Training for Veterinarian Practice :

RESEP (R/) LOGIS DAN BERTANGGUNG:

APA DAN BAGAIMANA PANDANGAN PADA IMPLIKASI KLNIK?

 

Dr. Moch. Lazuardi., Drh., MSi

 

Dokter Hewan Praktisi dan Pengurus Inti ONT BKN Farmasi-Veteriner se Indonesia.

Anggota Badan Pengurus Pusat Perhimpunan Farmasi-Kedokteran Indonesia (PEFARDI).

Dosen dan Peneliti di Sub.bag. Ilmu Farmasi-Veteriner FKH UNAIR.

 e-mail : ardiunair@yahoo.co.uk

 

 

Abstrak

 

Obat hewan dan alat-alat kesehatan hewan (ALKESWAN) pada dasarnya adalah sarana untuk kegiatan veteriner dan peternakan, namun demikian khusus ubat-obat hewan adalah sarana untuk melakukan tindakan medis veteriner.  Dengan demikian perolehan obat tersebut pada hakekatnya seyogyanya menggunakan resep dokter hewan. Mengingat obat adalah suatu racun dan ibarat pedang bermata dua maka harus ditatakelola dengan prinsip logis dan bertanggung jawab.  Logis dimaksudkan adalah sesuatu yang telah diverifikasi secara ilmu pengetahuan dan yang terbukti berkhasiat secara empirik kendati ilmu pengetahuan belum mampu melakukan verifikasi. Sedangkan bertanggungjawab dimaksudkan adalah manifestasi hak seorang dokter hewan menggunakan obat dengan salahsatunya adalah pembubuhan tanda tangan dan atau paraf saat menuliskan resep dibagian subscriptio. Bila prinsip tersebut diacu dan selalu difahami oleh insan dokter hewan, maka resiko tuntutan dari pemilik hewan tak terjadi. Dengan demikian seyogyanya menggunakan kaidah etika penulisan resep dalam menuliskan resep.

Sebagai kesimpulan adalah prinsip logis dan bertanggungjawab dengan menggunakan falsafah Maximum Asclepiades dan etika medis dalam mengelola  obat, akan meminimisasi resiko kemunculan tuntutan dari pemilik hewan.

 

Kata-kata kunci : Logico-verificatio, tanggungjawab dalam penulisan resep, Maximum Asclepiades, Etika medik,  Penulisan Resep.

 

 

 

Pendahuluan

Menjelang Binemium hingga masa mendatang, tatalaksana dokter hewan   dalam melakukan aktivitas jasa klinik menggunakan obat dan Alat-alat kesehatan hewan (ALKESWAN)  dimana didapatkan melalui media lembar kertas Resep (R/), dirasakan makin berat. Dikatakan berat sebab mengandung tiga point pokok yaitu pertama membuka kesempatan pemilik hewan dengan segala daya upaya melakukan klarifikasi keakurasian dokter hewan menggunakan obat. Point ke dua adalah membuka kesempatan masyarakat sekitar dimana mereka hidup di habitat/lingkungan yang berdekatan dengan hewan penderita pasca pemberian obat (oleh dokter hewan). Point terakhir (ke tiga) adalah membuka kesempatan bagi masyarakat pengkonsumsi daging olahan asal ternak hewan untuk mengaklarifikasi ekses akibat pemberian obat oleh dokter hewan. Sementara tuntutan masyarakat Indonesia pasca awal globalisasi terhadap pelayanan jasa veteriner dengan segala ekses yang ditimbulkan mengenai penggunaan obat, makin mengarah ketuntutan sophisticated.

Di dunia kedokteran dan bidang kefarmasian dan seiring dengan diundangkannya UU Praktek Kedokteran tahun 2006,  mulai awal 2007 persoalan tersebut telah diantisipasi. Bentuk konkrit yang terwujud adalah dibudayakannya persoalan medikolegal sejak di tingkat pendidikan sarjana kedokteran hewan hingga ditingkat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) maupun Super spesialis. Budaya pemahaman tersebut terus berlangsung hingga di tingkat kabupaten seluruh pelosok Indonesia.  Oleh sebab itu di setiap Fak. Kedokteran di Indonesia sejak tahun 2007 didirikan badan yang menangani  persoalan tersebut (Unit Bioetik Kedokteran Indonesia).

Bila profesi Dokter hewan di analogkan dengan profesi Dokter oleh seluruh masyarakat Indonesia, sementara persoalan tatakelola penggunaan obat hewan-ALKESWAN melalui R/ sesuai zaman tidak dilatihkan secara rutin.  Maka ekses negatif yang terjadi adalah (1) ketidak percayaan masyarakat, (2) adanya persoalan perdata dan pidana bagi dokter hewan Indonesia, (3) pemilihan dokter hewan asing. Ekses negatif di atas, sebenarnya sejak tahun awal tahun 2000, telah diantisipasi oleh fihak sejawat dokter hewan dengan dikeluarkannya Farmakope Veteriner (farmasetik dan biologik) Indonesia pertama kendati kurang lengkap.  Namun perangkat  tersebut belum pernah disempurnakn serta belum dibentuk perangkat-perangkat lain yang dapat membentengi dokter hewan dari ekses negatif tersebut. Sementara waktu berjalan terus, dan persoalan perangkat pengaman belum tersentuhkan maka probabillitas kemunculan ekses menjadi makin besar. Upaya minimisasi ekses negatif tersebut sebenarnya dapat dilakukan dengan catatan harus menggunakan prinsip penggunaan obat-ALKESWAN  logis dan bertanggungjawab. Apa dan bagaimana prinsip logis dan bertanggungjawab dalam pandangan implikasi klinik, akan dipaparkan dalam uraian di bawah.

I.        Mengenal falsafah penulisan R/  ”Maximum Asclepidaes”

Dalam penulisan resep dokter hewan, seyogyanya menggunakan falsafah yang telah disampaikan oleh seorang dokter Yunani yang hidup di Roma beberapa tahun sebelum masehi (Milks and Zeissig, 1947). Prinsip tersebut dalam perjalanan waktu serta terkait  dengan masa binemium hingga masa, dapat dilakukan modifikasi seperlunya. Prinsip tersebut dikenal dengan ”Maximum Asclepiades”, yaitu :

  1. Curare = Manjur
  2. Cito = Cepat
  3. Tuto = aman
  4. et Jucunde = dan Menyenangkan.
  1. Curare

Prinsip manjur merupakan niatan utama dari seorang dokter hewan dalam rangka pemberian obat.  Manifestasi tersubut dapat mengikuti kaidah 5 tepat dalam pengunaan obat  yaitu : (1) tepat jenis obat yang dipilih, (2) tepat dosis, (3) tepat bentuk sediaan, (4) tepat cara dan waktu pemberian dan (5) disesuaikan denga kondisi penderita.  Prinsip curare termanifes di bagian preskripsi dari suatu lembar kertas resep.

2.      Cito = cepat

Prinsip cito pada dasarnya adalah upaya/tindakan agar :

  1. Implikasikasi klinik yang haru dilakukan adalah :
    1. Pilihlah obat yang cepat dilayani di apotik atau penjual obat
    2. Buatlah penulisan resep baik patent atau racik saji (official atau non-official),  agar sebisa mungkin obat lebih cepat bekerja. Contoh pilihan R/ a. di bawah adalah resep dengan kerja obat tercepat dibandingkan R/ lainnya.
      1. a. R/  Acetosal                 
      2. ana 5

          Natrii bromidi           3

          Aqua               ad 150 ml

    

         m.f. solutio

         S. 3.d.d CI.

               #

 

 

 

    

  1. b. R/ Acetosal      5

         CMC-Na     1%

          Saccarosa q.s

          Aqua        ad  150 ml

     

          m.f. susp.

          S. 3 d.d CI

               #

 

  1.  c. R/ Pulv. Acetosal    500 mg

          Glucose            qs

 

           m.f. Pulv da in caps t.d no X

           S. 3.d.d caps I

                 #

 

  1. R/  Tab. Antalgin (Bayer)     No. X

           

           S. 3 d.d Tab.I

                     #

                  

 

  1. Obat cepat dikeluarkan pasca penderita sembuh dari tindakan pengobatan. Prinsip ini menjadikan dilakukan pilihan bahan aktif obat dengan duration of action seperlunya.  

3. Tuto = aman

           Prinsip tuto/aman dimaksudkan adalah :

  1. Aman dengan timbulnya reaksi obat lanjutan, sehingga menghindarkan penyakit karena obat.

Contoh aplikasi adalah sebagai berikut :

Penggunaan kemoterapi pada anjing yang penderita infeksi bakteri gram negatif dari golongan solfonamida.  Pilihan R/ b adalah yang terbaik dibandingkan R/ a, sebab sulfadiazine tak teraborbsi di lambung anjing, sehingga mengurangi resikoreaksi lanjutan akibat obat.

  1. a. R/ Sulfadiazin                    18

         Mucilago Tragacanth  2 %

         Saccharose              q.s

         Aqua                     ad  90 ml

       

         m.f. susp.

         S. 3 d.d CI

               #

 

b. R/  Decatrim tab  No. XVI

         

          S. 3 d.d tab 1

                 #

 

Pada unggas (Ayam berat 3 kg) dengan kasus salmonelosis, maka penulisan R/ dibawah adalah contoh aplikasi manifestasi dari prinsip tanggungjawab.

R/  Chloramphenicol   90 mg

      Glucose              q.s

      

       m.f. pulv dan in caps t. d No. XV

       S. u.c

              #

Penulisan u.c dapat dilakukan sebagai alasan agar mampu dipantau hingga pada akhir terwujudnya waktu henti obat (7 s/d 10 kali waktu paruh eliminasi).

  1. Dengan demikian pemberian obat harus tetap memperhitungkan ampak lingkungan (Enviroment).  Contoh konkrit adalah upaya desinfektan suatu wilayah untuk mencegah terjadinya flu brung. Pada keadaan demiian penyemprotan desinfektan tidak boleh mengakibatkan tanaman-tanaman disekitar tercemar, termasuk tanah dan air sungai yang akhirnya tercemar desinfetansia.

Contoh :

R/ Hexacholorophen  5 L

     S. u.c

         #

   Dengan penulisan u.c maka pengguna desinfektansia dapat diberi catatan khusus apa dan bagaimana teknik melakukan desinfetansia agar tak merusak habitat sekeliling.

4.      et Jucunde = dan Menyenangkan

 Strategi pemberian obat hewan harus berprinsip memegang teguh persoalan kenyamanan.  Dimaksud kenyamanan dapat berarti :

  1. Sebagai contoh adalah pemnberian obat-obat dengan bau yang tak nyaman dapat disembunyikan dalam capsul. Demikian pula penambahan coriggen rasa pada pemberian obat-obat yang tidak bersifat animal taste, atau dapat dibuat segar dengan bentuk sediaan saturatio (cocok untuk kera).

R/ Thiamphenicol    150 mg

     Saccarose    q.s

    

      m. f. pulv da in caps t.d no. IX

     

       S. 3. dd Caps I

                 #

 

  1. Citric      2,5
  2. 25
  3. 2,5 (r.p)
  4.       Syr. Simplex    12,5
  5.       Natr. Bicarb      3

       Aqua            55

      Vit C   tab ½

      m.f. potio

      S. haust

           #

  

  1. Nyaman bagi pemberi obat hewan yang akan mengaplikasikan ke hewan peliharaannya. Sebagai contoh pada kucing tak semuanya cocok diberika obat-obat dengan oral dengan bentuk sediaan cair. Bila memungkinkan dilakukan perancangan bentuk sediaan semata-mata agar nyaman diberikan oleh pemberi obat (agar tak digigit), dan hal tersebut dapat dirancang berupa suppositoria. Dapat pula dibuat pillulae sehingga cukup dilemparkan ke dalam mulutnya disaat hewan tersebut membuka mulut.

R/  Aminophyllin   200 mg

  1.       Ol. Cacao       q.s

     

       m.f supp. analia dtd no. IV

      

        S. p.r.n supp. I

                #

        

II.      Logis

Logis dari asal kata bahasa latin  Logos mengandung makna  ilmu, dan merupakan suatu epistemologi ilmiah dengan tata aturan yang menuntun penalaran untuk sampai pada suatu kesimpulan benar. Dengan demikian membutuhkan suatu pembuktian ilmiah (verifikasi), sehingga akhirnya kata logis bermakna Logico-Verificatio.

Aplikasi empirik penggunaan obat dapat terbagi tiga yaitu  (1) mampu dibuktikan (the true values), (2) belum dapat dibuktikan di zaman itu dan, (3) tidak dapat dibuktikan.

Pada pola penggunaan obat yang telah diaplikasikan secara empirik selanjutnya mampu dibuktikan secara ilmiah, maka akan menghasilkan fenomena reprodusibilas dan ripitabilitas.  Artinya pola penggunaan obat tersebut dapat diaplikasi di berbagai tempat dengan hasil sama kendati memiliki deviasi berbeda-beda. Pola pengobatan inilah yang disebut temuan empirik yang akhirnya diteotitikkan (the true values), dan dapat dijadikan standard operasional prosedur (SOP). Contoh persoalan tersebut adalah kasus-kasus jamur pada kulit (dermatophytosis), maka pilihan obat anti jamur dilakukan dengan SOP :

 

  1. R/  Ung. 2-4   100                           R/ Acid. Salcylic      2       3         4

                                                             Sulfur ppt           4        5        10

  1. ad 100

           #

                                                              S. u.e

                                                                   #

 

                                                             

Pola penggunaan obat pada kasus emprik dengan beberapa kali keberhasilan namun belum mampu diverifikasi dan hanya sedikit menghasilkan kegagalan. Pola demikian masih termasuk bagian dari prinsip pengobatan logis, kendati belum dilakukan pembuktian secara ilmiah karena ketidakmampuan ilmu pengetahuan di zaman tersebut.  Mengingat obat adalah seperti dua sisi mata uang, maka melalui prinsip bertanggungjawab menjadikan unknown characteristic obat dapat dikendalikan. Tanggungjawab dimaksudkan dapat dilakukan monitoring terapi obat (MTO) oleh dokter, sehingga dampak samping yang ditimbulkan dapat diantisipasi sejak awal. Contoh kasus tersebut adalah pada kasus Trypanosomiasis pada sapi, maka obat SOP yang dipilih adalah kemotripanosidal :

R/  Suramin (Naganol®)  flac. No I

     

      S. i.m.m

           #

 

.  Pada tahun 1980-an Suramin terkenal merupakan drug of choice antitrypanosoma, pada saat tersebut masih belum banyak diketahui profil ADME suramin, namun telah diketahui memiliki availabilitas lama di tubuh.  Pada kasus trypanosoma masuk ke dalam cerebrum atau cerebelum, maka dengan mudah akan terhindar dari Suramin.  Sebab suramin tak mampu menembus sawar otak akibat berat molekul besar. Persoaan itulah yang menyebabkan Suramin terkadang tak efektif sebagai tripanosidal. Namun terdapat persoalan yang lebih besar dari suramin yaitu (1) availabilitas yang terlalu lama dan (2)  tak dapat dimetabolisme dalam bentuk tak utuh. Dua persoalan tersebut akhirnya mengakibatkan ketidakamanan bagi masyarakat pengkonsumsi daging olahan asal ternak dan persoalan pencemar lingkungan. Sehingga tahun 1990-an, suramin sudah tak diproduksi sebagai antitrypanosoma (Lazuardi, 2005).

Contoh lain adalah kasus-kasus carcinoma,  sebagai berikut :

R/  Infusum folia Dendropthoe species 20% 445,5 ml

      Adde

      Syrupus simplex    4,5 ml

      

  1.        m.f solutio                                   

     

      S. o. 8. h CII

               #

 

Contoh resep di atas adalah suatu sari air panas dari daun benalu duku dan secara empirik diketahui mampu mengurangi rasa sakit pada Wanita  penderita kanker mamae. Dalam kajian laboratorik baik secara in vivo (pada tikus) maupun (in vitro) diketahui mampu mengeliminasi sel kanker mieloma. Fenomena tersebut masih belum mapu dijadikan suatu the true values. Oleh sebab itu harus dilakukan prinsip pertanggungjawaban dari seorang dokter melalui tindakan MTO.

Pola empirik terakhir adalah penggunaan obat dengan sifat trial and error, bila ternyata berhasil maka merupakan tindakan yang tak sia-sia namun bila tak menghasilkan keberhasilan dianggap hal lumrah. Pola pengobatan model demikian bukan bagian dari prinsip pengobatan logis, sebab tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.  Model pengobatan trial and error juga dirasakan sulit untuk dilakukan pemantauan sebagai upaya menjaga semangat bertanggungjawab  dari seorang dokter hewan. Hal tersebut disebabkan pola penyediaan hingga pemberian obat tidak harus mengikuti kaidah aturan resmi yang ditetapkan pada umumnya aturan obat-obatan (Farmakope, Vademekum, Pedoman Peracikan Obat, dsb).

     Contoh dalam kasus tersebut adalah pemberian resep di bawah :

     Serbuk buah jambu biji 1 gram ditambahkan air 50 ml dan diminumkan.

III. Bertanggungjawab

Obat adalah salahsatu perangkat untuk mengobati suatu keadaan patologis fisiologis kondisi tubuh suatu mahluk hidup (manusia maupun hewan).  Obat itu sendiri diketahui merupakan satu objek yang kompel sebab terdiri dari :

  1. Bahan aktif (Remedium cardinale)
  2. Bahan penambah (adjuvansia)

–          Corrigen rasa

–          Corrigen warna

–          Corigen bau

–          Preservatives

–          Bahan penambah/bahan pengisi

–          Bahan pembawa (vehiculum)

 

Selanjutnya obat itu sendiri dibentuk dalam sediaan obat tertentu misal padat, cair dan setengah padat.  Sementara kita mengetahui bahwa padat dapat terbagi berbagai macam misal tablet, kaplet, dragee, pulveres, pulvis, capsul, dsb  Bentuk sediaan setengah padat dapat berupa unguentum, cream, pasta, suppositoria dsb. Bentuk sediaan cair dapat berupa solutio, suspensi, injeksio, saturatio, dsb. Semua bentuk sediaan tersebut memiliki jenis-jenis adjuvansia dan vehivuculum bermacam-macam. Obat-obat itu sendiri di simpan dalam suatu kemasan tertentu yang harus mampu memproteksi obat terhadap pengaruh sinar, udara, suhu dan kelembaban (termasuk hewan-hewan mikroba lain).  Kemasan itupun ditandai dengan etiket dapat berwarna putih maupun biru.  Obat-obat yang ada dalam bentuk sediaan tertentu dengan etiket yang telah tertempel harus diminakan melalui resep dokter.  Gambaran itulah yang disebut obat bersifat komplek, oleh sebab itu dalam bahasa Inggris disebut medicine.

Bila obat memiliki arti dalam bahasa Inggris sebagai drug memiliki makna hanyalah berupa bahan aktif obat.  Dengan demikian mengandung makna suatu bahan generik atau patent dari obat itu sendiri baik bersifat tunggal (hanya satu jenis) atau bersifat komplek (lebih dari satu jenis).

Begitu berbahayanya obat tersebut maka proses pembuatannya, peredaran dan penggunaannya harus ada yang bertanggungjawab.  Ditingkat fabrikasi obat hewan maka pertanggungjawaban diletakkan pada produsen obat hewan yang diawasi oleh Dokter hewan atau Apoteker (khusus obat manusia diawasi oleh Apteker).  Ditingkat pengedaran obat hewan dapat diawasi oleh Dokter hewan dan atau Apoteker berizin. Dalam peredarannyapun digunakan berdasarkan resep dokter hewan.  Bila dibidang kedokteran manusia i terdapat interaksi kontrol penulis resep (dokter dengan apoteker). Dibiang veteriner hal tersebut tidak terdapat, dan inilah yang membuka kesempatan pemilik hwan melakukan verifikasi di saat tak terjadi pelayanan pengobatan. Resep itu sendiri harus terdapat paraf ataupun tanda tangan, serta tersimpan dalam arsip suatu tempat penjualan obat hewan.  Jumlah yang telah terjual dengan stok yang adapun selalu disampaikan pada instansi yang mengawasi masalah obat dan makanan. 

Mengapa harus bertanggungjawab ?

Obat hewan merupakan produk beracun dan mudah sekali disalahgunakan (abused) atau digunasalahkan (missused).  Obat hewan pada klas tertentu dapat disalahgunakan untuk mengobati manusia, atau dapat pula untuk tujuan membunuh manusia bahkan merusak lingkungan. Seandainyapun obat hewan digunakan seperti tujuan pengobatan, maka resiko terjadinya dampak samping obat atau penyakit karena obat (drug induced disseases) tetap mengancam.  Dampak itupun akan terasa langsung pada umat manusia manakala residu obat hewan tetap berada dala jaringan tubuh hewan yang akhirnya dikonsumsi oleh manusia.  Seandainyapun jaringan tubuh hewan dengan kandungan residu obat hewan termakan oleh hewan lain maka akan dapat berdampak negatif pada hewan itu sendiri.  Bila dampak negatif tersebut diinterpretasikan dengan kemunculan perangai hewan yang tak dapat dikendalikan oleh manusia, maka yang menderita umat manusialah yang menderita.

Ilustrasi tentang bahaya obat hewan itulah merupakan suatu fenomena lapangan yang selalu ditemui oleh profesi dokter hewan. Dengan demikian dokter hewan diberikan asupan ilmu pengetahuan yang rinci tentang obat hewan.  Paparan tersebut di atas pada akhirnya mengakibatkan konsep penggunaan obat hewan harus bertanggungjawab (responsibilities)

Bagaimana bentuk manifestasi tanggungjawab dokter hewan ?

Manifestasi tanggungjawab dokter terhadap instruksi penggunaan obat digambarkan dengan adanya keberanian dokter menuliskan resep dimana pada bagian dari resep tersebut mengandung tanda tangan/paraf dokter.  Kemunculan tandatangan/paraf dokter menjadikan resep sah, kondisi tersebut menyebabkan resep dapat dilayani. Bentuk manifestasi tersebut memiliki konsekuensi berat yaitu client harus mentaati perintah dokter agar tertib dalam penggunaan obat.  Dengan demikian keberhasilan pengobatan tergantung tertib tidaknya pengunaan obat seperti auran pakai yang dituliskan oleh dokter. Reprensentatif aturan pakai yang dituliskan oleh dokter hewan dapat ditampakan pada etiket obat yang ditempelkan di wadah obat.

Catatan:

Dengan penekanan tanggungjawab tersebut maka setiap orang yang akan menggunakan obat untuk pengobatan hewan dengan konsep apapun (misal rasional,  dsb) dapat saja dilakukan.  Namun apakah mereka yang non-dokter berani menetapkan konsep bertanggungjawab dalam melakukan aplikasi obat pada hewan.  Bila berani maka tanggungjawab tersebut harus ada ilustrasinya.  Bila tidak ada, maka konsep tanggungjawab yang diargumentasikan secara aotomatis gugur. Namun khusus dokter hewan, bentuk tanggungjawab telah tersurat dengan adanya kewenangan dalam menuliskan resep.  Oleh sebab itu khusus pendidikan dokter hewan, diberikan tambahan mata pelajaran yang mengkaji masalah obat dengan porsi yang cukup banyak.

Penggunaan obat hewan dengan prinsip logis dan bertanggung jawab, merupakan satu-satunya konsep yang dapat membedakan antara dokter hewan dan bukan dokter hewan.  Bila pemberi obat bukan dokter hewan maka tanggungjawab atas dampak karena obat  dijatuhkan pada Insitusi negara yang melakukan pengaturan, pengawasan penggunaan dan peredaran obat hewan  atau industri obat hewan. Seandainya dokter hewan pemberi instruksi penggunaan obat hewan menemui hal-hal yang kurang memuaskan terkait dengan kualitas obat hewan, maka tanggungjawab dapat dijatuhkan pada industri obat hewan.  Secara tidak langsung tanggungjawab juga dapat dijatuhkan pada Institusi resmi pengatur peredaran obat hewan.

Pada dasarnya dengan adanya konsep bertanggungjawab, maka para dokter hewan harus berhati-hati dalam melakukan penggunaan obat untuk tindakan pengobatan. Sebab tanggungjawab tersebut secara aotomatis melekat dan berhubungan langsung dengan cclient yang memiliki otoritas menetapkan hak atas hewan miliknya.  Tanggungjawab yang dimaksudkan juga berkaitan dengan hukum pelayanan kepada masyarakat atas hewan miliknya. Hukum jasa pelayanan kepada masyarakat inilah yang menyebabkan para dokter hewan harus berhati-hati sebab dengan mudah pemilik hewan melakukan class action atas tindakan dokter. Beberapa dampak hukum yang mungkin muncul, adalah :

  1. Penurunan kepercayaan dengan implikasi ditinggalkan fihak pasien
  2. Ketidak percayaan terhadap jasa pelayanan dokter hewan
  3. Tuntutan perdata atas jasa pelayanan yang dirasakan kurang memuaskan
  4. Tuntutan pidana atas jasa pelayanan yang dirasakan kurang memuaskan

   ad 1. Penurunan kepercayaan

Pemilik hewan atau lembaga yang akan mengobatkan hewan tanggungjawabnya, pada dasarnya memiliki perasaan gamang manakala memiliki pengalaman buruk dengan jasa kesehatan hewan.  Pada keadaan demikian yang terjadi adalah perasaan ragu-ragu dari pemilik hewan saat akan mengobatkan hewan ke jasa pelayanan kesehatan hewan.  Perasaan ragu-ragu tersebut disertai dengan perasaan curiga dengan apa yang telah dilakukan oleh dokter hewan.

 

    ad 2. Ketidakpercayaan

Perasaan ketidak percayaan akan muncul manakala pemilik hewan memiliki pengalaman buruk berulang-ulang dengan jasa pelayanan kesehatan hewan. Bila keadaan tersebut berlangsung terus menerus, maka yang terjadi adalah pemilik hewan tidak akan pergi ke jasa pelayanan kesehatan hewan.

  ad 3.  Tuntutan perdata

Tuntutan perdata timbul manakala pemilik hewan merasa bahwa apa yang telah dilakukan terhadap hewan pemeliharaanya, dirasakat sangat merugikan.  Persoalan tersebut menjelang abad ke 21 amat mengemuka dimana disebabkan hubungan antara dokter dengan pemilik hewan sudah bersifat equal.  Sehingga apa yang dilakukan dokter harus sepengetahuan terlebih dahulu dari pemilik hewan. Bila suatu saat tindakan dokter dilakukan disarasakan sangat merugikan bagi hewan peliharaannya sementara pemilik hewan telah merawat bertahun-tahun, maka persoalan perdata tidak mustahil akan muncul.

   ad 4. Tuntutan pidana

Tuntutan pidana merupakan tuntutan yang cukup berat bagi profesi doter sebab kesalahan tersebut selalu ditimpakan oleh profesi dokter.  Persoalan tersebut dapat diminimisasi manakala dokter hewan selalu melakukan tindakan medik berdasarakan  standard operasional prosedur.

Secara umum tuntutan perdata maupun pidana, dapat dihindari melalui jalan membangun satu ketergantungan antara pemilik hewan (clinent) dengan dokter hewan.  Ketergantungan dapat terjadi bila keduanya saling terbuka dan saling mempercayai.

Pada dasarnya client cukup terbuka dengan dokter hewan, dan oleh sebab itu performance tersebut tidak boleh hilang.  Pada kesempatan tersebut secara prosedural dokter hewan seharusnya menjelaskan semua hal terkait dengan penyakit hewan tersebut.  Pada kesempatan yang sama juga harus menguraikan semua hal tatacara strategi pengobatan yang akan dilakukan.  Bila mungkin dapat pula dijelaskan kemungkinan persentase kegagalan dalam pelaksanaan aplikasi. Pola bipartite seperti tersebut secara aotomatis akan menghasilan suatu bentuk bangungan yang saling mempercayai.  Bila hal tersebut telah terbentuk maka dengan mudah strategi pengobatan dapat dilakukan.  Pemilihan derivat bahan aktif yang akan diberikan sebisa mungkin diserahkan kepada pemilik hewan.  Namun bila hal tersebut tidak mungkin, maka harus dijelaskan apa dan mengapa jenis obat tersebut yang dipilih.

Upaya pemberian informasi sejelas-jelasnya kepada pemilik hewan akan mengarah pula kepada informasiyang terkait efek samping obat serta efek lain yang tak dikehendaki.  Bila telah diinformasika segala hal maka perlu pula dijelaskan bila terjadi hal-hal yang diluar perkiraan dokter hewan, maka persoalan tersebut diluar batas kemampuan manusia. Bila pemilik hewan, bersedia maka pengobatan dapat dilakukan bila tak bersedia maka dipersilahkan untuk mengambil hewannya.

IV. Etika menulis resep

Dalam dunia kedokteran legal persoalan medikolegal mulai dikaji secara melembaga dan diterapkan sejak pendidikan dini kedokteran di seluruh Indonesia. Dengan demikian persoalan etika jasa pelayanan medik (termasuk persoalan penulisan resep) selalu didorong untuk dikuasai oleh seluruh insan dokter di Tanah air (Roostantia, 2007). Terdapat empat azaz yang harus difahami oleh insan dokter pada umumnya dalam menjalankan jasa klinik yaitu (1) aotonomi, (2) beneficience, (3) non-malefience dan (4) justice. Adapun rule derivat emat azaz tersebut adalah veracity, privacy, confidentaility dan fidelity (Jacobalis, 2006a; Jacobalis, 2006b; Roostantia, 2007).

Secara khusus terdapat dlapan etika menulis resep oleh dokter hewan dengan butir-butirnya, yaitu  (Lazuardi, 2007):

1.      Prudentiality

Dokter hewan dalam penulisan resep diminta berhati-hati terutama terhadap :

  1. Tipe penebus resep (apakah akan disalahgunakan atau tidak) (DiGregorio and Barbieri, 1995).
  2. Kesalahan penulisan pada bagian praescriptio seperti nama dan jenis obat yang diminta dosis, bentuk sediaan yang dipilih, jumlah obat yang diminta, dsb (Spinelli and Enos, 1978; Lazuardi, 1996) .
  3. Jujur dan dapat dipercaya

Resep dokter hewan harus memiliki legitimasi tinggi, dengan demikian hanya dokter berizin yang memiliki legitimasi tinggi.  Di Eropa dan Amerika, penulis resep harus membubuhkan tanda tangan (bukan hanya paraf), dan harus di daftar ke lembaga resmi (British National Formulary, 1989; Gennaro, 1995).  Di Amerika profil resep sangat akomodatif dan menunjukkan tingkat legitimasi tinggi, sebagai contoh adalah blanko resep di bawah (Brander et al., 1982):

 

      Telephone (215) 555-2474

                            John V. Smith DVM

                            Paula A. Doe, DVM

      ——————————————————————–

                                                            Date

                                                            No. resep….

 

 

                  R/ 

 

 

 

 

             Dr……………………     Dr…………………

              Do not substitute           Substitution

                                                     Permissible

                                                    Qualification:….

            Client’s name

              Description subject (weight, sex)

             And address

            

 

  1. Non-Repet

             Instruction

             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Responsibility (bertanggungjawab)

Dokter dalam penulisa resep harus memegang prinsip keamanan yaitu (1) aman dari penimbul penyaki karena obat, (2) residu obat hewan, (3) pencemaran lingkungan.  Dengan demikian tindakan monitoring terapi obat harus terus-menerus dilakukan.  Di Inggris masalah monitoring obat pada manusia tetap dilakukan oleh dokter praktek dan di bawah ini adalah contoh formulir yang harus selalu diisi oleh dokter praktek di Inggris :

 

 In confidence-Committee on safety of medicine    (For advice on reporting reactions see)

Report on suspected adverse drug reaction     Adverse Reactions to Drugs section of BNF

 

 Name of patient

 Date of birth/age :  …………………… sex………………. Weight (kg)

 ——————————————————————————————————————–

 Suspect drug (brand name if known)………….Route …………..daily dose……………..

 Date started ……………..Date stopped……………….Indication………………………….

 

Suspect reaction                                                      Reporting Doctor (block letters)

……………………………………………………..       Name :…………………………

                                                                                 Address ………………………..

Date of onset …………  date stoped……………      ………………………………….

 

  1. Speciality

                                                                                 Signature         date

 

———————————————————————————————————————-

Other drugs :                 Route          Daily dose     date started   date stopped   Indication

 

 

 

Additional notes ……………………………………………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.      Non-descriminative

Penulis resep tidak diizinkan untuk mengarahkan apotik atau depo hewan mana yang seharusnya dituju, sehingga penebus resep memiliki kebebasan untuk memilih tempat penjualan obat. 

  1. Abused

Penulis resep tidak boleh menyalahgunakan seperti jual beli obat dan alkeswan atau penggunaan untuk pengobatan pada manusia, dsb. Contoh konkrit adalah :

R/  Spuit disposible 3 ml no XX

    

      S d.c form

             #

  1. Missused

Dokter hewan dilarang untuk menggunakan blanko resep tidak pada tempatnya

  1. Politnes

Dokter hewan penulis resep harus menuliskan dalam huruf-huruf yang dapat terbaca, serta menggunakan tinta gelap atau biru, dan harus selalu mengingatkan client agar menjaga keutuhan resep.  Dokter hewan harus mampu melafalkan nama-nama obat serta kepanjangan singkatan latin dengan aksen yang benar. Hal tersebut amat dibutuhkan manakala fihak pelayan obat menghubungi via telphon dan pada saat itu harus segera diputuskan (ingat Apoteker daat menuliskan resep di Apograph, sebagai kopi resep).  Bila tak mampu melafalkan nma obat besetya aksennya (termasuk bahasa latin) dikhawatirkan terjadi kesalahan disaat mengeja.

8.      Wisdom

Dokter hewan dalam menuliska resep tidak boleh menyulitkan pembeli obat dengan menuliskan nama-nama obat yang sulit didapat, sehingga resep dengan tidak dapat ditebus dengan cepat.

9.      Coaching

Dokter hewan dalam menuliskan resep, harus mampu melakukan edukasi terhadap pemilik hewan.

Kesimpulan

Penggunaan obat hewan pada dasarnya mengikuti prinsip logis dan bertanggungjawab dengan mengikuti falsafah ”Maximum Asclepiades” yaitu curare, cito, tuto et jucunde.  Manifestasi implikasi klinik yang legitimasi pada penggunaan obat hewan adalah yang termasuk dalam standard oprasional procedure sekaligus manifestasi dari ptinsip logico-verificatio. Tindakan empirik penggunaan obat yang belum diketahui secara ilmu pengetahuan (temuan empirik yang belum diverifikasi) dapat dilakukan monitoring terapi sebagai manifestasi tanggungjawab dokter hewan. Agar terhindarkan dalam masalah (1) ketidak percayaan, (2) tuntutan perdata dan pidana bagi dokter hewan dalam menggunakan obat hewan melalui penulisan resep, seyogyanya menerapkan etika jasa pelayanankedokteran hewan dan etika penulisan resep.

 

 

 

Daftar pustaka

 

Brander GC, Pugh DM and RJ Bywater, 1982. Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics. 4th Ed. London : Bailliere Tyndall.

 

British National Formulary, 1989. Great Britain : British Medical Asociation and Royal Pharmaceutical Society.

 

DiGregorio GJ and EJ Barbieri, 1995. Handbook of commonly prescribed drugs. 10th ed. USA : Medical Surveillance Inc., 237-245.

 

Gennaro AReds, 1995. Remington : Practice of Pharmacy. Vol II. 19th ed. USA : The Phyladelphia Collage of Pharmacy Science.1808-1821.

 

Jacobalis S, 2006a. Sumpah Dokter. Ebers Papyrus 12 (2) : 69-75

 

Jacobalis S, 2006b. Etika medis kontemporer. 12 (1) : 9-14.

 

Lazuardi M, 1996. Berlatih menulis resep dengan benar : Serial diktat Ilmu Farmasi-Veteriner. Surabaya : Fakultas Kedokteran Hewan Univ. Airlangga.

 

Lazuardi M, 2005. Pharmacokinetic of Suramin in Healthy Ongole Cattle Breed and Madura Cattle Breed. J. Veterinary Sci., 23 (2): 102-106.

 

Lazuardi M, 2007. Panduan dan Kontrak Perkuliahan PPDH Ilmu Terapetika Veteriner. Surabaya : Fakultas Kedokteran Hewan Univ. Airlangga.

 

Milks HJ and A Zeissig, 1947. Practical Veterinary Pharmacology, materia Medica and Therapeutics. 6th Ed. London: Bailliere Tindall and Co.

 

Roostantia I, 2007. Etika obat dan pengobatan dalam penulisan resep : Dalam Proceeding Seminar Ilmiah Nasional Drug Treatment : Designing, Prescribing and Monitoring 21 Juli 2007. Surabaya : BPP Perhimpunan Farmasi-Kedokteran Indonesia dan Departemen Farmasi-Kedokteran FK UNAIR.

 

Spinelli JS and LR Enos, 1978. Drugs in Veterinary Practice. USA: The CV Mosby Company. 335-337



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s