Training in Indonesia Quarantine Employe:

BIOSECURITY ATAU BIOSAFETY  LEVEL (BSL): APA DAN BAGAIMANA OPERASIONAL TEKNIS YANG HARUS DIPERSIAPKAN ?

 

Oleh : Dr. Mochamad Lazuardi, Drh., MSi

Peneliti Virus Foot Mouth Diseases, Sel kanker dan Tripanosoma spesies

Ketua Presidium Badan Kerjasama Farmasi-Veteriner se Indonesia

 Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR

 

Pendahuluan

Biosecurity dan biosafety, dalam terminology biohazardous memiliki makna yang saling berhubungan namun tidak identik.  Biosecurity memiliki tujuan yaitu ”to prevent loss, theft or misuse of microorganisms,
biological materials, and research-related information”.
Dengan demikian biosecurity muncul akibat penyelewengan-penyelewengan diantaranya karena keterbatasan akses terhadap suatu fasilitas yang memadai, termasuk keterbatasan memperoleh material penelitian maupun sumber informasi 1,2,3.

Biosafety merupakan program untuk “reduce or eliminate exposure of individuals and the environment to potentially hazardous biological agents. Dengan demikian biosafety banyak mengimplementasikan masalah aneka kontrol laboratorium, kontrol muatan unsur hazardous termasuk disain laboratorium, retriksi akses ataupun pembatasan lain. Demikian pula masalah kehandalan personal dan masalah pendidikan dan pelatihan termasuk kehandalan penanganan tampungan bahan-bahan hazardous dan penggunaan peralatan.  Hal yang selalu termasuk dalam biosafety adalah masalah penetapan metode aman untuk mengontrol bahan-bahan infeksi termasuk setting laboratorium. 1,2,3  Namun demikian dalam praktek lapangan, diketahui bahwa antara biosecurity dan biosefety bersifat komplementer Lebih lanjut mengenai  biosecurity dan biosafety dapat dilihat pada Tabel 1.

 

 

 

 

 

Tabel 1. Perbedaan Biosecurity dan Biosafety4

No

Biosecurity

Biosafety

1.

Mencegah dan mengamankan material patogen dan toksin termasuk catatan informasi terhadap kemungkinan pencurian, penyalahgunaan

 

Ukuran tindakan pencegahan terhadap penurunan resiko biologik

 

2.

Merupakan institusi dengan kebiasaan selalu mengkedepankan tanggungjawab sesuai tingkat pengamanan mengenai akses terbatas agen patogen, toksin berbahaya yang dapat dihaki oleh individual Menurunkan atau mengeliminasi paparan pekerja lab atau orang lain dan lingkungan luar yang berpotensi terpapar agen berbahaya dalam suatu kerja biosains atau riset biomedik.

 

3.

Menetapkan akuntabilitas berlebihan terhadap material didasarkan penilaian resiko keamanannya Terkait kehandalan dan tanggungjawab pekerja dalam menangani, menggunakan dan mentransfer material patogen berbahaya dan toksin sesuai tingkat kemampuan penahanan  laboratorium

 

4.

Mendorong kinerja program biosafety Pemilihan keamanan metode dalam mengatur material infeksi pada suatu laboratorium yang telah dirancang didasarkan penilaian resiko keamanan

 

 

 

BSL pada prinsipnya terkait aspek-aspek (1) penilaian management bioresiko,  (2) personal management, (3) material transport protokol, (4) pengamanan semua element-elemen fisik (termasuk prasarana dan sarana kerja), (5) emergency planning dan (6) program kerja.

Dengan demikian  komponen  biosasecurity  adalah sebagai berikut : (a) Physical security, (b) Personnel security , (c) Material control & accountability, (d) Transport security, (e) Information security, (e) Program management. Adapun  biosafety menyangkut hal-hal seperti  (a) biological safety cabinet, (b) protective clothing, (c) biohazard kits, (d) clean room HVAC air system, (e) isolators, (f) biological waste disposal  atau  (g) containment products.

Dalam perkembangan lebih lanjut Badan Kesehatan Dunia  bersama-sama  lembaga terkait (Tabel 2a), memilah konsep BSL yang disesuaikan bioresiko management dengan empat tingkatan (BSL-1, BSL-2, BSL-3 dan BSL-4).

 

Tabel 2a. Lembaga privat yang sering berinteraksi dengan masalah BSL

No

Nama-nama lembaga

Peranan

1 American Biological Safety Association (ABSA)  Membuat protokol dan hubungan internasional
2 European Biosafety Association (EBSA) Pemapar Biosafety dan Biosecurity
3 Netherlands Standardization Institute (NEN) Membuat projek-projek management, termasuk sekretariat standardisasi dan perancangan standardisasi
4 International Centre for Infectious Diseases (ICID) Melakukan coordinator kerjasama dan stakeholder management services
5 European Committee for Standardization (CEN) Melakukan pelatihan dan kegiatan kerjasama

 

Empat tingkatan tersebut pada dasarnya merupakan keterkaitan antara biosecurity dan biosafety seperti dipolakan oleh Badan Kesehatan Dunia (Gambar 1).

Visi integrated biorisk management :

  1. Increased focus on “awarness” to change current culture
  2. Clarity terminology
  3. Development  of targeted training strategy
  4. Securing “commitment” from key stakeholder, including government, officials, who must be on board
  5. Continue increasing ”capacity” base on regional country needs establish accountability through development of country “report cards”
Working safety

Biosafety

 

Biosecurity

Integrated biorisk management

Keeping the work secure

Biorisk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Gambar 1. Pola keterkaitan biosecurity dan biosafety versi Badan Kesehatan Dunia dalam menangani tatalaksana biorisk5

 

Tingkatan dan Biosafety Level (BSL)

 

Diketahui bahwa terdapat empat tingkatan BSL dengan tingkat tatalaksana masing-masing berbeda-beda (Tabel 2b). Masing-masing tingkatan tersebut melakukan kerja yang disesuaikan dengan birisk serta kapasitas rancangbangun prasarana (Tabel 3).  Dengan meruntut Tabel 2b dan Tabel 3, maka dapat disimpulkan bahwa biorisk yang akan diamanahkanpun berbeda-beda.  Namun setiap biorisk yang akan diamanahkan dalam setiap tingkatan sedikit banyak tergantung ”KETENTUAN NEGARA MASING-MASING”.  Sebagai contoh Human trypanosoma species seperti beberapa   negara di wilayah Afrika dianggap belum merupakan prioritas, namun di negara-negara yang tergabung dalam Tabel 2a, merupakan persoalan utama.  

  

Tabel 3. Tingkatan BSL dan Tatalaksana Kerja

No

Tingkatan BSL

Tatalaksana kerja

1

BSL-1

–    Cocok untuk kerja bagi agen biorisk TIDAK DIKETAHUI yang mampu menyebabkan penyakit dalam kesehatan manusia dewasa, minimal berpotensi membahayakan personal lab dan lingkungan.

–    Lab tidak harus dipisahkan dari aktivitas umum gedung (Gambar 2)

–    Kerja umumnya dalam kotak terbuka namun memiliki standard praktek mikrobiologi

–    Perangkat dan fasilitas lab sepeti umumnya lab-lab mikrobiologi

–    Personal lab, harus dilakukan training terkait dengan prosedur kerja dan disuperfisi oleh seorang ilmuwan yang memiliki latar belakang mikrobiolog dan ilmu-ilmu yang berhubungan

2

BSL-2

–       Sama dengan BSL-1 dan cocok untuk kerja dengan agen-agen yang tergolong ”moderate potential hazard” terhadap personal lab. dan lingkungan.

–       Perbedaan dengan BSL-1 adalah :

  1. Personal lab dilatih dengan kompetensi spesifik dalam menangani agen patogen yang langsung dibimbing oleh ahlinya
  2. Akses  pada lab dibatasi sewaktu dalam suasana bekerja (Gambar 3)
  3. Ekstra Hati-hati dalam menangani item-item  kontaminan yang terinci
  4. Memiliki prosedur terkemuka dalam menangani infeksi yang mampu disebarkan secara aerosol atau dilakukan dalam biosafety cabinet atau perangkat lain yang mampu menjaga kontaminant

3

BSL-3

–          Aplikatif untuk klinik, diagnostik, melatih, penelitian atau sebagai fasilitas produksi untuk agen-agen tergolong ”indigenous” (asli di wilayah itu) atau ”exotic agent” (penyakit langka) yang mana menyebabkan serius atau penyakit berpotensi kematian akibat hasil paparan melalui rute inhalasi.

–          Personal lab memiliki kemampuan hasil pelatihan spesifik dalam menangani agen patogenik dan agen berpotensi mematikan dan diawasi oleh ahlinya yang mana memiliki pengalaman kerja terhadap agen tersebut

–          Semua prosedur kerja yang melakukan manipulasi terhaap agent tersebut dilakukan dalam ”biological safety cabinet” atau perangkat yang secara fisik mengamankan agen-agen tersebut atau dengan perangkat dan baju yang mampu memproteksi person lab

–          Lab. Memiliki rancangbangun khusus (Gambar 4)

 

 

BSL-4

–          Ditetapkan untuk kerja agen berbahaya dan “exotic” yang memiliki risiko penularan individual “aerosol-transmited laboratory infection” dan agen-agen yang mampu bertahan lama meskipun sudah dibunuh.

–          Untuk agen dengan tingkat antigenik yang tingggi atau derivat-derivatnya

–          Untuk antigen  berbahaya yang membutuhkan kepastian identitas

–          Anggota lab mendapatkan pelatihan cukup yang menangani ”extreme hazardous infection agents” dan mereka mengerti cara-cara penanganan secara primer, sekundair (temasuk cara penanganan kontaminan perangkat lab.)

–          Lab memiliki disain tersendiri

–          Mendapat pelatihan langsung dari ahlinya yang sering menangani agen-agen penyakit khusus

–          Akses ke lab sangat amat terbatas dan dikontrol langsung oleh pimpinan pusat lab.

–          Fasilitas terpisah dengan aktivitas gedung administrasi atau dalam fasilitas terkontrol secara khusus

–          Fasilitas kerja terisolasi satu dengan lainnya

–          Perangkat kerja dilakukan amat tertutup dan dalam safety cabinet klas III

–          Atau seandainya menggunakan safety cabinet klas II, pakaian personal harus dalam tekanan udara rendah

–          Ruang gedung dan fasilitas memiliki rancangan dimana mikroorganisma tak akan mampu mencemari ruang kerja atau lingkungan.

 

Lebih lanjut keterkaitan antara BSL dengan tatalaksana kerja terkait pula dengan fasilitas yang ada serta analog prasyarat mikrobiologi tampak pada Tabel 4.

Prasyarat mutlak yang harus dimiliki semua BSL adalah pengetahuan dasar mengenai : (1) isolasi identifikasi virus, (2) isolasi identifikasi kuman, (3) isolasi identifikasi jamur, (4) isolasi dan identifikasi parasit, (5) isolasi identifikasi matrik asam inti baik belum transgenik maupun telah mengalami transgenik.  Oleh sbab itu pengetahuan umum Good Micribiology Practice dan Good Laboratory Practice serta Good manufacturing practice untuk obat-obatan golongan farmasetik mutlak dikuasai. Hal lain yang perlu dikuasai adalah pengggunaan analisa immunoassay dan analisis fisikokimia, harus dikuasai.

5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   Tabel 4. Keterkaitan antara BSL dengan tipe lab dan minimum requirement5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Ruang BSL-1. 5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Ruang BSL-2.5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Ruang BSL-3.5

 

Biorisk dan klasifikasi agen dalam BSL

Dalam suatu kriteria managemen biorisk lembaga-lembaga seperti pada Tabel 2a, serta Badan Kesehatan Dunia Memberikan lima tahapan arahan pengelolaan1,5.

  1. Mengidentitaskan dan memprorioritaskan agen biologik dan atau toksin
  1. Indentifikasi material biologik yang keluar pada institusi, berupa bentuk material, lokasi asal dan jumlah termasuk material-material yang tak perlu dilakukan sampling ulang (toksin-toksin dsb).
  2. Mengevaluasi potensi penggunasalahan terhadap material biologik tersebut
  3. Mengevaluasi konsekuensi penggunasalahan terhadap material biologik
  4. Memprioritaskan penanganan material biologi berdasarkan konsekuensi penggunasalahan (misal terhadap biomaterial yang dapat digunakan untuk tujuan mencelakakan).

n.b :

Pada poin ini, suatu institusi mungkin menemukan cara-cara baru yang dapat diimplementasikan mengenai program pemisahan/pengendalian  biosecurity atau pengendalian terhadap biomaterial termasuk catatan fasilitas-fasilitas yang mungkin harus dilengkapi.  Semua itu untuk penyempurnaan kerja

 

  1. Mengidentitaskan dan memprioritaskan perlawanan atau pembrantasan agen biologik atau toksin.
  1. Mengidentifikasikan tipe keahlian personal lab (‘Insiders”) yang mungkin mampu men”treatment” material biologis tersebut.
  2. Mengidentifikasikan tipe keahlian orang-orang diluar personal lab ”outsiders” (bila ada) yang mungkin mampu men ”treatment” material biologik yang ada pada institusi.
  3. Mengevaluasi motif, maksud dan kesempatan terhadap kemungkinan potensi pengguna-pengguna lain yang berposisi sebagai musuh 

 

  1. Menganalisa resiko terhadap skenario pengamanan spesifik
  1. Mengembangkan kemungkinan daftar scenario biosecurity atau kejadian-kejadian yang tak diinginkan yang dapat terjadi di institusi (tiap scenario dikaitkan dengan kombinasi agen biomaterial, serta pengguna-pengguna termasuk “an adversary”, termasuk aksi penanganan).

Konsideran :

–          Akses terhadap agen biohazard selama dalam lab

–          Bagaimana mencegah hal-hal yang tidak diinginkan bila benar-benar terjadi

–          Ukuran-ukran proteksi terhadap suatu tempat/wilayah untuk mencegah kejadian

–          Bagaimana menetapkan pengukuran proteksi memuaskan yang dapat dipecahkan (sebagai contoh untuk wilayah yang termasuk  ketidakkebalan).

 

  1. Mengevaluasi kemungkinan tiap skenario penanganan terkait dengan jenis material  dan berhubungan dengan konsekuensi tindakan, dengan asumsi-asumsi sebagai berikut  :
    1. Meskipun daerah sebar luas tetap dapat dilakukan tretment (termasuk agen bio material diluar daftar yang diketahui)
    2. Setiap agen biomaterial tidak sama karakterisasinya
    3. Dilakukan tindakan treatment tepat dan  terpercaya
    4. Penanganan dilakukan tindakan pemilahan secera selektif sesuai karakter biomaterial.

 

  1. Memprioritaskan ranking skenario penangan sesuai tingkat bahaya dan semuanya akan dilakukan review management penanganan

 

  1. Merancang dan mengembangkan secara keseluruhan program management resiko
    1. Tetap teguh terhadap pengelolaan seperti : kemungkinan kealpaan, implementasi penanganan, pelatihan, tetap mengadakan program-program biosecurity
    2. Mengembangkan statement program management resiko, mendokumentasikan baik yang telah diaplikasikan maupun yang gagal sewaktu menjalankan kontrol proteksi yang baik
    3. Mengembangkan perencanaan program biosecurity dan menguraikan tatacara suatu institusi menangani permasalah biomaterial termasuk mengurangi dan meredakan resiko yang tak diinginkan 

–          Menuliskan rencana pengamanan, standard operasional prosedur,perencanaan respon insiden (contoh menggunakan analisa SWOT)

–          Menuliskan protokol untuk pelatihan pegawai tentang potensial hazard, program biosecurity dan perencanaan respon insiden.

  1. d. Melakukan managemen sumber-sumber penyumbang kemunculan   biohazard yang telah dikenal/terdokumentasikan

 

  1. Mengatur dan mengevaluasi secara teratur aktivitas  institusi yang mengelola biomaterial berbahaya dan melakukan langkah-langkah protektif :
  1. Melakukan managemen re-evaluasi secara teratur dan membuat modifikasi seperlunya terkait :

–          Statment resiko biosecurity

–          Penilaian proses resiko biosekurity

–          Program/perencanaan biosecurity yang telah direncanakan oleh institusi

–          Sistem biosecuriy yang telah diatur oleh institusi

 

  1. Managemen implementasi keseharian dan pelatihan serta re-evaluasi tahunan program-program biosecurity

 

Beberapa kriteria penanganan agen berbahaya telah di kelompokan berdasarkan grup beresiko  untuk manusia ataupun berdasarkan hal lain seperti tampak pada Tabel 5 di bawah.  Namun demikian terdapat 3 penggolongan besar yaitu : 1. Agen berbahaya untuk tanaman, Agen berbahaya untuk hewan dan 3. Agen berbahaya untuk manusia.

Agen berbahaya untuk tanaman terbagi menjadi tiga lagi yaitu (a) agen berbahaya untuk tanaman dan buah-buahan namun masih belum transgenik dan tak berbahaya untuk lingkungan, hewan dan manusia (b) agen berbahaya untuk tanaman namun berbahaya untuk lingkungan, hewan dan manusia, (c) agen transgenic.

Agen berbahaya untuk hewan termasuk dalam kelompok biohazard yaitu : Kelompok Parasit, Bakteri, Virs dan jamur serta antara bakteri dan jamur (seperti Psitacosis).  Agen berbahaya untuk manusia pada dasarnya hamper sama dengan manusia namun ada tambahan yaitu :

  1. Unsur- asam inti yang tak hidup dalam sel eukaryot maupun prokaryot (contoh asam-asam amino suatu agen berbahaya).
  2. Unsur-unsur asam amino yang dihidupkan dalam sel eukaryot seperti dalam sel :

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 5.  Kriteria penanganan agent berbahaya berdasarkan resiko

 

Dasar pembagian

Kelompok

bahan

Kriteria

Keterangan

 

 

BERDASARKAN RESIKO

 

Resiko grup I Agen yang tak berhubungan dengan penyakit dalam bidang kesehatan manusia dewasa Escherichia coli,   Bacillus subtilis or Bacillus licheniformis    Adeno-associated virus types 1 – 4
Resiko grup II Agen berhubungan dengan penyakit manusia yang mana jarang ditemukan dan sangat serius serta tindakan pencegahan ataupun intervensi pengobatan dapat  dan  sering dilakukan Borrelia burgdorferi

Escherichia coli

 all enteropathogenic, enterotoxigenic,

  1. enteroinvasive and strains bearing K1  antigen    Mycobacterium (except those listed in Risk Group 3) including M. avium complex    Staphylococcus aureus    Leishmania including L. major and L. mexicana    Toxoplasma including T. gondii    Adenoviruses, human – all types    Eastern and western equine encephalomyelitis virus    Yellow fever virus vaccine strain 17D    Rabies virus – all strains
Resiko grup III Agen yang berhubungan dengan serius atau penyakit-penyakit yang menyebabkan kematian manusia dimana tindakan pencegahan serta intervensi pengobatan mungkin harus selalu dilakukan (penyakit yang mampu menularkan individual dengan resiko tinggi tetapi dalam komunitas masyarakat memiliki resiko kecil) Brucella including B. abortus, B. canis, B. suis 

Mycobacterium bovis (except BCG strain)    Mycobaterium tuberculosis    Rickettsia species    Yersinia pestis    Histoplasma capsulatum    Venezuelan equine encephalomyelitis virus (except vaccine strain TC-83 – RG2)    Japanese encephalitis virus    Human immunodeficiency virus (HIV) types 1 and 2

Resiko grup IV Agen yang dapat menyebabkan kasus serius atau penyakit yang dapat mematikan manusia dimana tindakan pencegahan serta intervensi pengobatan mungkin harus selalu dilakukan (penyakit yang mampu menularkan individual dengan resiko tinggi namun  dalam komunitas masyarakat juga memiliki resiko tinggi) Lassa virus 

Crimean-Congo hemorrhagic fever virus 

Ebola virus 

Herpesvirus simiae (Herpes B or Monkey B virus) 

Hemorrhagic fever agents and viruses as yet undefined

Agent eiologi virus asal hewan yang sering ditemukan

Umum

Daftar  lanjutan agen etiologi asal hewan yang dapat menjadi daftar agen  etiologi pada kasus manusia. Namun yang dapat mengakibatkan kefatalan pada manusia dewasa dan sering digunakan pada lab eksperimental. Namun beberapa tak langsung menginfeksi sel manusia dan dimasukkan dalam Grup resiko I.  Sedangkan yang dapat menginfeksi sel manusia dimasukkandalam Grup Resiko II.

 

Baculoviruses    Herpesviruses (H. ateles, H. saimiri, Marek’s disease virus, murine

cytomegalovirus)    Papovaviruses (bovine papilloma virus, Polyoma virus, Simian virus 40)    Retroviruses (Avian leukosis virus, bovine leukemia virus, Feline leukemia virus,

Feline sarcoma virus, Gibbon ape leukemia virus, Mason-Pfizer monkey virus,

Murine leukemia virus, Murine sarcoma virus)

Vektor virus

Umum

Yang digunakan untuk transfer genetic eksperimental (kurang dari 10 liter), mengandung kurang dari 50% kandungan diri virus l(viral genom ) dan dapat didemonstrasikan bebas melakukan replikasi sebagai retrovirus, ditangani dalam kriteria BS-1 Murine retroviral vektor

 

  1. Jaringan dalam tubuh hewan dimaksudkan adalah  “animal dander”, plant viruses, bacteria, fungi dan toxins (bacterial, plant, dsb.).

Beberapa agent biohazard tanaman yang tergolong masuk dalam kelompok BSL-3 dan BSL-4 adalah :

  1. Peronosclerosphora sacchari
  2. Phytophthora kernoviae.
  3. Plum pox virus
  4. Xylella fastidiosa (menyebabkan Pierce’s diseases)
  5. Cucumber Mosaic Virus
  6. Ringspot Virus pada papaya melalui kuman Agrrobacterium
  7. Ringspot virus (Coat Protein) pada papaya
  8. Tobacco mosaic virus pada tembakau
  9. Potato leaf roll virus pada kentang

10. Zucchini mosaic yellow virus pada melon

11. Tomato spot wilt virus pada tomat

12. Rice strip virus pada padi

13. Alfalfa mosaic virus

14. Virus pada jeruk

 Agen tanaman pathogen :

  • Candidatus Liberobacter africanus
  • Candidatus Liberobacter asiaticus
  • Peronosclerospora philippinensis
  • Ralstonia solanacearum race 3, biovar 2
  • Schlerophthora rayssiae var zeae
  • Synchytrium endobioticum
  • Xanthomonas oryzae pv. oryzicola
  • Xylella fastidiosa (citrus variegated chlorosis strain)

 Lebih lanjut katagori biohazard dapat dilihat pada keterangan di bawah dimana dimasukkan dalam pengerjaan BSL-3 dan 4  seperti kelompok  di bawah :

No Kelompok BSL Klasifikasi Biohazard
1. BSL-3 KLAS-2
2. BSL-3-4 KLAS-3 sampai KLAS 5

Katagori umum :

  • Bakteri
    • a) Bakteri patogen
    • b) Bakteri yang resisten terhadap obat-obat plasmid 
  • Fungi
  • Virus
    • a) Oncogenic viruses
    • b) Virus hewan lain
  • Rickettsiae
  • Chlamydiae
  • Parasites
  • Recombinant DNA dan produk derivatnya  
  • Semua spesimen klinik (jaringan, eksudat dsb)

Klasifikasi agen biohazard didasarkan pada tingkat bahaya.6

Agen klas 1

  • Semua bakteri, parasit, fungal, viral, rickettsial, dan chlamydial dan agen penyakit yang tidak termasuk dalam klas tinggi kelompok 1.

Agen klas 2

·         Agen bakterial klas 2

  •  
    • Acinetobacter calcoaceticus
    • Actinobacillus-all species
    • Aeromonas hydrophila
    • Amycolata autotrophica
    • Arizona hinshawii-all serotypes
    • Bacillus anthracis
    • Bordetella-all species
    • Borrelia recurrentis, B. vincenti
    • Campylobacter fetus
    • Campylobacter jejuni
    • Chlamydia psittaci
    • Chlamydia trachomatis
    • Clostridium botulinum, Cl. chauvoei, Cl. haemolyticum, Cl. histolyticum, Cl. novyi, Cl. septicum, Cl. tetani
    • Corynebacterium diphtheriae, C. equi, C. haemolyticum, C. pseudotuberculosis, C. pyogenes, C. renale
    • Dermatophilus congolensis
    • Edwardsiella tarda
    • Erysipelothrix insidiosa
    • Escherichia coli-all enteropathogenic, enterotoxigenic, enteroinvasive and strains bearing K1 antigen
    • Haemophilus ducreyi, H. influenzae
    • Klebsiella-all species except oxytoca
    • Legionella pneumophila
    • Leptospira interrogans-all serotypes
    • Listeria-all species
    • Moraxella-all species
    • Mycobacteria-all species except those listed in Class 3
    • Mycobacterium avium
    • Mycoplasma-all species except Mycoplasma mycoides and Mycoplasma agalactiae, which are in Class 5
    • Neisseria gonorrhoea, N. meningitides
    • Nocardia asteroides, N. brasiliensis, N. otitidiscaviarum, N. transvalensis
    • Pasteurella-all species except those listed in Class 3
    • Rhodococcus equi
    • Salmonella-all species and all serotypes
    • Shigella-all species and all serotypes
    • Sphaerophorus necrophorus
    • Staphylococcus aureus
    • Streptobacillus moniliformis
    • Streptococcus pneumoniae, S. pyogenes
    • Treponema carateum, T. pallidum, and T. pertenue
    • Vibrio cholerae, V. parahemolyticus
    • Yersinia enterocolitica

 

·         Agen fungi klas 2

  •  
    • Blastomyces dermatitidis
    • Cryptococcus neoformans
    • Paracoccidioides braziliensis

 

·         Agen parasit klas 2

  •  
    • Endamoeba histolytica
    • Leishmania sp.
    • Naegleria gruberi
    • Schistosoma mansoni
    • Toxocara canis
    • Toxoplasma gondii
    • Trichinella spiralis
    • Trypanosoma cruzi

 

·         Agen klas 2  Viral, Rickettsial, dan Chlamydial spesies

  •  
    • Adenoviruses-human-all types
    • Cache Valley virus
    • Coronaviruses
    • Coxsackie A and B viruses
    • Cytomegaloviruses
    • Echoviruses-all types
    • Encephalomyocarditis virus (EMC)
    • Flanders virus
    • Hart Park virus
    • Hepatitis viruses-associated antigen material
    • Herpesviruses-except Herpesvirus simiae (Monkey B virus) dengan yang termasuk dalam klas 4
    • Influenza viruses-semua tipe kecuali  A/PR8/34, dengan yang termasuk dalam klas 1
    • Langat virus
    • Lymphogranuloma venereum agent
    • Measles virus
    • Mumps virus
    • Parainfluenza virus-all types except Parainfluenza virus 3, SF4 strain, which is in Class 1
    • Polioviruses –semua tipe lapangan dan yang telah atenuasi
    • Poxviruses-semua tipe kecuali Alastrim, Smallpox, dan Whitepox yang mana merupakan klas 5 dan Monkey pox yang mana tergantung penelitiandalam klas 3 atau klas 4.
    • Rabies virus-semua strain terkecuali Rabies street virus yang mana selalu diklasifikasikan klas 3
    • Reoviruses-semua tipe
    • Respiratory syncytial virus
    • Rhinoviruses-semua tipe  
    • Rubella virus
    • Simian viruses-semua tipe kecuali  Herpesvirus simiae (Monkey B virus) dan  Marburg virus yang diklasifikasikan klas 4
    • Sindbis virus
    • Tensaw virus
    • Turlock virus
    • Vaccinia virus
    • Varicella virus
    • Vesicular stomatitis virus
    • Vole rickettsia
    • Yellow fever virus, 17D vaccine strain

 

·         Klas 2  Oncogenic Viruses

Low-Risk Oncogenic Viruses

  •  
    • Adenovirus 7-Simian virus 40 (Ad7-SV40)
    • Adenovirus
    • Avian leukosis virus
    • Bovine leukemia virus
    • Bovine papilloma virus
    • Chick-embryo-lethal orphan (CELO) virus atau  fowl adenovirus 1
    • Dog sarcoma virus
    • Guinea pig herpes virus
    • Lucke (Frog) virus
    • Hamster leukemia virus
    • Marek’s disease virus
    • Mason-Pfizer monkey virus
    • Mouse mammary tumor virus
    • Murine leukemia virus
    • Murine sarcoma virus
    • Polyoma virus
    • Rat leukemia virus
    • Rous sarcoma virus
    • Shope fibroma virus
    • Shope papilloma virus
    • Simian virus 40 (SV-40)

Moderate-Risk Oncogenic Viruses

  •  
    • Adenovirus 2-Simian virus 40 (Ad2-SV40)
    • Epstein-Barr virus (EBV)
    • Feline leukemia virus (FeLV)
    • Feline sarcoma virus (FeSV)
    • Gibbon leukemia virus (GaLV)
    • Herpesvirus (HV) ateles
    • Herpesvirus (HV) saimiri
    • Simian sarcoma virus (SSV)-1
    • Yaba

Agen klas 3  

·         Agen bacterial klas 3

  •  
    • Bartonella-semua spesies
    • Brucella-semua spesies
    • Francisella tularensis
    • Mycobacterium bovis, M. tuberculosis
    • Pasteurella multocide type B – “buffalo” dan virulent strains yang lain
    • Pseudomonas mallei
    • Pseudomonas pseudomallei
    • Yersinia pestis

 

·         Agen fungi klas 3

  •  
    • Coccidioides immitis
    • Histoplasma capsulatum
    • Histoplasma capsulatum var. duboisii

 

·         Klas 3 Viral, Rickettsial, and Chlamydial Agents

  •  
    • Monkey pox virus-sewaktu digunakan in vitro
    • Arboviruses-semua strain kecuali klas 2 dan 4 (Arboviruses dimiliki di Amerika dan dikatagorikan klas 3 kecuali yang di daftar di klas 2. West Nile and Semliki Forest viruses dapat diklasifikasika ke atas atau ke bawah tergantung kondisi penggunaan dan geografi lokasi lab).
    • Dengue virus-sewaktu di tularkan ke hewan saat eksperimental
    • Lymphocytic choriomeningitis virus (LCM)
    • Rickettsia-all species kecuali Vole rickettsia sewaktu ditularkan ke hewan percobaan saat eksperimental
    • Yellow fever virus-wild, sewaktu digunakan in vitro

Agen klas 4

·         Agen klas 4, Rickettsial, dan Chlamydial

  •  
    • Ebola fever virus
    • Monkey pox virus- sewaktu ditularkan ke hewan percobaan saat eksperimental  (lihat Recombinant DNA Guidelines)
    • Hemorrhagic fever agents-including Crimean hemorrhagic fever, (Congo), Junin, dan Machupo viruses, dan yang belum teridentifikasi
    • Herpesvirus simiae (Monkey B virus)
    • Lassa virus
    • Marburg virus
    • Tick-borne encephalitis virus complex-including Russian spring-summer encephalitis, Kyasanur forest disease, Omsk hemorrhagic fever, dan Central European encephalitis viruses
    • Venezuelan equine encephalitis virus, epidemic strains- sewaktu ditularkan ke hewan percobaan saat eksperimental  
    • Yellow fever virus-wild- sewaktu ditularkan ke hewan percobaan saat eksperimental  

Agen klas 5 (lihat Recombinant DNA Guidelines)

Penyakit hewan yang tidak boleh masuk ke Indonesia

  • Foot and mouth disease virus

 

Penyakit hewan yang tak boleh masuk di daerah bebas penyakit seperti di bawah :

  • African horse sickness virus
  • African swine fever virus
  • Besnoitia besnoiti
  • Borna disease virus
  • Bovine infectious petechial fever
  • Camel pox virus
  • Ephemeral fever virus
  • Fowl plague virus
  • Goat pox virus
  • Hog cholera virus
  • Louping ill virus
  • Lumpy skin disease virus
  • Mycoplasma mycoides-contagious bovine pleuropneumonia
  • Mycoplasma agalactiae-contagious agalactia of sheep
  • Nairobi sheep disease virus
  • Newcastle disease virus-Asiatic strains
  • Rhinderpest virus
  • Rickettsia ruminatium-heart water
  • Rift valley fever virus
  • Sheep pox virus
  • Swine vesicular disease virus
  • Teschen disease virus
  • Theileria annulata
  • Theileria bovis
  • Theileria hirci
  • Theileria lawrencei
  • Theileria parva-East Coast fever
  • Trypanosoma evansi
  • Trypanosoma vivax-Nagana
  • Vesicular exanthema virus
  • Wesselsbron disease virus
  • Zyonema

Organisme yang tak dikaji di Indonesia kecuali memiliki sarana lab yang memadai (lihat ke Recombinant DNA Guidelines)

  • Alastrim
  • Small pox
  • White pox

 

 

Keamanan perlengkapan dan Fasilitas laboratorium

 

Fasilitas laboratorium harus disesuaikan dengan tingkat biosafety yang telah ditetapkan. Badan Kesehatan Dunia menetapkan minimum requirement yang harus ada pada tingkatan BSL, seperti di bawah (Tabel 6) :5,7  Namun demikian yang lebih penting adalah imunisasi personal lab yang akan melakukan tugas di BSL.  Badan kesehatan dunia telah menetapkan jenis vaksinasi apa saja yang harus diterimakan oleh petugas lab, diantaranya adalah :

  •  
    1. Bacillus anthracis,
    2. Clostridium botulinum,
    3.  Francisella tularensis type A,
    4. Haemophilus influenzae,
    5.  Japanese B encephalitis virus,
    6. Mycobacterium leprae,
    7.  Neisseria meningitidis,
    8. Yersinia pestis,
    9. Hepatitis A virus,
    10.  Influenza virus,
    11.  louping ill virus,
    12.  Rabies
    13. Absettarov virus,
    14.  Hanzalova virus
    15.  Rift Valley fever virus,
    16.  Tick-borne encephalitis viruses,
    17.  Haemorrhagic fever virus
    18.  Varicella-zoster virus,
    19.  Venezuelan equine encephalomyelitis virus,
    20.  Yellow fever virus.
    21.  Vaccinia vaccine direkomendasikan untuk personal yang akan menangani  orthopoxviruse

      Tabel 6. Keamanan perangkat dan fasilitas laboratorium

Tipe BSL

Perangkat

Pengamanan (barier pertama)

Fasilitas

 Laboratorium (barier ke dua)

 

 

BSL-1

Perangkat untuk manualisasi agen seperti biological safety cabinet, cukup menggunakan klas I Lab harus memiliki pintu untuk mengakses ke pusat kontrol
Direkomdasikan mengunakan baju lab untuk mencegah penularan Tiap lab harus memiliki unit cuci tangan
Selalu menggunakan sarung tangan Lab dirancang untuk mudah dibersihkan.  Karpet dan permadani tak harus ada
Direkomendasikan selalu menggunakan kacamata pelindung dalam rangka mengantisipasi penularan agen yang berbahaya Meja lab tak mudah meresap air dan tahan panas, pelarut organik, asam alkalidan desinfektan antiseptik
  Diantara meja, kabinet dsb harus terdapat derah yang digunakan untuk daerah pembatas dan mudah dibersihkan
Bila ruang ingin berhubungan bagian luar maka pintu ruang harus dibuat kasa nyamuk
Lab harus memiliki pintu untuk mengakses ke pusat kontrol
Tiap lab harus memiliki unit cuci tangan
 

BSL-2

Menngunakan safety cabinet klas 2 terutama untuk melakukan sentrifus, grinding, blending, mengocok, sonifikasi bahan berbahaya dalam jumlah besar Ruang tertutup
Menggunakan sarana face protection Lab tak boleh berada di wilayah public area
Pakaian sarung tangan dsb, digunakan dalam ruang tersebut , dan digunakan di luar lab. Tiap unit kerja memiliki wastafel, dan bila membersihkan kaki hingga ke ujung kaki dan rambut
Sarung tangan harus disposible Meja lab tak mudah meresap air dan tahan panas, pelarut organik, asam alkalidan desinfektan antiseptik
  Lab fibersihkan degan alkoholurniture termasuk meja beraala dari stainless still yang dapat d
Biological safety  dapat terletak berjauha  dengan area kerja admnistrasi
Bekerja mengunakan penutup muka
Ruang denga vetilator dan udara tersaring
 

BSL-3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pakaian lab tak digunakan diluar lab dan hanya didalam lab, dan bersifat untuk satu kali kerja Ruang lab harus terpisah dari gedung administras lain
Menggunakan sarung  tangan penutup muka satu kali pakai Dilengkapi pintu yang memiliki pintu penutup aotomatis
Tak harus menggunaka disposible, dapat sarung tangan, serta perlengkapan lain yang dapat dicuci kembali Seluruh interior mertupakan water resistant
Bekerja dalam safet cabinet klas 2 Furniture dari stainlessteel yang mudah dibersihkan dengan alkohol
  Ruang lab menggunakan HEPA filter
Ruang memiliki tekanan negatif
 

BSL-4

 

 

Seluruh pakaian dan penutup muka disposible Lab terpisah dan terisolir
Safety cabinet klas 3 Daun pintu double dan tak terdapat ventilasi dengan sistem penyaring HEPA
Tak dapat bekerja langsung dengan agent penyakit, namun melalui perangkat lab atau dengan penutup dalam safety kabinet klas 3 Dalam lab terdapat perlengkapan UV yang selalu nyla saat lab tak dilakukan kerja
  Lab memiliki tekanan negatif

 

 

Sterilisasi, Antiseptik Desinfektansia

 

Sterilisasi, Antiseptik dan desinfektansia mutlak diperlukan dan semuanya itu bertujuan untuk melakukan tindakan biosecuriti. Dalam sterilisasi, digunakan ruang tersendiri yang dekat dengan fasilitas seperti :

  •  
    1. Washing room
    2. Hot room untuk mengeringkan pasca pembersihan
    3. Steril room untuk unit yang bertugas melakukan kerja steril
    4. Clean room untuk menyimpan perangkat/ peralatan pasca sterilisasi

 

Ruang steril dan pengerjaan sterilisasi sangatlah vital dan umumnya dibutuhkan untuk kerja peralatan yang membutuhkan tingkat sterilisasi tinggi, seperti kultur jaringan hewan dan kultur jaringan tanaman. Disamping itu juga untuk kerja seperti diagnotik mikrobiologi. Di bawah ini adalah gambaran aneka sterilisasi yang dapat digunakan pada ruang steril sebeum masuk dalam rual BSL.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAHAN ANTISEPTIK DAN DISINFEKTANSIA YANG DIGUNAKAN

  1. Acetarsone

(Acetarsonum; 3-Acetamido-4-hydroxybenzene arsonic acid)

 Suatu serbuk  puti kekuningan, tidak berbau dan mengandung tak kurang 98,8% -101,15% C8H10AsNO.  Serbuk acetarsone sedikit larut dalam air dan tak larut dalam alkohol. Namun pada pelarut alkalis hidroksida atau karbonat dapat larut sempurna.

 

  1. Diluted Acetic acid

Suatu solutio asam asetat mengandung tak kurang 5.7 gram s/d 6,3 gram CH3COOH (asam asetat) dalam 100 ml aquadestilata. Suatu lautan stabil dengan kemurnian tinggi dan dapat digunakan sebagai bakterisidal. 

 

  1. Ethanol,

Suatu turunan dari alkohol (ethyl alkohol)  dengan bentuk sedian cair mudah menguap dan mampu besifat sebagai disinfektansi. Kadar 70% dapat bersifat antiseptik baik terhadap protozoa, kuman dan jamur. 

 

  1. Isoprophyl alkohol

Dikenal dengan nama lain 2-propanolol, alcohol isoprophylicum atau isopropanol.  Merupakan larutan mudah menguap dengan rasa menggigit dan bau cukup khas.  Umumnya digunakan sebagai pelarut dan dapat digunakan sebagai antiseptik- disinfektansia. 

 

  1. Phenol

Dikenal dengan nama lain carbolic acid dan mengandung tak kurang dari 99% C6H6O. Phenol  termasuk mudah larut dalam air (gram dalam 15 ml air), sangat larut dalam alkohol, glycerin, chloroform, ether dan minyak yang mudah menguap.  Merupakan kristal tajam tak berwarna hingga keputihan dan harus disimpan dalam wadah tertutup. Sering digunakan sebagai antiseptik – disinfektan pada kadar 0,5-1 % dalam air, dalam unguentum dapat diatur hingga kadar 2%. 

 

  1. Chlorbuthanol.

           Suatu antiseptik disinfektan poten baik untuk mikroorganisme (gram positif atau gram negatif) serta jamur.

 

  1. Phenyl mercury nitrat

Merupakan campuran phenyl mercuri nitrat dengan phenyl mercuri hydrochloride.  Merupakan kristal putih yang akan rusak akibat pengaruh cahaya.  Sangat larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol dan gliserin.  Berkhasiat sebagai antiseptik dan disinfektan terutama kadar 0,002%, dan dapat digunakan untuk anti jamur.

 

  1. Ethylen oxide.

Merupakan senyawa mudah menguap tak berwarna dengan rasa seperti terbakar. Mengandung 96-98% ether dalam alkohol dan air. Sangat mudah terbakar dan sifat menguap dengan campuran udara bersifat mudah meledak. Akan menguap bila dipanaskan pada suhu 35,5 0C.

 

  1. Benzalkonium chloride

Merupakan suatu senyawa aromatik, amorp putih kekuning-kuningan kurang berbau dan berasa sangat menggigit. Sangat larut dalam air, dalam alkohol dan aseton namun tak larut dalam eter. Dapat dibuat solutio dan tidak bersifat iritant pada kulit oleh sebab itu dapat digunakan untuk aplikasi mukosa dan kulit.

 

10. Benzethonium chloride

Merupakan kristal kurang berwarna dan kurang berbau dengan rasa menggigit.  Senyawa ini mudah larut dalam air, alkohol dan chloroform. Bekhasiat sebagai antiseptika dan germicide 1 : 1000 dalam air dan 1 : 500 dalam tinctura. 

 

11. Bithionol

Suatu senyawa dengan nama lain 2,2;-Thiobis(4,6-dichlorophenol) berupa serbuk kristal putih ke abu-abuan dengan bau mirip fenol.  Senyawa ini tak larut dalam air, namun sangat larut dalam aseton, alkohol dan eter.

 

12. Boric acid

Merupakan serbuk putih yang mudah menguap pada pemanasan.  Serbuk tersebut termasuk mudah  larut dalam air dan alkohol  (1 : 18). Sedngkan pada air  panas amat mudah larut  (1:4), dan kelarutan akan dipermudah dengan tambahan asam sitrat dan asam tartarat.

 

 

13. Calcium hydroxide

  1. Calcium hydroxide dalam air terkenal dengan nama Milk of lime dan  berkhasiat sebagai antisepptik disinfektan untuk mikroorganisme patogen.

 

14. Cetylpyridinum chloride.

Suatu monohydrat dari garam quarternary piyridine dan cethyl chlorida. Mengandung tidak kurang dari 99%-1102% C21H38ClN.H2O.  Merupakan bubuk dengan karakteristik warna putih dan berbau.  Titilk leleh senyawa ini antara 77-83 0C dan tak apat disterilisasi menggunakan panas.  Sangat larut dalam air alkohol dan chloroform, namun sedikit larut dalam benzene dan eter.  Cetyl pyridium chloride berkhasiat sebagai antiseptik lokal dan mampu membunuh mikroorganisme dengan klasifikasi sensitif terhadap non-sporulatng bakteri.

 

15. Chlorothymol

Memiliki nama lain sebagai monochlorothymol, dan merupakan senyawa aromatik kristal putih atau serbuk granular dengan karakteristik berbau.  Warna serbuk akan menghilang berubah menjadi kekuningan terkait dengan penyimpanan lama.  Senyawa tersebut cukup diberikan 1 gram untuk dapat larut dalam 0,5 ml alkohol dan 2 ml benzene, 2 ml chloroform1,5 ml ether dan 10 ml pelarut hexane

 

16. Creosote

Dikenal dengan nama Wood creosote, dan merupakan campuran fenol yang didapat dari wood tar. Wood tar diketahui berasal dari beechwood.  Merupakan minyak cair kurang berwarna atau kekungingan, rasa sangat iritant, dan rasa tidak enak. Creosot sedikit larut dalam air tetapi tercampur baik dengan alkohol, ether dan campuran minyak volatil dengan pelarut yang dapat melarutkan cresoto melalui penambahan senyawa bersifat alkali hydroksida . Berkhasiat sebagai disinfektansia dan dapat diplikasikan menggunakan pencelupan kapas.

 

17. Cresol

Dikenal dengan nama Creosylol, atau Trichresol., dan merupakan campuran isomeric cresol yang didapat dari petrolatum.  Cresol mengandung tidak lebih dari 5 % phenol. Suatu cairan kekuningan atau  abu-abu kekuningan.  Satu ml cresol dapat larut dalam 50 ml air, namun dengan alkohol, ether, glycerin hanya dapat bercampur. Berkhasiat sebagai disinfektansia dan dapat digunakan sebagai bahan kimia keperluan sterilisasi alat terutama pada kadar 1-5%.

 

 

18. Formaldehyde solution

Merupakan larutan yang mengandung tidak kurang 37% formaldehid dengan metanol untuk mencegah polimerisasi. Sebagai lautan disinfektansia, dapat digunakan kadar antara 10-40%. 

 

19. Halazone

Merupakan senyawa mengandung tidak kurang 91,5% dan tidak lebih dari  100,5% C7H5Cl2NO4S. Halazone berupa bubuk kristal putih dengan bau chlorine, dan akan meleleh pada 195 0C. Senyawa ini sedikit larut dalam air atau chloroform. Halazone dapat digunakan untuk sterilisasi benda-benda logam atau polysteryne seperti tempat minum ayam, dsb.

 

20. Hexachlorophen

Suatu senyawa yang mengandung tidak lebih dari 98% C13H6Cl6O2. Suatu bubuk putih tak berbau yang dapat meleleh diantara 161 – 167 0C.  Tidak larut dalam air, tetapi mudah larut dalam aseton, alkohol dan eter. Bekhasiat sebagai bakteriosidal dan dapat digunakan untuk germisidal.

 

21. Hexylresorcinol

Suatu kristal putih atau kuning keputihan, yang akan larut dala air dengan perbandingan 1 : 2000, namun sangat larut dalam alkohol, metanol, glycerin.  Sebagai antiseptik digunakan pengenceran hingga 1 : 1000.  Penggunaan sebagai disinfektan peralatan dapat digunakan dengan pengenceran 1 : 1000.

 

22. Iodine solution

Mengandung tidak kurang dari 99,8% Iodine, dan merupakan granula hitam pekat. Satu gram Jodine dapat larut dalm 2950 ml air, atau 13 ml alkohol, dan 10 ml benzena. Digunakan secara luas sebagai antiseptik dan germisidal.  Sebagai antiseptik dan disinfektan dapat menggunakan 1,8 sampai 2,2 % dalam 100 ml larutan.

 

23. Merbromin solution

Mebromin adalah suatu disodium salt dari 2,t-dibromo-4-hydroxymercurifluoresence.  Merupakan granula tak berbau, stabil di udara.  Mudah larut dalam air. Dan tak larut dalam alkohol, aceton, chloroform dan ether. Berkhasiat sebagai antiseptik dan disinfektansia, dapat diberika pada luka akut dengan kadar 1-2%.

 

 

24. Yellow mercuric acid

  1. Yellow mercuri oxide berkhasiat sebagai antibakterial dan dapat digunakan dengan kadar 1%. Penggunaan dalam masa unguentum dapat menggunakan kadar hingga 10%..

     

25. Methyl benzethonium chloride

Merupakan suatu senyawa yang mengandung tak kurang dari 97-103%, dan merupakan serbuk tak berbau, sangt larut dalam air alkohol dan chloroform, namun sedikit laruts dalam eter.bekhasiat sebagai kationik antiseptik dan dapdt digunakan untuk pembebashamaan peralatan kesehatan. Penggunakan dapat berkisar sampai 0,1 hingga 0,055% dan untuk disinfektan jaringan kulit dapat digunakan 1/1000 s/d 1/100.

 

26. Methylparaben

Dikenal dengan nama lain sebagai Nipagin M, dan merupakan suatu kristal tidak berwarna atau bubuk kristal berwarna keputihan tak berbau dan akan meleleh pada suhu antara 125-128 0C.  Satu gram metilparaben akan larut dalam 400 ml air, 2,5 ml alkohol, 10 ml etheratau 50 ml air pada suhu 80 0C.  Sebagai baha pengawet sediaan galenika denga kadar antara 0,05-0,25%.   Sebagai antiseptik dapat digunakan kadar antara 0,15 – 1,5%  dalam larutan.

 

27. Methylrosaniline chloride

Adalah suatu serbuk hitam kehiijauan yang larut dalam air.  Satu gram methylrosaniline chloride dapat dilarutkan dalam 10 ml alkohol, 15 ml glycerin. Larut dalam chloroform tapi tak larut dalam ether. Berkhasiat sebagai antibakterial baik gram positif maupun gram negatif. Dapat dimanfaatkan sebagai anthelmintik.

 

28. Nitromersol

  1. Dapat digunakan untuk disinfektan terhadap peralatan-peralatan bedah baik yang terbuat dari logam, kaca maupun dari karet dan plastic.

 

29. Parachlorphenol

Mengandung tidak kurang dari 99% C6H5CLO, dan merupakan kristal pink dengan bau seperti phenolik. Sangat larut dalam alkohol, glycerin,chloroform ether dan campuran minyak volatil.  Berkhasiat sebagai lokal antibbakteri seperti halnya phenol. Kemampuan germisidal dapat ditingkatkan dengan substitusi atom halogen dari molekul fenol.

 

30. Camphorated parachlorphenol

Mengandung tidak kurang dari 33-37% parachlorphenol dan 63-67% camphor, jumlah parachlorphenol dan camphor tak lebih dari 97-103%. Berkhasiat sebagai antibakterial untuk membersihkan karang-karang gigi atau lubang-lubang pada gigi.

 

31. Phenyl ethyl alkohol

Suatu cairan tidak berwarna dengan bau seperti bunga yang tajam dan rasa menyengat.  Satu gram phenyl ethyl alkohol dapat dilarutkan dalam 50 ml air, sangat larut dalam alkohol campuran minyak, glycerin dan propylen glycol. Khasiat sebagai antibakteri dan dapat juga sebagai pengawet.  Mengingat bau harum seperti bunga maka sering pula dimanfaatkan sebagai flavouring agent.

 

32. Potassium permanganati

Merupakan serbuk hitam khijauan, yang sanagt larut dalam air (1:15), atau 1:3,5 dalam air yang mendidih. Sebagai antiseptik dapat dipakai dengan kadar 1 : 15000 atau 1 : 8000, 1 : 5000 dalam larutan dapat dipakai sebagai larutan irigasi. Dengan disinfektan ruangan dapat dilarutkan dalam formalin  yang dipanaskan. Potasium permanganati cocok digunakan untuk proses sterilisasi barang-barang di kandang hewan besar,  unggas maupun anjing dan kucing.

 

33. Povidone-iodine

Merupakan komplek yang dibuat dari reaksi iodine dengan polyvinylpyrrolidone, berupa larutan yang larut dalam air. Senyawa komplek tersebut akan megeluarkan iodine secara perlahan-lahan. Pengeluaran iodine akan bersifat antiseptik, namun dengan keluarnya iodine, maka kemampuan antiseptik menjadi menurun. Dengan kehilangan iodine, hilangkan KI dan delucent alami dar polyvynil pyrrolidone, maka preparat tersebut jarang diproduksi secara besar-besaran.

 

34. Propylparaben

Suatu serbuk atau kristal berwarna putih, kurang berbau dan akan meleleh pada suhu 95 0C s/d 98 0C. Satu gram propylenparaben dapat melarut dalam 2000 ml air. Penggunaan seperti halnya metyl paraben

 

35. Resorcinol

Mengandung tidak kurang dari 99% C6H6O2, dan merupakan kristal atau serbuk berwarna putih dengan karakteristik berbau dan rasa sedikit manis. Satu gram resorcinol dilarutkan dalam 1 ml air dan 1 ml alkohol. Sangat larut dalam glycerin dan ether, namun sedikit larut dalam chloroform. Sebagai antiseptik dan disinfektan, dapat digunakan dengan kadar 2-20%, dan kadar sekitas 5% dapat digunakan sebagai akarisidal.

 

36. Sodium benzoat

Sodium benzoat merupakan serbuk kristal putih kurang berwarna dan sedikit berbau. Satu gram sod. Benzoat dapat larut dalam 2 ml air, 75 ml alkohol, 50 ml alkohol 90% dan 1,4 ml pada air yang mendidih.

Sering digunakan sebagai pengawet makanan, dan sering digunakan sebagai bahan pengawet makanan.

 

37. Sodium hypochlorite

  1. Dapat pula digunakan untuk merendam alat-alat memerah susu.

 

38. Sodium perborate

Mengandung tidak lebih dari 9% oksigen dan berhubungan dengan 86,5% NaBO3.4H2O, dan merupakan kristal granul dengan warna putih, kurang berbau dan terasa seperti garam. Satu gram sod. Perborat dapat larut dalam 40 ml air, dengan air panas akan mengalami dekomposisi. Berkhasiat sebagai germisidal pada kadar 2%.

 

39. Sulfur dioxide

Suatu gas yang tidak merangsang dengan bau khas. Satu volume air dilarutkan dalam 36 ml volume sulfur dioxide.  Sebagai gas senyawa ini mudah menguap.  Melalui penguapan, dapat dimanfaatkan sebagai pembebashan.

 

40. Sulfur sublimatum

Suatu serbuk kristal memiliki warna cerah dan bau khas. Tidak larut dalam air, dan sedikit larut dala alkohol.  Sulfur berkhasiat sebagai parasitik, kaar 2% dapat dimanfaatkan sebagi keratolitik.

 

41. Diluted sodium hypochlorite solution

Merupakan larutan sodium hypochlorite mengandung tidak lebih dari 4-6 % NaClO.  Digunakan sebagai antiseptik dan disinfektansia. Dapat diguanakan sebagai flavouring agent

 

42. Thimerosal

Suatu serbuk kristal keputihan yang berbau khas, satu gram Thimerosal dapat dilarutkan dengan 1 ml air dan 12 ml alkohol. Sebagai disinfektan bersiaft sebagai bakteriostatik, fungisidal.

 

43. Thymol

Kristal dengan bauk khas dan  warna keputihan.  Satu gram thymol dapat larut dalam 1000 ml air, 1 ml alkohol, 1 ml chloroform.  Dapat bersifat sebaga antibakteri dengan kadar 50% dari phenol.

 

44. Tyrothicin

Suatu antibakteri yang berasala dari pohon bacilus brevi, merupakan serbuk berwarna putih dan praktis tak larut dalam air, namun denga alkohol ! : 15 ml, sedikit larut dalam aseton.  Berkhasiat sebagai antibakteri.

 

 

 

45. Medicinal zinc peroxide

  1. Digunakan sebagai antiseptik dan antibakteri

 

46. Zinc phenolsulfonate

Suatu serbuk berwarna putih dimana didalam air kelarutan berbanding 1 :1, 6 dan 1,8 dalam alkohol.  Berjhasiat sebagai antibakteial dan antiseptika

 

47. Zinc sulfat

Merupakan suatu serbuk kurang berwarna, kurang berbau, kelarutan dalam air 1 : 0,6 ml, dan 2,5 ml glycerin serta tak larut dalam alkohol. 

 

Fumigant yang dapat digunakan

1. Formaldehide

 Penggunaan formaldehyde gas untuk membunuh mikroba telah lama dilakukan dan disebut sebagai fumugasi, umumnya dilakukan untuk suatu ruang.  Cara tersebut sangat praktis namun untuk ruang degan suhu dingin (kurang dari 15 0C) maka  formalin akan berubah menjadi paraformaldehid dan hal tersebut sangat tak efektif.

 

       2. Bom formalin

Suatu teknik sterilisasi ruang dan peralatan yang ada didalam ruang dengan cara menambahkan larutan kalium permanganan ke dalam suatu larutan formalin  absolut dalam keadaan panas (100 0C).  Kadar yang digunakan antara 3 % dan dilakukan antara 1-2 jam pada ruangan 3×3 m2.

 

      3. Carbon disulfide (CS2)

  1. Untuk menurunkan sifat iritan pada personal maka dilakukan pencampuran dengan CCl4 dengan rasio 1 :   4.

 

4. Carbon tetrachlorida  (CCl4)

 Merupakan cairan yang susah menguap (5x dari udara), dan tidak sering digunakan sebagai fumigant dan sering digunakan untuk mengusir insekta. Digunakan dengan kombinasi fumigant ain untuk mencegah sifat mudah terbakar seperti methyl bromide, ethylene dibromide.

 

5. Chloropicrin (Trichloronitromethane) CCl3NO2

    Suatu zat cair tak berwarna dan sering bersifat irritant terhadap mata dan tenggorongan atau bahkan menyebabkan muntah.  Senyawa ini digunakan terutama untuk fumigant terhadap tanah.  Umumnya digunakan dengan kombinasi xylene, CCl4 dan ethyle dioxideuntuk menolong distribusi gas.

 

6. D-D Mixture

    Merupakan campuran 1,3 dichloropropene dan 1,2 dichloropropane.  Merupakan cairan berwarna gelapdengan bau yang cukup menusuk.  Material ini sangat mudah terbakar dan cukup toksik terhadap manusia. Terutama ditujukan untuk fumigasi tanah untuk control nematode, wireworm dsb.

 

7. Dichloroethyl ether (C4H8Cl2O)

    Merupakan cairan yang kurang berwarna dengan daya penguapan 4,9 x dari udara. Fumigant ini tidak tergolong explosive dan umumnya digunakan untuk fumigant terhadap tanah.  Umumnya diguakan untuk taman-taman pada pekarangan dimana burung berhabitat.  Fumigant ini dapat merusak struktur tanah, namun rumput kurang dipngaruhi oleh fumigant ini.  Setelah dilakukan penggunaan fumigant ini, tanah harus selalu diaerasi.

 

  1. 8. Ethylene dibromide   (CH2BrCH2Br)

    Suatu cairan kurang berwarna, dan bau tajam seperti chloroform. Cepat menguap yaitu 6,5x dari udara dan sangat toksik pada manusia meskipun tidak bersifat explosive.  Cepat menguap pada suhu kamar bahkan pada suhu rendah. Sering digunakan untuk tempat-tempat seperti tanah, dan dapat dikombinasikan dengan minyak tanah atau xylene. 

 

9. Ethylene dichloride

    Suatu cairan kurang berwarna, dan memiliki daya uap 3,5  dari udara. Meskipun kurang bersifat mudah terbakar, namun dibawah kondisi tertentu dapat menyebabkan masuk dalam kelompok harus hati-hati dengan masalah kebakaran (fire hazard).

     Dapat dikombinasikan dengan CCl4, dan cukup toksik terhadap personal yang menggunakan.

 

10. Hydrocyanic acid (HCN)

Merupakan gas yang tak berwarna, dan sudah lama tak digunakan karena dapat membunuh manusia

 

11. Methyl bromide (CH3Br)

      Suatu zat dengan sifat mudah menguap dan kurang berbau dan kurang berwarna. Daya uap 3x dari udara dan berupa gas dengan sifat kurang mudah terbakar. Gas tersebut sangat toksik terhadap manusia, dengan sifat yang tak terlihat dan tak berbau menyebabkan termasuk dalam kelompok zat yang berbahaya. Secara umum telah dipergunakan secara luas dan dapat digunakan pengusir hewan pengerat (tiikus).  Zat ini tidak berbahaya untuk tanaman dan tidak meninggalkan bau untuk tanaman-tanaman disekitar.

     Penggunaan yang umum adalah fumigant warehouse, pada kapal-kapal, pengangkut pada truk-truk dsb.

 

12. Naphtalene (C10H3)

      Merupakan suatu kristal putih dengan daya penguapan 4,4 kali dari udara.  Tidak banyak digunakan dan dapat digunakan untuk fumigasi kain-kain

 

13. Orthodichlorobenzene C6H4Cl2

      Merupakan cairan kurang berwarna dan memiliki bau yang sangat tajam.  Mudah menguap yaitu 5x dari udara.  Meskipun sangat mudah terbakar namun termasuk dalam kelompok mudah meledak.

      Umigant ini sangat toksik pada hewan dan tumbuhan, dan umumnya digunakan untuk membunuh larva-larva dari lalat.

 

14. Sulfur dioxide SO2

       Nerupakan fumigan yang tertua, gas tersebut akan membentuk sulfur  yang mudah terbakar.  Sering digunakan dengan menyemprotkan dalam tabung.

 

Aplikasi kerja BSL

Aplikasi pengerjaan BSL dapat dilakukan terhadap isolate atau sampel masuk, dengan cara sebagai berikut:

  1. Melakukan preparasi prasyarat sampel
  2. Melakukan pencucian sampel
  3. Melakukan investigasi secara simultan umum dengan cara :
    1. Menanamkan pada media kultur jaringan (hewan/ tanaman) dan dilakukan penambahan antibiotik/kemoterapi dan anti jamur.
    2. Menanamkan pada media umum kuman aerob dan media umum kuman anaerob
    3. Menanamkan pada media jamur umum
    4. Mencari dengan metode mikrohematokrit atau ulas tebal kemungkinan adanya parasit
    5. Melakukan pencarian adanya unsur asam inti yang tak masuk dalam sel prokaryot dan eukaryot menggunakan cara-cara fisikokimia

 

  1. Melakukan tindakan isolasi baik terhadap virus kuman jamur parasit dan asam inti
  2. Melakukan tindakan identifikasi masing-masing mikroba (termasuk jamur) dan asam inti
  3. Melakukan tindakan karakterisasi masing-masing mikroba (termasuk jamur) dan asam inti

 

Unit penerimaan sampel

Sampel padat/cair

Ke enam tahap tersebut secara umumdapat digambarkan dengan alur sebagai berikut :

                              

Preparasi sampel

–          Grinding

–          Sonifikasi

–          Pencucian

–          Filtrasi

–           

–           

Tanam ke Tisue culture

Mengandung antibiotika/antijamur

Tanam ke media umum kuman

Aerob anaerob

Tanam ke media umum jamur

Ulas tebal/mikrohematokrit,dsb

Analisis BSL-1

Analisis

BSL-2

Analisis asam amino transgenik

Isolasi, identifikasi

Isolasi, identifikasi

Isolasi, identifikasi

Isolasi, identifikasi

Isolasi, identifikasi

Analisis

BSL-3-4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepustakaan

 

  1. American Biological Safety Association. ABSA biosecurity task force white
    paper: understanding biosecurity. Illinois: The Association; 2003.

 

  1. Richmond JY, Nesby-O’Dell, SL. Laboratory security and emergency response guidance for laboratories working with select agents. MMWR Recomm Rep. 2002;51:(RR-19):1-6.

 

  1. Biomaterial Biosafety Laboratory Manual, 1999. SectionVI-Principles of Laboratory Biosafety. Diambil 5 November 2008 dari http://www.cdc.gov/od/ohs/biosfty/bmbl5/sections/Sections.

 

  1. Sandia Report. Laboratory Biosecurity Implementation Guidelines : Sandia Nationalaboratories Albuquerque, New Mexico 87185 and Livermore, California 94550; 2005.

 

  1.  Laboratory Biosafety Manual,3rd Edition. Geneva: World Health Organization, 2004.

 

  1. Biohazardous materials. UCD Exposure Control Plan. Diambil tanggal 4 di http://www.uchsc.edu/safety/Manuals/BioSafety/biochap2.html

 

  1. Biosafety Manual for University of Maryland. Department of Environmental Safety, USA; 2006.

 

  1. Biorisk management. Laboratory biosafety Guidance. Geneva: World Health Organization, 2006.

One Comment on “Training in Indonesia Quarantine Employe:”

  1. ardiunair says:

    Thak you very much


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s