine Employe:

BIOSECURITY ATAU BIOSAFETY  LEVEL (BSL): APA DAN BAGAIMANA OPERASIONAL TEKNIS YANG HARUS DIPERSIAPKAN ?

 

Oleh : Dr. Mochamad Lazuardi, Drh., MSi

Peneliti Virus Foot Mouth Diseases, Sel kanker dan Tripanosoma spesies

Ketua Presidium Badan Kerjasama Farmasi-Veteriner se Indonesia

 Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR

 

Pendahuluan

Biosecurity dan biosafety, dalam terminology biohazardous memiliki makna yang saling berhubungan namun tidak identik.  Biosecurity memiliki tujuan yaitu ”to prevent loss, theft or misuse of microorganisms,
biological materials, and research-related information”.
Dengan demikian biosecurity muncul akibat penyelewengan-penyelewengan diantaranya karena keterbatasan akses terhadap suatu fasilitas yang memadai, termasuk keterbatasan memperoleh material penelitian maupun sumber informasi 1,2,3.

Biosafety merupakan program untuk “reduce or eliminate exposure of individuals and the environment to potentially hazardous biological agents. Dengan demikian biosafety banyak mengimplementasikan masalah aneka kontrol laboratorium, kontrol muatan unsur hazardous termasuk disain laboratorium, retriksi akses ataupun pembatasan lain. Demikian pula masalah kehandalan personal dan masalah pendidikan dan pelatihan termasuk kehandalan penanganan tampungan bahan-bahan hazardous dan penggunaan peralatan.  Hal yang selalu termasuk dalam biosafety adalah masalah penetapan metode aman untuk mengontrol bahan-bahan infeksi termasuk setting laboratorium. 1,2,3  Namun demikian dalam praktek lapangan, diketahui bahwa antara biosecurity dan biosefety bersifat komplementer Lebih lanjut mengenai  biosecurity dan biosafety dapat dilihat pada Tabel 1.

 

 

 

 

 

Tabel 1. Perbedaan Biosecurity dan Biosafety4

No

Biosecurity

Biosafety

1.

Mencegah dan mengamankan material patogen dan toksin termasuk catatan informasi terhadap kemungkinan pencurian, penyalahgunaan

 

Ukuran tindakan pencegahan terhadap penurunan resiko biologik

 

2.

Merupakan institusi dengan kebiasaan selalu mengkedepankan tanggungjawab sesuai tingkat pengamanan mengenai akses terbatas agen patogen, toksin berbahaya yang dapat dihaki oleh individual Menurunkan atau mengeliminasi paparan pekerja lab atau orang lain dan lingkungan luar yang berpotensi terpapar agen berbahaya dalam suatu kerja biosains atau riset biomedik.

 

3.

Menetapkan akuntabilitas berlebihan terhadap material didasarkan penilaian resiko keamanannya Terkait kehandalan dan tanggungjawab pekerja dalam menangani, menggunakan dan mentransfer material patogen berbahaya dan toksin sesuai tingkat kemampuan penahanan  laboratorium

 

4.

Mendorong kinerja program biosafety Pemilihan keamanan metode dalam mengatur material infeksi pada suatu laboratorium yang telah dirancang didasarkan penilaian resiko keamanan

 

 

 

BSL pada prinsipnya terkait aspek-aspek (1) penilaian management bioresiko,  (2) personal management, (3) material transport protokol, (4) pengamanan semua element-elemen fisik (termasuk prasarana dan sarana kerja), (5) emergency planning dan (6) program kerja.

Dengan demikian  komponen  biosasecurity  adalah sebagai berikut : (a) Physical security, (b) Personnel security , (c) Material control & accountability, (d) Transport security, (e) Information security, (e) Program management. Adapun  biosafety menyangkut hal-hal seperti  (a) biological safety cabinet, (b) protective clothing, (c) biohazard kits, (d) clean room HVAC air system, (e) isolators, (f) biological waste disposal  atau  (g) containment products.

Dalam perkembangan lebih lanjut Badan Kesehatan Dunia  bersama-sama  lembaga terkait (Tabel 2a), memilah konsep BSL yang disesuaikan bioresiko management dengan empat tingkatan (BSL-1, BSL-2, BSL-3 dan BSL-4).

 

Tabel 2a. Lembaga privat yang sering berinteraksi dengan masalah BSL

No

Nama-nama lembaga

Peranan

1 American Biological Safety Association (ABSA)  Membuat protokol dan hubungan internasional
2 European Biosafety Association (EBSA) Pemapar Biosafety dan Biosecurity
3 Netherlands Standardization Institute (NEN) Membuat projek-projek management, termasuk sekretariat standardisasi dan perancangan standardisasi
4 International Centre for Infectious Diseases (ICID) Melakukan coordinator kerjasama dan stakeholder management services
5 European Committee for Standardization (CEN) Melakukan pelatihan dan kegiatan kerjasama

 

Empat tingkatan tersebut pada dasarnya merupakan keterkaitan antara biosecurity dan biosafety seperti dipolakan oleh Badan Kesehatan Dunia (Gambar 1).

Visi integrated biorisk management :

  1. Increased focus on “awarness” to change current culture
  2. Clarity terminology
  3. Development  of targeted training strategy
  4. Securing “commitment” from key stakeholder, including government, officials, who must be on board
  5. Continue increasing ”capacity” base on regional country needs establish accountability through development of country “report cards”
Working safety

Biosafety

 

Biosecurity

Integrated biorisk management

Keeping the work secure

Biorisk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Gambar 1. Pola keterkaitan biosecurity dan biosafety versi Badan Kesehatan Dunia dalam menangani tatalaksana biorisk5

 

Tingkatan dan Biosafety Level (BSL)

 

Diketahui bahwa terdapat empat tingkatan BSL dengan tingkat tatalaksana masing-masing berbeda-beda (Tabel 2b). Masing-masing tingkatan tersebut melakukan kerja yang disesuaikan dengan birisk serta kapasitas rancangbangun prasarana (Tabel 3).  Dengan meruntut Tabel 2b dan Tabel 3, maka dapat disimpulkan bahwa biorisk yang akan diamanahkanpun berbeda-beda.  Namun setiap biorisk yang akan diamanahkan dalam setiap tingkatan sedikit banyak tergantung ”KETENTUAN NEGARA MASING-MASING”.  Sebagai contoh Human trypanosoma species seperti beberapa   negara di wilayah Afrika dianggap belum merupakan prioritas, namun di negara-negara yang tergabung dalam Tabel 2a, merupakan persoalan utama.  

  

Tabel 3. Tingkatan BSL dan Tatalaksana Kerja

No

Tingkatan BSL

Tatalaksana kerja

1

BSL-1

-    Cocok untuk kerja bagi agen biorisk TIDAK DIKETAHUI yang mampu menyebabkan penyakit dalam kesehatan manusia dewasa, minimal berpotensi membahayakan personal lab dan lingkungan.

-    Lab tidak harus dipisahkan dari aktivitas umum gedung (Gambar 2)

-    Kerja umumnya dalam kotak terbuka namun memiliki standard praktek mikrobiologi

-    Perangkat dan fasilitas lab sepeti umumnya lab-lab mikrobiologi

-    Personal lab, harus dilakukan training terkait dengan prosedur kerja dan disuperfisi oleh seorang ilmuwan yang memiliki latar belakang mikrobiolog dan ilmu-ilmu yang berhubungan

2

BSL-2

-       Sama dengan BSL-1 dan cocok untuk kerja dengan agen-agen yang tergolong ”moderate potential hazard” terhadap personal lab. dan lingkungan.

-       Perbedaan dengan BSL-1 adalah :

  1. Personal lab dilatih dengan kompetensi spesifik dalam menangani agen patogen yang langsung dibimbing oleh ahlinya
  2. Akses  pada lab dibatasi sewaktu dalam suasana bekerja (Gambar 3)
  3. Ekstra Hati-hati dalam menangani item-item  kontaminan yang terinci
  4. Memiliki prosedur terkemuka dalam menangani infeksi yang mampu disebarkan secara aerosol atau dilakukan dalam biosafety cabinet atau perangkat lain yang mampu menjaga kontaminant

3

BSL-3

-          Aplikatif untuk klinik, diagnostik, melatih, penelitian atau sebagai fasilitas produksi untuk agen-agen tergolong ”indigenous” (asli di wilayah itu) atau ”exotic agent” (penyakit langka) yang mana menyebabkan serius atau penyakit berpotensi kematian akibat hasil paparan melalui rute inhalasi.

-          Personal lab memiliki kemampuan hasil pelatihan spesifik dalam menangani agen patogenik dan agen berpotensi mematikan dan diawasi oleh ahlinya yang mana memiliki pengalaman kerja terhadap agen tersebut

-          Semua prosedur kerja yang melakukan manipulasi terhaap agent tersebut dilakukan dalam ”biological safety cabinet” atau perangkat yang secara fisik mengamankan agen-agen tersebut atau dengan perangkat dan baju yang mampu memproteksi person lab

-          Lab. Memiliki rancangbangun khusus (Gambar 4)

 

 

BSL-4

-          Ditetapkan untuk kerja agen berbahaya dan “exotic” yang memiliki risiko penularan individual “aerosol-transmited laboratory infection” dan agen-agen yang mampu bertahan lama meskipun sudah dibunuh.

-          Untuk agen dengan tingkat antigenik yang tingggi atau derivat-derivatnya

-          Untuk antigen  berbahaya yang membutuhkan kepastian identitas

-          Anggota lab mendapatkan pelatihan cukup yang menangani ”extreme hazardous infection agents” dan mereka mengerti cara-cara penanganan secara primer, sekundair (temasuk cara penanganan kontaminan perangkat lab.)

-          Lab memiliki disain tersendiri

-          Mendapat pelatihan langsung dari ahlinya yang sering menangani agen-agen penyakit khusus

-          Akses ke lab sangat amat terbatas dan dikontrol langsung oleh pimpinan pusat lab.

-          Fasilitas terpisah dengan aktivitas gedung administrasi atau dalam fasilitas terkontrol secara khusus

-          Fasilitas kerja terisolasi satu dengan lainnya

-          Perangkat kerja dilakukan amat tertutup dan dalam safety cabinet klas III

-          Atau seandainya menggunakan safety cabinet klas II, pakaian personal harus dalam tekanan udara rendah

-          Ruang gedung dan fasilitas memiliki rancangan dimana mikroorganisma tak akan mampu mencemari ruang kerja atau lingkungan.

 

Lebih lanjut keterkaitan antara BSL dengan tatalaksana kerja terkait pula dengan fasilitas yang ada serta analog prasyarat mikrobiologi tampak pada Tabel 4.

Prasyarat mutlak yang harus dimiliki semua BSL adalah pengetahuan dasar mengenai : (1) isolasi identifikasi virus, (2) isolasi identifikasi kuman, (3) isolasi identifikasi jamur, (4) isolasi dan identifikasi parasit, (5) isolasi identifikasi matrik asam inti baik belum transgenik maupun telah mengalami transgenik.  Oleh sbab itu pengetahuan umum Good Micribiology Practice dan Good Laboratory Practice serta Good manufacturing practice untuk obat-obatan golongan farmasetik mutlak dikuasai. Hal lain yang perlu dikuasai adalah pengggunaan analisa immunoassay dan analisis fisikokimia, harus dikuasai.

5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   Tabel 4. Keterkaitan antara BSL dengan tipe lab dan minimum requirement5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Ruang BSL-1. 5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Ruang BSL-2.5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Ruang BSL-3.5

 

Biorisk dan klasifikasi agen dalam BSL

Dalam suatu kriteria managemen biorisk lembaga-lembaga seperti pada Tabel 2a, serta Badan Kesehatan Dunia Memberikan lima tahapan arahan pengelolaan1,5.

  1. Mengidentitaskan dan memprorioritaskan agen biologik dan atau toksin
  1. Indentifikasi material biologik yang keluar pada institusi, berupa bentuk material, lokasi asal dan jumlah termasuk material-material yang tak perlu dilakukan sampling ulang (toksin-toksin dsb).
  2. Mengevaluasi potensi penggunasalahan terhadap material biologik tersebut
  3. Mengevaluasi konsekuensi penggunasalahan terhadap material biologik
  4. Memprioritaskan penanganan material biologi berdasarkan konsekuensi penggunasalahan (misal terhadap biomaterial yang dapat digunakan untuk tujuan mencelakakan).

n.b :

Pada poin ini, suatu institusi mungkin menemukan cara-cara baru yang dapat diimplementasikan mengenai program pemisahan/pengendalian  biosecurity atau pengendalian terhadap biomaterial termasuk catatan fasilitas-fasilitas yang mungkin harus dilengkapi.  Semua itu untuk penyempurnaan kerja

 

  1. Mengidentitaskan dan memprioritaskan perlawanan atau pembrantasan agen biologik atau toksin.
  1. Mengidentifikasikan tipe keahlian personal lab (‘Insiders”) yang mungkin mampu men”treatment” material biologis tersebut.
  2. Mengidentifikasikan tipe keahlian orang-orang diluar personal lab ”outsiders” (bila ada) yang mungkin mampu men ”treatment” material biologik yang ada pada institusi.
  3. Mengevaluasi motif, maksud dan kesempatan terhadap kemungkinan potensi pengguna-pengguna lain yang berposisi sebagai musuh 

 

  1. Menganalisa resiko terhadap skenario pengamanan spesifik
  1. Mengembangkan kemungkinan daftar scenario biosecurity atau kejadian-kejadian yang tak diinginkan yang dapat terjadi di institusi (tiap scenario dikaitkan dengan kombinasi agen biomaterial, serta pengguna-pengguna termasuk “an adversary”, termasuk aksi penanganan).

Konsideran :

-          Akses terhadap agen biohazard selama dalam lab

-          Bagaimana mencegah hal-hal yang tidak diinginkan bila benar-benar terjadi

-          Ukuran-ukran proteksi terhadap suatu tempat/wilayah untuk mencegah kejadian

-          Bagaimana menetapkan pengukuran proteksi memuaskan yang dapat dipecahkan (sebagai contoh untuk wilayah yang termasuk  ketidakkebalan).

 

  1. Mengevaluasi kemungkinan tiap skenario penanganan terkait dengan jenis material  dan berhubungan dengan konsekuensi tindakan, dengan asumsi-asumsi sebagai berikut  :
    1. Meskipun daerah sebar luas tetap dapat dilakukan tretment (termasuk agen bio material diluar daftar yang diketahui)
    2. Setiap agen biomaterial tidak sama karakterisasinya
    3. Dilakukan tindakan treatment tepat dan  terpercaya
    4. Penanganan dilakukan tindakan pemilahan secera selektif sesuai karakter biomaterial.

 

  1. Memprioritaskan ranking skenario penangan sesuai tingkat bahaya dan semuanya akan dilakukan review management penanganan

 

  1. Merancang dan mengembangkan secara keseluruhan program management resiko
    1. Tetap teguh terhadap pengelolaan seperti : kemungkinan kealpaan, implementasi penanganan, pelatihan, tetap mengadakan program-program biosecurity
    2. Mengembangkan statement program management resiko, mendokumentasikan baik yang telah diaplikasikan maupun yang gagal sewaktu menjalankan kontrol proteksi yang baik
    3. Mengembangkan perencanaan program biosecurity dan menguraikan tatacara suatu institusi menangani permasalah biomaterial termasuk mengurangi dan meredakan resiko yang tak diinginkan 

-          Menuliskan rencana pengamanan, standard operasional prosedur,perencanaan respon insiden (contoh menggunakan analisa SWOT)

-          Menuliskan protokol untuk pelatihan pegawai tentang potensial hazard, program biosecurity dan perencanaan respon insiden.

  1. d. Melakukan managemen sumber-sumber penyumbang kemunculan   biohazard yang telah dikenal/terdokumentasikan

 

  1. Mengatur dan mengevaluasi secara teratur aktivitas  institusi yang mengelola biomaterial berbahaya dan melakukan langkah-langkah protektif :
  1. Melakukan managemen re-evaluasi secara teratur dan membuat modifikasi seperlunya terkait :

-          Statment resiko biosecurity

-          Penilaian proses resiko biosekurity

-          Program/perencanaan biosecurity yang telah direncanakan oleh institusi

-          Sistem biosecuriy yang telah diatur oleh institusi

 

  1. Managemen implementasi keseharian dan pelatihan serta re-evaluasi tahunan program-program biosecurity

 

Beberapa kriteria penanganan agen berbahaya telah di kelompokan berdasarkan grup beresiko  untuk manusia ataupun berdasarkan hal lain seperti tampak pada Tabel 5 di bawah.  Namun demikian terdapat 3 penggolongan besar yaitu : 1. Agen berbahaya untuk tanaman, Agen berbahaya untuk hewan dan 3. Agen berbahaya untuk manusia.

Agen berbahaya untuk tanaman terbagi menjadi tiga lagi yaitu (a) agen berbahaya untuk tanaman dan buah-buahan namun masih belum transgenik dan tak berbahaya untuk lingkungan, hewan dan manusia (b) agen berbahaya untuk tanaman namun berbahaya untuk lingkungan, hewan dan manusia, (c) agen transgenic.

Agen berbahaya untuk hewan termasuk dalam kelompok biohazard yaitu : Kelompok Parasit, Bakteri, Virs dan jamur serta antara bakteri dan jamur (seperti Psitacosis).  Agen berbahaya untuk manusia pada dasarnya hamper sama dengan manusia namun ada tambahan yaitu :

  1. Unsur- asam inti yang tak hidup dalam sel eukaryot maupun prokaryot (contoh asam-asam amino suatu agen berbahaya).
  2. Unsur-unsur asam amino yang dihidupkan dalam sel eukaryot seperti dalam sel :

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 5.  Kriteria penanganan agent berbahaya berdasarkan resiko

 

Dasar pembagian

Kelompok

bahan

Kriteria

Keterangan

 

 

BERDASARKAN RESIKO

 

Resiko grup I Agen yang tak berhubungan dengan penyakit dalam bidang kesehatan manusia dewasa Escherichia coli,   Bacillus subtilis or Bacillus licheniformis    Adeno-associated virus types 1 – 4
Resiko grup II Agen berhubungan dengan penyakit manusia yang mana jarang ditemukan dan sangat serius serta tindakan pencegahan ataupun intervensi pengobatan dapat  dan  sering dilakukan Borrelia burgdorferi

Escherichia coli

 all enteropathogenic, enterotoxigenic,

  1. enteroinvasive and strains bearing K1  antigen    Mycobacterium (except those listed in Risk Group 3) including M. avium complex    Staphylococcus aureus    Leishmania including L. major and L. mexicana    Toxoplasma including T. gondii    Adenoviruses, human – all types    Eastern and western equine encephalomyelitis virus    Yellow fever virus vaccine strain 17D    Rabies virus – all strains
Resiko grup III Agen yang berhubungan dengan serius atau penyakit-penyakit yang menyebabkan kematian manusia dimana tindakan pencegahan serta intervensi pengobatan mungkin harus selalu dilakukan (penyakit yang mampu menularkan individual dengan resiko tinggi tetapi dalam komunitas masyarakat memiliki resiko kecil) Brucella including B. abortus, B. canis, B. suis 

Mycobacterium bovis (except BCG strain)    Mycobaterium tuberculosis    Rickettsia species    Yersinia pestis    Histoplasma capsulatum    Venezuelan equine encephalomyelitis virus (except vaccine strain TC-83 – RG2)    Japanese encephalitis virus    Human immunodeficiency virus (HIV) types 1 and 2

Resiko grup IV Agen yang dapat menyebabkan kasus serius atau penyakit yang dapat mematikan manusia dimana tindakan pencegahan serta intervensi pengobatan mungkin harus selalu dilakukan (penyakit yang mampu menularkan individual dengan resiko tinggi namun  dalam komunitas masyarakat juga memiliki resiko tinggi) Lassa virus 

Crimean-Congo hemorrhagic fever virus 

Ebola virus 

Herpesvirus simiae (Herpes B or Monkey B virus) 

Hemorrhagic fever agents and viruses as yet undefined

Agent eiologi virus asal hewan yang sering ditemukan

Umum

Daftar  lanjutan agen etiologi asal hewan yang dapat menjadi daftar agen  etiologi pada kasus manusia. Namun yang dapat mengakibatkan kefatalan pada manusia dewasa dan sering digunakan pada lab eksperimental. Namun beberapa tak langsung menginfeksi sel manusia dan dimasukkan dalam Grup resiko I.  Sedangkan yang dapat menginfeksi sel manusia dimasukkandalam Grup Resiko II.

 

Baculoviruses    Herpesviruses (H. ateles, H. saimiri, Marek’s disease virus, murine

cytomegalovirus)    Papovaviruses (bovine papilloma virus, Polyoma virus, Simian virus 40)    Retroviruses (Avian leukosis virus, bovine leukemia virus, Feline leukemia virus,

Feline sarcoma virus, Gibbon ape leukemia virus, Mason-Pfizer monkey virus,

Murine leukemia virus, Murine sarcoma virus)

Vektor virus

Umum

Yang digunakan untuk transfer genetic eksperimental (kurang dari 10 liter), mengandung kurang dari 50% kandungan diri virus l(viral genom ) dan dapat didemonstrasikan bebas melakukan replikasi sebagai retrovirus, ditangani dalam kriteria BS-1 Murine retroviral vektor

 

  1. Jaringan dalam tubuh hewan dimaksudkan adalah  “animal dander”, plant viruses, bacteria, fungi dan toxins (bacterial, plant, dsb.).

Beberapa agent biohazard tanaman yang tergolong masuk dalam kelompok BSL-3 dan BSL-4 adalah :

  1. Peronosclerosphora sacchari
  2. Phytophthora kernoviae.
  3. Plum pox virus
  4. Xylella fastidiosa (menyebabkan Pierce’s diseases)
  5. Cucumber Mosaic Virus
  6. Ringspot Virus pada papaya melalui kuman Agrrobacterium
  7. Ringspot virus (Coat Protein) pada papaya
  8. Tobacco mosaic virus pada tembakau
  9. Potato leaf roll virus pada kentang

10. Zucchini mosaic yellow virus pada melon

11. Tomato spot wilt virus pada tomat

12. Rice strip virus pada padi

13. Alfalfa mosaic virus

14. Virus pada jeruk

 Agen tanaman pathogen :

  • Candidatus Liberobacter africanus
  • Candidatus Liberobacter asiaticus
  • Peronosclerospora philippinensis
  • Ralstonia solanacearum race 3, biovar 2
  • Schlerophthora rayssiae var zeae
  • Synchytrium endobioticum
  • Xanthomonas oryzae pv. oryzicola
  • Xylella fastidiosa (citrus variegated chlorosis strain)

 Lebih lanjut katagori biohazard dapat dilihat pada keterangan di bawah dimana dimasukkan dalam pengerjaan BSL-3 dan 4  seperti kelompok  di bawah :

No Kelompok BSL Klasifikasi Biohazard
1. BSL-3 KLAS-2
2. BSL-3-4 KLAS-3 sampai KLAS 5

Katagori umum :

  • Bakteri
    • a) Bakteri patogen
    • b) Bakteri yang resisten terhadap obat-obat plasmid 
  • Fungi
  • Virus
    • a) Oncogenic viruses
    • b) Virus hewan lain
  • Rickettsiae
  • Chlamydiae
  • Parasites
  • Recombinant DNA dan produk derivatnya  
  • Semua spesimen klinik (jaringan, eksudat dsb)

Klasifikasi agen biohazard didasarkan pada tingkat bahaya.6

Agen klas 1

  • Semua bakteri, parasit, fungal, viral, rickettsial, dan chlamydial dan agen penyakit yang tidak termasuk dalam klas tinggi kelompok 1.

Agen klas 2

·         Agen bakterial klas 2

  •  
    • Acinetobacter calcoaceticus
    • Actinobacillus-all species
    • Aeromonas hydrophila
    • Amycolata autotrophica
    • Arizona hinshawii-all serotypes
    • Bacillus anthracis
    • Bordetella-all species
    • Borrelia recurrentis, B. vincenti
    • Campylobacter fetus
    • Campylobacter jejuni
    • Chlamydia psittaci
    • Chlamydia trachomatis
    • Clostridium botulinum, Cl. chauvoei, Cl. haemolyticum, Cl. histolyticum, Cl. novyi, Cl. septicum, Cl. tetani
    • Corynebacterium diphtheriae, C. equi, C. haemolyticum, C. pseudotuberculosis, C. pyogenes, C. renale
    • Dermatophilus congolensis
    • Edwardsiella tarda
    • Erysipelothrix insidiosa
    • Escherichia coli-all enteropathogenic, enterotoxigenic, enteroinvasive and strains bearing K1 antigen
    • Haemophilus ducreyi, H. influenzae
    • Klebsiella-all species except oxytoca
    • Legionella pneumophila
    • Leptospira interrogans-all serotypes
    • Listeria-all species
    • Moraxella-all species
    • Mycobacteria-all species except those listed in Class 3
    • Mycobacterium avium
    • Mycoplasma-all species except Mycoplasma mycoides and Mycoplasma agalactiae, which are in Class 5
    • Neisseria gonorrhoea, N. meningitides
    • Nocardia asteroides, N. brasiliensis, N. otitidiscaviarum, N. transvalensis
    • Pasteurella-all species except those listed in Class 3
    • Rhodococcus equi
    • Salmonella-all species and all serotypes
    • Shigella-all species and all serotypes
    • Sphaerophorus necrophorus
    • Staphylococcus aureus
    • Streptobacillus moniliformis
    • Streptococcus pneumoniae, S. pyogenes
    • Treponema carateum, T. pallidum, and T. pertenue
    • Vibrio cholerae, V. parahemolyticus
    • Yersinia enterocolitica

 

·         Agen fungi klas 2

  •  
    • Blastomyces dermatitidis
    • Cryptococcus neoformans
    • Paracoccidioides braziliensis

 

·         Agen parasit klas 2

  •  
    • Endamoeba histolytica
    • Leishmania sp.
    • Naegleria gruberi
    • Schistosoma mansoni
    • Toxocara canis
    • Toxoplasma gondii
    • Trichinella spiralis
    • Trypanosoma cruzi

 

·         Agen klas 2  Viral, Rickettsial, dan Chlamydial spesies

  •  
    • Adenoviruses-human-all types
    • Cache Valley virus
    • Coronaviruses
    • Coxsackie A and B viruses
    • Cytomegaloviruses
    • Echoviruses-all types
    • Encephalomyocarditis virus (EMC)
    • Flanders virus
    • Hart Park virus
    • Hepatitis viruses-associated antigen material
    • Herpesviruses-except Herpesvirus simiae (Monkey B virus) dengan yang termasuk dalam klas 4
    • Influenza viruses-semua tipe kecuali  A/PR8/34, dengan yang termasuk dalam klas 1
    • Langat virus
    • Lymphogranuloma venereum agent
    • Measles virus
    • Mumps virus
    • Parainfluenza virus-all types except Parainfluenza virus 3, SF4 strain, which is in Class 1
    • Polioviruses –semua tipe lapangan dan yang telah atenuasi
    • Poxviruses-semua tipe kecuali Alastrim, Smallpox, dan Whitepox yang mana merupakan klas 5 dan Monkey pox yang mana tergantung penelitiandalam klas 3 atau klas 4.
    • Rabies virus-semua strain terkecuali Rabies street virus yang mana selalu diklasifikasikan klas 3
    • Reoviruses-semua tipe
    • Respiratory syncytial virus
    • Rhinoviruses-semua tipe  
    • Rubella virus
    • Simian viruses-semua tipe kecuali  Herpesvirus simiae (Monkey B virus) dan  Marburg virus yang diklasifikasikan klas 4
    • Sindbis virus
    • Tensaw virus
    • Turlock virus
    • Vaccinia virus
    • Varicella virus
    • Vesicular stomatitis virus
    • Vole rickettsia
    • Yellow fever virus, 17D vaccine strain

 

·         Klas 2  Oncogenic Viruses

Low-Risk Oncogenic Viruses

  •  
    • Adenovirus 7-Simian virus 40 (Ad7-SV40)
    • Adenovirus
    • Avian leukosis virus
    • Bovine leukemia virus
    • Bovine papilloma virus
    • Chick-embryo-lethal orphan (CELO) virus atau  fowl adenovirus 1
    • Dog sarcoma virus
    • Guinea pig herpes virus
    • Lucke (Frog) virus
    • Hamster leukemia virus
    • Marek’s disease virus
    • Mason-Pfizer monkey virus
    • Mouse mammary tumor virus
    • Murine leukemia virus
    • Murine sarcoma virus
    • Polyoma virus
    • Rat leukemia virus
    • Rous sarcoma virus
    • Shope fibroma virus
    • Shope papilloma virus
    • Simian virus 40 (SV-40)

Moderate-Risk Oncogenic Viruses

  •  
    • Adenovirus 2-Simian virus 40 (Ad2-SV40)
    • Epstein-Barr virus (EBV)
    • Feline leukemia virus (FeLV)
    • Feline sarcoma virus (FeSV)
    • Gibbon leukemia virus (GaLV)
    • Herpesvirus (HV) ateles
    • Herpesvirus (HV) saimiri
    • Simian sarcoma virus (SSV)-1
    • Yaba

Agen klas 3  

·         Agen bacterial klas 3

  •  
    • Bartonella-semua spesies
    • Brucella-semua spesies
    • Francisella tularensis
    • Mycobacterium bovis, M. tuberculosis
    • Pasteurella multocide type B – “buffalo” dan virulent strains yang lain
    • Pseudomonas mallei
    • Pseudomonas pseudomallei
    • Yersinia pestis

 

·         Agen fungi klas 3

  •  
    • Coccidioides immitis
    • Histoplasma capsulatum
    • Histoplasma capsulatum var. duboisii

 

·         Klas 3 Viral, Rickettsial, and Chlamydial Agents

  •  
    • Monkey pox virus-sewaktu digunakan in vitro
    • Arboviruses-semua strain kecuali klas 2 dan 4 (Arboviruses dimiliki di Amerika dan dikatagorikan klas 3 kecuali yang di daftar di klas 2. West Nile and Semliki Forest viruses dapat diklasifikasika ke atas atau ke bawah tergantung kondisi penggunaan dan geografi lokasi lab).
    • Dengue virus-sewaktu di tularkan ke hewan saat eksperimental
    • Lymphocytic choriomeningitis virus (LCM)
    • Rickettsia-all species kecuali Vole rickettsia sewaktu ditularkan ke hewan percobaan saat eksperimental
    • Yellow fever virus-wild, sewaktu digunakan in vitro

Agen klas 4

·         Agen klas 4, Rickettsial, dan Chlamydial

  •  
    • Ebola fever virus
    • Monkey pox virus- sewaktu ditularkan ke hewan percobaan saat eksperimental  (lihat Recombinant DNA Guidelines)
    • Hemorrhagic fever agents-including Crimean hemorrhagic fever, (Congo), Junin, dan Machupo viruses, dan yang belum teridentifikasi
    • Herpesvirus simiae (Monkey B virus)
    • Lassa virus
    • Marburg virus
    • Tick-borne encephalitis virus complex-including Russian spring-summer encephalitis, Kyasanur forest disease, Omsk hemorrhagic fever, dan Central European encephalitis viruses
    • Venezuelan equine encephalitis virus, epidemic strains- sewaktu ditularkan ke hewan percobaan saat eksperimental  
    • Yellow fever virus-wild- sewaktu ditularkan ke hewan percobaan saat eksperimental  

Agen klas 5 (lihat Recombinant DNA Guidelines)

Penyakit hewan yang tidak boleh masuk ke Indonesia

  • Foot and mouth disease virus

 

Penyakit hewan yang tak boleh masuk di daerah bebas penyakit seperti di bawah :

  • African horse sickness virus
  • African swine fever virus
  • Besnoitia besnoiti
  • Borna disease virus
  • Bovine infectious petechial fever
  • Camel pox virus
  • Ephemeral fever virus
  • Fowl plague virus
  • Goat pox virus
  • Hog cholera virus
  • Louping ill virus
  • Lumpy skin disease virus
  • Mycoplasma mycoides-contagious bovine pleuropneumonia
  • Mycoplasma agalactiae-contagious agalactia of sheep
  • Nairobi sheep disease virus
  • Newcastle disease virus-Asiatic strains
  • Rhinderpest virus
  • Rickettsia ruminatium-heart water
  • Rift valley fever virus
  • Sheep pox virus
  • Swine vesicular disease virus
  • Teschen disease virus
  • Theileria annulata
  • Theileria bovis
  • Theileria hirci
  • Theileria lawrencei
  • Theileria parva-East Coast fever
  • Trypanosoma evansi
  • Trypanosoma vivax-Nagana
  • Vesicular exanthema virus
  • Wesselsbron disease virus
  • Zyonema

Organisme yang tak dikaji di Indonesia kecuali memiliki sarana lab yang memadai (lihat ke Recombinant DNA Guidelines)

  • Alastrim
  • Small pox
  • White pox

 

 

Keamanan perlengkapan dan Fasilitas laboratorium

 

Fasilitas laboratorium harus disesuaikan dengan tingkat biosafety yang telah ditetapkan. Badan Kesehatan Dunia menetapkan minimum requirement yang harus ada pada tingkatan BSL, seperti di bawah (Tabel 6) :5,7  Namun demikian yang lebih penting adalah imunisasi personal lab yang akan melakukan tugas di BSL.  Badan kesehatan dunia telah menetapkan jenis vaksinasi apa saja yang harus diterimakan oleh petugas lab, diantaranya adalah :

  •  
    1. Bacillus anthracis,
    2. Clostridium botulinum,
    3.  Francisella tularensis type A,
    4. Haemophilus influenzae,
    5.  Japanese B encephalitis virus,
    6. Mycobacterium leprae,
    7.  Neisseria meningitidis,
    8. Yersinia pestis,
    9. Hepatitis A virus,
    10.  Influenza virus,
    11.  louping ill virus,
    12.  Rabies
    13. Absettarov virus,
    14.  Hanzalova virus
    15.  Rift Valley fever virus,
    16.  Tick-borne encephalitis viruses,
    17.  Haemorrhagic fever virus
    18.  Varicella-zoster virus,
    19.  Venezuelan equine encephalomyelitis virus,
    20.  Yellow fever virus.
    21.  Vaccinia vaccine direkomendasikan untuk personal yang akan menangani  orthopoxviruse

      Tabel 6. Keamanan perangkat dan fasilitas laboratorium

Tipe BSL

Perangkat

Pengamanan (barier pertama)

Fasilitas

 Laboratorium (barier ke dua)

 

 

BSL-1

Perangkat untuk manualisasi agen seperti biological safety cabinet, cukup menggunakan klas I Lab harus memiliki pintu untuk mengakses ke pusat kontrol
Direkomdasikan mengunakan baju lab untuk mencegah penularan Tiap lab harus memiliki unit cuci tangan
Selalu menggunakan sarung tangan Lab dirancang untuk mudah dibersihkan.  Karpet dan permadani tak harus ada
Direkomendasikan selalu menggunakan kacamata pelindung dalam rangka mengantisipasi penularan agen yang berbahaya Meja lab tak mudah meresap air dan tahan panas, pelarut organik, asam alkalidan desinfektan antiseptik
  Diantara meja, kabinet dsb harus terdapat derah yang digunakan untuk daerah pembatas dan mudah dibersihkan
Bila ruang ingin berhubungan bagian luar maka pintu ruang harus dibuat kasa nyamuk
Lab harus memiliki pintu untuk mengakses ke pusat kontrol
Tiap lab harus memiliki unit cuci tangan
 

BSL-2

Menngunakan safety cabinet klas 2 terutama untuk melakukan sentrifus, grinding, blending, mengocok, sonifikasi bahan berbahaya dalam jumlah besar Ruang tertutup
Menggunakan sarana face protection Lab tak boleh berada di wilayah public area
Pakaian sarung tangan dsb, digunakan dalam ruang tersebut , dan digunakan di luar lab. Tiap unit kerja memiliki wastafel, dan bila membersihkan kaki hingga ke ujung kaki dan rambut
Sarung tangan harus disposible Meja lab tak mudah meresap air dan tahan panas, pelarut organik, asam alkalidan desinfektan antiseptik
  Lab fibersihkan degan alkoholurniture termasuk meja beraala dari stainless still yang dapat d
Biological safety  dapat terletak berjauha  dengan area kerja admnistrasi
Bekerja mengunakan penutup muka
Ruang denga vetilator dan udara tersaring
 

BSL-3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pakaian lab tak digunakan diluar lab dan hanya didalam lab, dan bersifat untuk satu kali kerja Ruang lab harus terpisah dari gedung administras lain
Menggunakan sarung  tangan penutup muka satu kali pakai Dilengkapi pintu yang memiliki pintu penutup aotomatis
Tak harus menggunaka disposible, dapat sarung tangan, serta perlengkapan lain yang dapat dicuci kembali Seluruh interior mertupakan water resistant
Bekerja dalam safet cabinet klas 2 Furniture dari stainlessteel yang mudah dibersihkan dengan alkohol
  Ruang lab menggunakan HEPA filter
Ruang memiliki tekanan negatif
 

BSL-4

 

 

Seluruh pakaian dan penutup muka disposible Lab terpisah dan terisolir
Safety cabinet klas 3 Daun pintu double dan tak terdapat ventilasi dengan sistem penyaring HEPA
Tak dapat bekerja langsung dengan agent penyakit, namun melalui perangkat lab atau dengan penutup dalam safety kabinet klas 3 Dalam lab terdapat perlengkapan UV yang selalu nyla saat lab tak dilakukan kerja
  Lab memiliki tekanan negatif

 

 

Sterilisasi, Antiseptik Desinfektansia

 

Sterilisasi, Antiseptik dan desinfektansia mutlak diperlukan dan semuanya itu bertujuan untuk melakukan tindakan biosecuriti. Dalam sterilisasi, digunakan ruang tersendiri yang dekat dengan fasilitas seperti :

  •  
    1. Washing room
    2. Hot room untuk mengeringkan pasca pembersihan
    3. Steril room untuk unit yang bertugas melakukan kerja steril
    4. Clean room untuk menyimpan perangkat/ peralatan pasca sterilisasi

 

Ruang steril dan pengerjaan sterilisasi sangatlah vital dan umumnya dibutuhkan untuk kerja peralatan yang membutuhkan tingkat sterilisasi tinggi, seperti kultur jaringan hewan dan kultur jaringan tanaman. Disamping itu juga untuk kerja seperti diagnotik mikrobiologi. Di bawah ini adalah gambaran aneka sterilisasi yang dapat digunakan pada ruang steril sebeum masuk dalam rual BSL.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAHAN ANTISEPTIK DAN DISINFEKTANSIA YANG DIGUNAKAN

  1. Acetarsone

(Acetarsonum; 3-Acetamido-4-hydroxybenzene arsonic acid)

 Suatu serbuk  puti kekuningan, tidak berbau dan mengandung tak kurang 98,8% -101,15% C8H10AsNO.  Serbuk acetarsone sedikit larut dalam air dan tak larut dalam alkohol. Namun pada pelarut alkalis hidroksida atau karbonat dapat larut sempurna.

 

  1. Diluted Acetic acid

Suatu solutio asam asetat mengandung tak kurang 5.7 gram s/d 6,3 gram CH3COOH (asam asetat) dalam 100 ml aquadestilata. Suatu lautan stabil dengan kemurnian tinggi dan dapat digunakan sebagai bakterisidal. 

 

  1. Ethanol,

Suatu turunan dari alkohol (ethyl alkohol)  dengan bentuk sedian cair mudah menguap dan mampu besifat sebagai disinfektansi. Kadar 70% dapat bersifat antiseptik baik terhadap protozoa, kuman dan jamur. 

 

  1. Isoprophyl alkohol

Dikenal dengan nama lain 2-propanolol, alcohol isoprophylicum atau isopropanol.  Merupakan larutan mudah menguap dengan rasa menggigit dan bau cukup khas.  Umumnya digunakan sebagai pelarut dan dapat digunakan sebagai antiseptik- disinfektansia. 

 

  1. Phenol

Dikenal dengan nama lain carbolic acid dan mengandung tak kurang dari 99% C6H6O. Phenol  termasuk mudah larut dalam air (gram dalam 15 ml air), sangat larut dalam alkohol, glycerin, chloroform, ether dan minyak yang mudah menguap.  Merupakan kristal tajam tak berwarna hingga keputihan dan harus disimpan dalam wadah tertutup. Sering digunakan sebagai antiseptik – disinfektan pada kadar 0,5-1 % dalam air, dalam unguentum dapat diatur hingga kadar 2%. 

 

  1. Chlorbuthanol.

           Suatu antiseptik disinfektan poten baik untuk mikroorganisme (gram positif atau gram negatif) serta jamur.

 

  1. Phenyl mercury nitrat

Merupakan campuran phenyl mercuri nitrat dengan phenyl mercuri hydrochloride.  Merupakan kristal putih yang akan rusak akibat pengaruh cahaya.  Sangat larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol dan gliserin.  Berkhasiat sebagai antiseptik dan disinfektan terutama kadar 0,002%, dan dapat digunakan untuk anti jamur.

 

  1. Ethylen oxide.

Merupakan senyawa mudah menguap tak berwarna dengan rasa seperti terbakar. Mengandung 96-98% ether dalam alkohol dan air. Sangat mudah terbakar dan sifat menguap dengan campuran udara bersifat mudah meledak. Akan menguap bila dipanaskan pada suhu 35,5 0C.

 

  1. Benzalkonium chloride

Merupakan suatu senyawa aromatik, amorp putih kekuning-kuningan kurang berbau dan berasa sangat menggigit. Sangat larut dalam air, dalam alkohol dan aseton namun tak larut dalam eter. Dapat dibuat solutio dan tidak bersifat iritant pada kulit oleh sebab itu dapat digunakan untuk aplikasi mukosa dan kulit.

 

10. Benzethonium chloride

Merupakan kristal kurang berwarna dan kurang berbau dengan rasa menggigit.  Senyawa ini mudah larut dalam air, alkohol dan chloroform. Bekhasiat sebagai antiseptika dan germicide 1 : 1000 dalam air dan 1 : 500 dalam tinctura. 

 

11. Bithionol

Suatu senyawa dengan nama lain 2,2;-Thiobis(4,6-dichlorophenol) berupa serbuk kristal putih ke abu-abuan dengan bau mirip fenol.  Senyawa ini tak larut dalam air, namun sangat larut dalam aseton, alkohol dan eter.

 

12. Boric acid

Merupakan serbuk putih yang mudah menguap pada pemanasan.  Serbuk tersebut termasuk mudah  larut dalam air dan alkohol  (1 : 18). Sedngkan pada air  panas amat mudah larut  (1:4), dan kelarutan akan dipermudah dengan tambahan asam sitrat dan asam tartarat.

 

 

13. Calcium hydroxide

  1. Calcium hydroxide dalam air terkenal dengan nama Milk of lime dan  berkhasiat sebagai antisepptik disinfektan untuk mikroorganisme patogen.

 

14. Cetylpyridinum chloride.

Suatu monohydrat dari garam quarternary piyridine dan cethyl chlorida. Mengandung tidak kurang dari 99%-1102% C21H38ClN.H2O.  Merupakan bubuk dengan karakteristik warna putih dan berbau.  Titilk leleh senyawa ini antara 77-83 0C dan tak apat disterilisasi menggunakan panas.  Sangat larut dalam air alkohol dan chloroform, namun sedikit larut dalam benzene dan eter.  Cetyl pyridium chloride berkhasiat sebagai antiseptik lokal dan mampu membunuh mikroorganisme dengan klasifikasi sensitif terhadap non-sporulatng bakteri.

 

15. Chlorothymol

Memiliki nama lain sebagai monochlorothymol, dan merupakan senyawa aromatik kristal putih atau serbuk granular dengan karakteristik berbau.  Warna serbuk akan menghilang berubah menjadi kekuningan terkait dengan penyimpanan lama.  Senyawa tersebut cukup diberikan 1 gram untuk dapat larut dalam 0,5 ml alkohol dan 2 ml benzene, 2 ml chloroform1,5 ml ether dan 10 ml pelarut hexane

 

16. Creosote

Dikenal dengan nama Wood creosote, dan merupakan campuran fenol yang didapat dari wood tar. Wood tar diketahui berasal dari beechwood.  Merupakan minyak cair kurang berwarna atau kekungingan, rasa sangat iritant, dan rasa tidak enak. Creosot sedikit larut dalam air tetapi tercampur baik dengan alkohol, ether dan campuran minyak volatil dengan pelarut yang dapat melarutkan cresoto melalui penambahan senyawa bersifat alkali hydroksida . Berkhasiat sebagai disinfektansia dan dapat diplikasikan menggunakan pencelupan kapas.

 

17. Cresol

Dikenal dengan nama Creosylol, atau Trichresol., dan merupakan campuran isomeric cresol yang didapat dari petrolatum.  Cresol mengandung tidak lebih dari 5 % phenol. Suatu cairan kekuningan atau  abu-abu kekuningan.  Satu ml cresol dapat larut dalam 50 ml air, namun dengan alkohol, ether, glycerin hanya dapat bercampur. Berkhasiat sebagai disinfektansia dan dapat digunakan sebagai bahan kimia keperluan sterilisasi alat terutama pada kadar 1-5%.

 

 

18. Formaldehyde solution

Merupakan larutan yang mengandung tidak kurang 37% formaldehid dengan metanol untuk mencegah polimerisasi. Sebagai lautan disinfektansia, dapat digunakan kadar antara 10-40%. 

 

19. Halazone

Merupakan senyawa mengandung tidak kurang 91,5% dan tidak lebih dari  100,5% C7H5Cl2NO4S. Halazone berupa bubuk kristal putih dengan bau chlorine, dan akan meleleh pada 195 0C. Senyawa ini sedikit larut dalam air atau chloroform. Halazone dapat digunakan untuk sterilisasi benda-benda logam atau polysteryne seperti tempat minum ayam, dsb.

 

20. Hexachlorophen

Suatu senyawa yang mengandung tidak lebih dari 98% C13H6Cl6O2. Suatu bubuk putih tak berbau yang dapat meleleh diantara 161 – 167 0C.  Tidak larut dalam air, tetapi mudah larut dalam aseton, alkohol dan eter. Bekhasiat sebagai bakteriosidal dan dapat digunakan untuk germisidal.

 

21. Hexylresorcinol

Suatu kristal putih atau kuning keputihan, yang akan larut dala air dengan perbandingan 1 : 2000, namun sangat larut dalam alkohol, metanol, glycerin.  Sebagai antiseptik digunakan pengenceran hingga 1 : 1000.  Penggunaan sebagai disinfektan peralatan dapat digunakan dengan pengenceran 1 : 1000.

 

22. Iodine solution

Mengandung tidak kurang dari 99,8% Iodine, dan merupakan granula hitam pekat. Satu gram Jodine dapat larut dalm 2950 ml air, atau 13 ml alkohol, dan 10 ml benzena. Digunakan secara luas sebagai antiseptik dan germisidal.  Sebagai antiseptik dan disinfektan dapat menggunakan 1,8 sampai 2,2 % dalam 100 ml larutan.

 

23. Merbromin solution

Mebromin adalah suatu disodium salt dari 2,t-dibromo-4-hydroxymercurifluoresence.  Merupakan granula tak berbau, stabil di udara.  Mudah larut dalam air. Dan tak larut dalam alkohol, aceton, chloroform dan ether. Berkhasiat sebagai antiseptik dan disinfektansia, dapat diberika pada luka akut dengan kadar 1-2%.

 

 

24. Yellow mercuric acid

  1. Yellow mercuri oxide berkhasiat sebagai antibakterial dan dapat digunakan dengan kadar 1%. Penggunaan dalam masa unguentum dapat menggunakan kadar hingga 10%..

     

25. Methyl benzethonium chloride

Merupakan suatu senyawa yang mengandung tak kurang dari 97-103%, dan merupakan serbuk tak berbau, sangt larut dalam air alkohol dan chloroform, namun sedikit laruts dalam eter.bekhasiat sebagai kationik antiseptik dan dapdt digunakan untuk pembebashamaan peralatan kesehatan. Penggunakan dapat berkisar sampai 0,1 hingga 0,055% dan untuk disinfektan jaringan kulit dapat digunakan 1/1000 s/d 1/100.

 

26. Methylparaben

Dikenal dengan nama lain sebagai Nipagin M, dan merupakan suatu kristal tidak berwarna atau bubuk kristal berwarna keputihan tak berbau dan akan meleleh pada suhu antara 125-128 0C.  Satu gram metilparaben akan larut dalam 400 ml air, 2,5 ml alkohol, 10 ml etheratau 50 ml air pada suhu 80 0C.  Sebagai baha pengawet sediaan galenika denga kadar antara 0,05-0,25%.   Sebagai antiseptik dapat digunakan kadar antara 0,15 – 1,5%  dalam larutan.

 

27. Methylrosaniline chloride

Adalah suatu serbuk hitam kehiijauan yang larut dalam air.  Satu gram methylrosaniline chloride dapat dilarutkan dalam 10 ml alkohol, 15 ml glycerin. Larut dalam chloroform tapi tak larut dalam ether. Berkhasiat sebagai antibakterial baik gram positif maupun gram negatif. Dapat dimanfaatkan sebagai anthelmintik.

 

28. Nitromersol

  1. Dapat digunakan untuk disinfektan terhadap peralatan-peralatan bedah baik yang terbuat dari logam, kaca maupun dari karet dan plastic.

 

29. Parachlorphenol

Mengandung tidak kurang dari 99% C6H5CLO, dan merupakan kristal pink dengan bau seperti phenolik. Sangat larut dalam alkohol, glycerin,chloroform ether dan campuran minyak volatil.  Berkhasiat sebagai lokal antibbakteri seperti halnya phenol. Kemampuan germisidal dapat ditingkatkan dengan substitusi atom halogen dari molekul fenol.

 

30. Camphorated parachlorphenol

Mengandung tidak kurang dari 33-37% parachlorphenol dan 63-67% camphor, jumlah parachlorphenol dan camphor tak lebih dari 97-103%. Berkhasiat sebagai antibakterial untuk membersihkan karang-karang gigi atau lubang-lubang pada gigi.

 

31. Phenyl ethyl alkohol

Suatu cairan tidak berwarna dengan bau seperti bunga yang tajam dan rasa menyengat.  Satu gram phenyl ethyl alkohol dapat dilarutkan dalam 50 ml air, sangat larut dalam alkohol campuran minyak, glycerin dan propylen glycol. Khasiat sebagai antibakteri dan dapat juga sebagai pengawet.  Mengingat bau harum seperti bunga maka sering pula dimanfaatkan sebagai flavouring agent.

 

32. Potassium permanganati

Merupakan serbuk hitam khijauan, yang sanagt larut dalam air (1:15), atau 1:3,5 dalam air yang mendidih. Sebagai antiseptik dapat dipakai dengan kadar 1 : 15000 atau 1 : 8000, 1 : 5000 dalam larutan dapat dipakai sebagai larutan irigasi. Dengan disinfektan ruangan dapat dilarutkan dalam formalin  yang dipanaskan. Potasium permanganati cocok digunakan untuk proses sterilisasi barang-barang di kandang hewan besar,  unggas maupun anjing dan kucing.

 

33. Povidone-iodine

Merupakan komplek yang dibuat dari reaksi iodine dengan polyvinylpyrrolidone, berupa larutan yang larut dalam air. Senyawa komplek tersebut akan megeluarkan iodine secara perlahan-lahan. Pengeluaran iodine akan bersifat antiseptik, namun dengan keluarnya iodine, maka kemampuan antiseptik menjadi menurun. Dengan kehilangan iodine, hilangkan KI dan delucent alami dar polyvynil pyrrolidone, maka preparat tersebut jarang diproduksi secara besar-besaran.

 

34. Propylparaben

Suatu serbuk atau kristal berwarna putih, kurang berbau dan akan meleleh pada suhu 95 0C s/d 98 0C. Satu gram propylenparaben dapat melarut dalam 2000 ml air. Penggunaan seperti halnya metyl paraben

 

35. Resorcinol

Mengandung tidak kurang dari 99% C6H6O2, dan merupakan kristal atau serbuk berwarna putih dengan karakteristik berbau dan rasa sedikit manis. Satu gram resorcinol dilarutkan dalam 1 ml air dan 1 ml alkohol. Sangat larut dalam glycerin dan ether, namun sedikit larut dalam chloroform. Sebagai antiseptik dan disinfektan, dapat digunakan dengan kadar 2-20%, dan kadar sekitas 5% dapat digunakan sebagai akarisidal.

 

36. Sodium benzoat

Sodium benzoat merupakan serbuk kristal putih kurang berwarna dan sedikit berbau. Satu gram sod. Benzoat dapat larut dalam 2 ml air, 75 ml alkohol, 50 ml alkohol 90% dan 1,4 ml pada air yang mendidih.

Sering digunakan sebagai pengawet makanan, dan sering digunakan sebagai bahan pengawet makanan.

 

37. Sodium hypochlorite

  1. Dapat pula digunakan untuk merendam alat-alat memerah susu.

 

38. Sodium perborate

Mengandung tidak lebih dari 9% oksigen dan berhubungan dengan 86,5% NaBO3.4H2O, dan merupakan kristal granul dengan warna putih, kurang berbau dan terasa seperti garam. Satu gram sod. Perborat dapat larut dalam 40 ml air, dengan air panas akan mengalami dekomposisi. Berkhasiat sebagai germisidal pada kadar 2%.

 

39. Sulfur dioxide

Suatu gas yang tidak merangsang dengan bau khas. Satu volume air dilarutkan dalam 36 ml volume sulfur dioxide.  Sebagai gas senyawa ini mudah menguap.  Melalui penguapan, dapat dimanfaatkan sebagai pembebashan.

 

40. Sulfur sublimatum

Suatu serbuk kristal memiliki warna cerah dan bau khas. Tidak larut dalam air, dan sedikit larut dala alkohol.  Sulfur berkhasiat sebagai parasitik, kaar 2% dapat dimanfaatkan sebagi keratolitik.

 

41. Diluted sodium hypochlorite solution

Merupakan larutan sodium hypochlorite mengandung tidak lebih dari 4-6 % NaClO.  Digunakan sebagai antiseptik dan disinfektansia. Dapat diguanakan sebagai flavouring agent

 

42. Thimerosal

Suatu serbuk kristal keputihan yang berbau khas, satu gram Thimerosal dapat dilarutkan dengan 1 ml air dan 12 ml alkohol. Sebagai disinfektan bersiaft sebagai bakteriostatik, fungisidal.

 

43. Thymol

Kristal dengan bauk khas dan  warna keputihan.  Satu gram thymol dapat larut dalam 1000 ml air, 1 ml alkohol, 1 ml chloroform.  Dapat bersifat sebaga antibakteri dengan kadar 50% dari phenol.

 

44. Tyrothicin

Suatu antibakteri yang berasala dari pohon bacilus brevi, merupakan serbuk berwarna putih dan praktis tak larut dalam air, namun denga alkohol ! : 15 ml, sedikit larut dalam aseton.  Berkhasiat sebagai antibakteri.

 

 

 

45. Medicinal zinc peroxide

  1. Digunakan sebagai antiseptik dan antibakteri

 

46. Zinc phenolsulfonate

Suatu serbuk berwarna putih dimana didalam air kelarutan berbanding 1 :1, 6 dan 1,8 dalam alkohol.  Berjhasiat sebagai antibakteial dan antiseptika

 

47. Zinc sulfat

Merupakan suatu serbuk kurang berwarna, kurang berbau, kelarutan dalam air 1 : 0,6 ml, dan 2,5 ml glycerin serta tak larut dalam alkohol. 

 

Fumigant yang dapat digunakan

1. Formaldehide

 Penggunaan formaldehyde gas untuk membunuh mikroba telah lama dilakukan dan disebut sebagai fumugasi, umumnya dilakukan untuk suatu ruang.  Cara tersebut sangat praktis namun untuk ruang degan suhu dingin (kurang dari 15 0C) maka  formalin akan berubah menjadi paraformaldehid dan hal tersebut sangat tak efektif.

 

       2. Bom formalin

Suatu teknik sterilisasi ruang dan peralatan yang ada didalam ruang dengan cara menambahkan larutan kalium permanganan ke dalam suatu larutan formalin  absolut dalam keadaan panas (100 0C).  Kadar yang digunakan antara 3 % dan dilakukan antara 1-2 jam pada ruangan 3×3 m2.

 

      3. Carbon disulfide (CS2)

  1. Untuk menurunkan sifat iritan pada personal maka dilakukan pencampuran dengan CCl4 dengan rasio 1 :   4.

 

4. Carbon tetrachlorida  (CCl4)

 Merupakan cairan yang susah menguap (5x dari udara), dan tidak sering digunakan sebagai fumigant dan sering digunakan untuk mengusir insekta. Digunakan dengan kombinasi fumigant ain untuk mencegah sifat mudah terbakar seperti methyl bromide, ethylene dibromide.

 

5. Chloropicrin (Trichloronitromethane) CCl3NO2

    Suatu zat cair tak berwarna dan sering bersifat irritant terhadap mata dan tenggorongan atau bahkan menyebabkan muntah.  Senyawa ini digunakan terutama untuk fumigant terhadap tanah.  Umumnya digunakan dengan kombinasi xylene, CCl4 dan ethyle dioxideuntuk menolong distribusi gas.

 

6. D-D Mixture

    Merupakan campuran 1,3 dichloropropene dan 1,2 dichloropropane.  Merupakan cairan berwarna gelapdengan bau yang cukup menusuk.  Material ini sangat mudah terbakar dan cukup toksik terhadap manusia. Terutama ditujukan untuk fumigasi tanah untuk control nematode, wireworm dsb.

 

7. Dichloroethyl ether (C4H8Cl2O)

    Merupakan cairan yang kurang berwarna dengan daya penguapan 4,9 x dari udara. Fumigant ini tidak tergolong explosive dan umumnya digunakan untuk fumigant terhadap tanah.  Umumnya diguakan untuk taman-taman pada pekarangan dimana burung berhabitat.  Fumigant ini dapat merusak struktur tanah, namun rumput kurang dipngaruhi oleh fumigant ini.  Setelah dilakukan penggunaan fumigant ini, tanah harus selalu diaerasi.

 

  1. 8. Ethylene dibromide   (CH2BrCH2Br)

    Suatu cairan kurang berwarna, dan bau tajam seperti chloroform. Cepat menguap yaitu 6,5x dari udara dan sangat toksik pada manusia meskipun tidak bersifat explosive.  Cepat menguap pada suhu kamar bahkan pada suhu rendah. Sering digunakan untuk tempat-tempat seperti tanah, dan dapat dikombinasikan dengan minyak tanah atau xylene. 

 

9. Ethylene dichloride

    Suatu cairan kurang berwarna, dan memiliki daya uap 3,5  dari udara. Meskipun kurang bersifat mudah terbakar, namun dibawah kondisi tertentu dapat menyebabkan masuk dalam kelompok harus hati-hati dengan masalah kebakaran (fire hazard).

     Dapat dikombinasikan dengan CCl4, dan cukup toksik terhadap personal yang menggunakan.

 

10. Hydrocyanic acid (HCN)

Merupakan gas yang tak berwarna, dan sudah lama tak digunakan karena dapat membunuh manusia

 

11. Methyl bromide (CH3Br)

      Suatu zat dengan sifat mudah menguap dan kurang berbau dan kurang berwarna. Daya uap 3x dari udara dan berupa gas dengan sifat kurang mudah terbakar. Gas tersebut sangat toksik terhadap manusia, dengan sifat yang tak terlihat dan tak berbau menyebabkan termasuk dalam kelompok zat yang berbahaya. Secara umum telah dipergunakan secara luas dan dapat digunakan pengusir hewan pengerat (tiikus).  Zat ini tidak berbahaya untuk tanaman dan tidak meninggalkan bau untuk tanaman-tanaman disekitar.

     Penggunaan yang umum adalah fumigant warehouse, pada kapal-kapal, pengangkut pada truk-truk dsb.

 

12. Naphtalene (C10H3)

      Merupakan suatu kristal putih dengan daya penguapan 4,4 kali dari udara.  Tidak banyak digunakan dan dapat digunakan untuk fumigasi kain-kain

 

13. Orthodichlorobenzene C6H4Cl2

      Merupakan cairan kurang berwarna dan memiliki bau yang sangat tajam.  Mudah menguap yaitu 5x dari udara.  Meskipun sangat mudah terbakar namun termasuk dalam kelompok mudah meledak.

      Umigant ini sangat toksik pada hewan dan tumbuhan, dan umumnya digunakan untuk membunuh larva-larva dari lalat.

 

14. Sulfur dioxide SO2

       Nerupakan fumigan yang tertua, gas tersebut akan membentuk sulfur  yang mudah terbakar.  Sering digunakan dengan menyemprotkan dalam tabung.

 

Aplikasi kerja BSL

Aplikasi pengerjaan BSL dapat dilakukan terhadap isolate atau sampel masuk, dengan cara sebagai berikut:

  1. Melakukan preparasi prasyarat sampel
  2. Melakukan pencucian sampel
  3. Melakukan investigasi secara simultan umum dengan cara :
    1. Menanamkan pada media kultur jaringan (hewan/ tanaman) dan dilakukan penambahan antibiotik/kemoterapi dan anti jamur.
    2. Menanamkan pada media umum kuman aerob dan media umum kuman anaerob
    3. Menanamkan pada media jamur umum
    4. Mencari dengan metode mikrohematokrit atau ulas tebal kemungkinan adanya parasit
    5. Melakukan pencarian adanya unsur asam inti yang tak masuk dalam sel prokaryot dan eukaryot menggunakan cara-cara fisikokimia

 

  1. Melakukan tindakan isolasi baik terhadap virus kuman jamur parasit dan asam inti
  2. Melakukan tindakan identifikasi masing-masing mikroba (termasuk jamur) dan asam inti
  3. Melakukan tindakan karakterisasi masing-masing mikroba (termasuk jamur) dan asam inti

 

Unit penerimaan sampel

Sampel padat/cair

Ke enam tahap tersebut secara umumdapat digambarkan dengan alur sebagai berikut :

                              

Preparasi sampel

-          Grinding

-          Sonifikasi

-          Pencucian

-          Filtrasi

-           

-           

Tanam ke Tisue culture

Mengandung antibiotika/antijamur

Tanam ke media umum kuman

Aerob anaerob

Tanam ke media umum jamur

Ulas tebal/mikrohematokrit,dsb

Analisis BSL-1

Analisis

BSL-2

Analisis asam amino transgenik

Isolasi, identifikasi

Isolasi, identifikasi

Isolasi, identifikasi

Isolasi, identifikasi

Isolasi, identifikasi

Analisis

BSL-3-4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepustakaan

 

  1. American Biological Safety Association. ABSA biosecurity task force white
    paper: understanding biosecurity. Illinois: The Association; 2003.

 

  1. Richmond JY, Nesby-O’Dell, SL. Laboratory security and emergency response guidance for laboratories working with select agents. MMWR Recomm Rep. 2002;51:(RR-19):1-6.

 

  1. Biomaterial Biosafety Laboratory Manual, 1999. SectionVI-Principles of Laboratory Biosafety. Diambil 5 November 2008 dari http://www.cdc.gov/od/ohs/biosfty/bmbl5/sections/Sections.

 

  1. Sandia Report. Laboratory Biosecurity Implementation Guidelines : Sandia Nationalaboratories Albuquerque, New Mexico 87185 and Livermore, California 94550; 2005.

 

  1.  Laboratory Biosafety Manual,3rd Edition. Geneva: World Health Organization, 2004.

 

  1. Biohazardous materials. UCD Exposure Control Plan. Diambil tanggal 4 di http://www.uchsc.edu/safety/Manuals/BioSafety/biochap2.html

 

  1. Biosafety Manual for University of Maryland. Department of Environmental Safety, USA; 2006.

 

  1. Biorisk management. Laboratory biosafety Guidance. Geneva: World Health Organization, 2006.

News from International Seminar :

Screening Of Benalu Duku For Antiproliferation Of Myeloma Cell

M. Lazuardi 

Veterinary Faculty, Airlangga University, Surabaya, Indonesia

Abstract

Objectives: Loranthaceae dendrophthoe species (Benalu duku) was used commonly in east Java of Indonesia by traditional herbalist to control breast cancer late stadium. The anticancer effect of Loranthaceae dendrophthoe by infuse process of their leaves was evaluated at in vitro experimentally. The objective of this research was to explored anticancer strength of cancer cell by in vitro test.

Methods: Four concentrations of samples (10%, 20%, 30% and 40%) were tested with myeloma cell line in 24 wells microtiterplate. Each concentration were consists of three wells cell lines at more than 1.2.105  cell.ml-1 and examined during the two days post treatment.  Similar procedures of Ringer Lactate solution were used as a negative control samples. Implication inhibition activities of Benalu duku were examined by analysis of viabilities cell counted after treated by filtrate samples and comparing with control cells.

Results: The filtrate of Loranthaceae dendrophthoe spec., by infuse process at ranging 20% to 40% was showed inhibition to growing up of myeloma cell (p<0.05).

Conclusions: The studies described above clearly demonstrate that Loranthaceae dendrophthoe species have an ability antiproliferation of cancer culture cell (myeloma cell).               

 

Key words: Anticancer, Antiproliferation, Benalu duku, Myeloma, In vitro test.


News from herbal medicine :

The in vitro assessment of anti proliferate activity of crude diethyl ether extract of Dendrophthoe species against to myeloma culture cell

Mochamad Lazuardi 

Veterinary Faculty Airlangga University                                                  

ABSTRACT

Each herb medicinal was known have an active substances where dissolved on polar, semi polar and non polar liquid extract. The methanol and ethyl acetate as a polar and semi polar extract liquid were known already used for explored study of Herb medicine as Dendrophthoe species. The diethyl ether as a non polar liquid extract was never seen before for explored of studies more of Dendrophthoe species. By background as described at above, the aim of this study was to investigated an anti proliferation activity of Dendrophthoe species against to myeloma culture cells after extracted by non-polar extract solution (diethyl ether). The post test only control group design was using for research protocol with concentration inhibit ability of crude diethyl ether extract as dependent variable.  A thirty six of microtiterplates wells were using for placed of myeloma culture cells in RPMI medium. Their wells were separate in two groups as a treatment groups and a controls groups.  Each three wells of six treatment subgroups of wells were added with 100 ml of 1.1;5.5;11;22;33 and 44 mg/ml as crude diethyl ether extract series. A RPMI solution at similar method and volume were using control substances. Two days letter, the cells were assessment by inverted microscope in x200 magnified. By 1:1 of methylene blue solution, the cells were quantified for analyzed of anti proliferation activity.  Research results showed that beginning on 11.0 mg/ml of crude diethyl ether extract of Dendrophthoe species have been anti proliferation abilities of myeloma culture cells (p<0.05). In conclusion, Actives substances of Dendrophthoe species where dissolved in non polar liquid as diethyl ether was appeared have anti proliferation activities against to in vitro cancer cell.

 

Key words: Cancer, Herb medicine, Myeloma, Benalu duku, Anti proliferation


The news research of veterinary pharmacokinetics

Pharmacokinetics of Diminazene on Healthy Etawa Breed Goats: A Preliminary Exploration Using Single Dosage Regimented

 

 

Mochamad Lazuardi

Lecturer and researcher on Veterinary-Pharmacy Science,

Veterinary Faculty, Airlangga University

Jl. Mulyorejo kampus C UNAIR, Surabaya-Indonesia (60115),

 phone :+62085648586714, facsímile :031-5993015

e-mail: ardiunair@yahoo.co.uk

 

ABSTRACT

 

The pharmacokinetics of intramuscularly Diminazene after the administration of 7 mg/kg body weight was studied in five healthy male goats of Etawa Breed. The objective of this research is to obtain the primary data of kinetics profile of Diminazene at therapeutics dose in Etawa Breed goats as subject research. Diminazene was analyzed after extraction and separation by Reverse Phase High Performance Liquid Chromatography. A two opened compartment model with striping method was used for the pharmacokinetics parameter analysis. Result research was apparently that mean of time to reach the maximum concentration (Tmax) and peak concentration (Cmax ) obtained at  27.96 ± 6.62 minutes and 29.38 ± 3.5 µg.ml-1, with a mean terminal half life at 72.05 ± 14.3 minutes. The mean of volume distribution was obtained at about 4.282 ± 0.8 L. Kg-1.  In conclusion, there was no evidence of variability kinetics parameters within samples, particularly for volume of distribution at p<0.05. 

 

Key words: Pharmacokinetics, Diminazene, Goats, Compartmentally, Intramuscularly dosage  

 


The news article from national Congress of The Indonesia Medical-Pharmacy Association

This is article about inactivan of footh and mouth diseases virus -

The inactivation potency analysis between 0.05 % Acethyl ethylene imine (AEI) and  0.05% Formalin to threat Foot and Mouth live virus.

 

Mochamad Lazuardi 

Lecturer and Researcher in Veterinary Pharmacy Laboratory, Veterinary Faculty Airlangga University

Abstract

 

 Previous study has been shown the potential inactivated substances of two inactivation substances that are AEI and Formalin at 0.05% concentrated (v/v) for immobilized of  Foot Mouth Diseases (FMD)live virus as a Hostis Pecoris Species Virus.  The objective of the present study was to investigated inactivated potency between two inactivant substances  of Pico ribonucleic acid virus. The sixteen of 5 ml infected BHK21 suspension culture cells at 109 TC ID50 infectious grades on small bijou bottle as a samples trial were divided on two groups. (Each group consists of eight samples). The infected cells were added 0.5 ml of AEI and Formalin.  After that, all samples were incubated at CO2 hot room (370C) during the three days.  By time series research design the samples were analysis with TC ID50 method each 12 hour, 24 hour, 36 hour and 48 hours post inactivated. Result research funded that AEI was fastest inactivation activity than Formalin of equal concentrated at ranging 12 to 24 hours (p<0.5).

 

Key words: Inactivation substances, BHK21, Hostis Pecoris Virus, TC ID50, In vitro test


The new web of Lazuardi

This web is profil of Dr. Mochamad Lazuardi, DVM.,laz1


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.