Kolaborasi laboratorium

Kolaborasi Laboratorium

Secara harifiah kolaborasi mengandung makna ko= bersama dan laborasi mengambil kata laboratorium yang berarti suatu unit kerja dengan tambahan si berarti suatu tindakan (action). Dalam terminology EURACHEM (2001), kolaborasi laboratorium dijabarkan dalam pengertian merupakan suatu kerja bersama (working group) antara satu unit pelayanan fungsi (UPF) sejenis dengan lainnya. Dalam tugasnya UPF-UPF tersebut melakukan aplikasi dengan tuntunan baku operasional yang sama. Namun demikian dalam penentuan hasil akhir secara pasti akan didapatkan perbedaan hasil. Hal tersebut disebabkan adanya banyak faktor diantarannya adalah :
1. Perbedaan pengalaman kerja Sumber Daya Manusia
2. Perbedaan merk peralatan
3. Perbedaan merk bahan-bahan kimia yang digunakan kendati memiliki tingkat kemurnian yang identik.

Persoalan tersebut pada akhirnya sejak tahun 1961 menghasilkan prasyarat penilaian mutu kerja atau sekarang dikenal uji validitas metode. Prasyarat penilaian mutu kerja dari tahun ke tahun makin berkembang dan pada awal tahun 2001 mulai diperkenalkan dengan adanya konsep ketidak pastian (uncertainty). Terminologi uncertainty adalah : A parameter associated with the result of a measurement, that characterizes the dispersion of the values that could reasonably be attributed to the measurand”.

Sejak tahun 2004 di Tanah Air, telah berdiri suatu lembaga sertifikasi profesi independen di bawah pengawasan Badan Nasional Sertifikasi Profesi Indonesia. Lembaga tersebut berdiri dengan nama Lembaga Sertifikasi ProfesiTenaga Laboratorium Penguji Indonesia.
Lembaga tersebut secara langsung memberikan penilaian kompetensi kerja bagi tenaga laboratorium penguji berskala internasional (termasuk didalamnya melatih dan menguji asesor uji sertifikasi). Tugas lain lembaga tersebut adalah melatih dan menguji asesor tempat uji kompetensi, memfasilitasi persiapan tempat uji kompetensi. Lembaga tersebut didirikan dengan bantuan dua organisasi profesi lain yaitu Persatuan Ahli Tenaga Laboratorium Kesehatan Indonesia serta Bidang kimia-makanan minuman (Indonesia Food Analysis Network).

3. Tujuan kolaborasi
Aktifitas kolaborasi laboratorium pada dasarnya harus harus dilakukan secara periodik, dengan tujuan :
1. Untuk menilai kekurangan masing-masing laboratorium dalam menmgerjakan suatu proses kerja baku (SOP). Kekurangan tersebut dapat dalam hal Hardware (perangkat keras) atau software (perangkat lunak termasuk Sumber Daya Manusia).

2. Saling mengkoreksi dan saling membina mutu kerja peserta kolaborasi agar selalu mengikuti trend dunia dalam melakukan proses kerja.

3. Mendorong piningkatkan kepercayaan pengguna hasil uji pada produk-produk komersial (terutama perusahaan atau Perusahaan asing yang akan bertransaksi dengan produsen dan konsumen local).

4. Meningkatkan kepercayaan publik (public awareness) terhadap mutu perangkat keras serta Sumber Daya Manusia (SDM) pengola di masing-masing UPF.

5. Sebagai sumber informasi bagi pengguna perangkat keras sejenis baik laboran di dalam maupun di luar negeri mengenai kelemahan-kelemahan perangkat keras yang digunakan.

6. Sebagai sumber informasi bagi unit pembuat SOP untuk meningkatkan mutu acuan.

7. Sebagai sumber informasi bagi pabrik pembuat instrument proses kerja tentang kelemahan-kelemahan instrument tersebut.

8. Sebagai informasi bagi Negara-negara di dunia lain dalam rangka melakukan joint mission dengan pemerintah daerah setempat mengenai sistem operasi UPF di suatu Indonesia.

4. Sasaran kolaborasi
1. Laboran-laboran pekerja di suatu UPF mulai dari bagian cleaning services, analisator hingga bagian penyimpan dan penetapan hasil uji
2. Kepala-kepala UPF yang menanggungjawabi UPF
3. Para teknisi laboran perangkat keras di UPF tersebut
4. Para pembuat SOP suatu acuan kerja
5. Para teknisi perangkat keras pensuplai instrument di UPF

5. Keluaran hasil kolaborasi
a. Utama
a. Mampu melakukan upaya minimisasi variasi hasil pembacaan data terkait dengan suatu proses kerja
b. Mampu melakukan penilaian atas rentang deviasi dan entang variasi atas hasil suatu kerja

b. Sertaan
a. Menghasilkan pandangan baru mengenai pentingnya suatu penilaian kedalam dari fihak lain atas kerja suatu proses yang dilakukan UPF itu sendiri (inward looking).
b. Menghasilkan pandangan baru tentang perlunya perbaikan diri mengiringi perkembangan IPTEK terkait dengan tugas yang diemban oleh UPF tersebut.
c. Menghasilkan semangat baru untuk selalu bekerja dengan belandaskan komunitas seminat (working groups) dalam rangka updating kualitas kerja

6. kerja kolaborasi
a. Perencanaan dan Analisis hasil
Perencanaan dalam rangka pelaksanaan kerja kolaborasi sangatlah menentukan dan didahului dengan suatu komunikasi antar peserta serta coordinator (Gambar 1). International Veterinary Bioanalysis Association bekerja sama dengan Association of Official Analytical Chemists, telah menetapkan baku langkah-langkah perencanaan dan analisis hasil, yaitu :
1. Menetapkan kualifikasi SDM yang melakukan
2. Menetapkan persyaratan laboratorium yang akan digunakan
3. Menetapkan wilayah berdasarkan temperatur udara dimana laboratorium tersebut berada
4. Menetapkan peserta-peserta UPF
5. Menetapkan secara rinci hal-hal mengenai proses kerja
– Metode kerja
– Bahan dan alat yang digunakan

b. Pemeriksaan Kolaboratif
1. Menetapkan cara pembacaan dan penilaian kerja
2. Jumlah replikasi proses kerja
3. Menetapkan cara penilaian umpan balik hasil kolaborasi
4. Menetapkan cara koreksi kesalahan



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s