PIDATO PENGUKUHAN GURU BESAR BIDANG ILMU FARMASI VETERINER

Bismilahirrahmanirrahim,

Yang terhormat,
Ketua dan Anggota Wali Amanat Universitas Airlangga,
Ketua dan Anggota Senat Akademik Universitas Airlangga,
Rektor dan Wakil Rektor Universitas Airlangga,
Para Guru Besar Universitas Airlangga,
Dekan dan wakil Dekan, serta Pimpinan Lembaga di Lingkungan Universitas Airlangga
Teman Sejawat Dosen, segenap Civitas Akademika Universitas Airlangga, serta
Undangan dan hadirin yang saya muliakan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua.

Pertama-tama izinkanlah saya, pada pagi hari yang berbahagia ini, dengan segala kerendahan hati memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rakhmat, taufik, hidayah serta karunia-Nya kepada kita semua, sehingga atas ridho-Nya semata, kita dapat hadir disini dalam keadaan sehat wal’afiat untuk menghadiri Rapat Terbuka Senat Akademik Universitas Airlangga dalam acara pengukuhan saya sebagai Guru Besar di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Sholawat dan salam saya haturkan kepada junjungan kami rasulullah Muhammad SAW., keluarga, sahabat serta pengikutnya.
Dalam kesempatan ini izinkanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan saya dengan judul:

IMPLEMENTASI DAN PENGEMBANGAN PRINSIP MAXIMUM ASCLEPIADES PADA PENGGUNAAN OBAT HEWAN DAN ALAT KESEHATAN HEWAN

Hadirin yang saya muliakan,
Allah SWT, menciptakan alam semesta dengan segala isinya amat sempurna dan berkeseimbangan, Ada siang ada pula malam, ada sehat ada pula sakit dan adapula obatnya. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan hidayah luar biasa yaitu bentuk fisik dan psikis paling sempurna sehingga dengan akal fikiran, naluri dan emosi yang melekat kelak mampu dimanfaatkan untuk menguak rahasia alam untuk kemaslahatan manusia termasuk perihal obat hewan dan pengobatan untuk hewan dengan segala aspek yang menyertainya. Karena karunia-Nya pula maka bermunculanlah karya insan manusia yang bermanfaat untuk kelestarian lingkungan, kesejahteraan hewan dan untuk kemaslahatan umat manusia sepanjang zaman.
Hadirin yang saya muliakan,
Dalam rentang waktu 460-370 SM telah muncul suatu konsep pemikiran oleh seorang tabib Asclepios,yang dikenal dengan prinsip Maximum Asclepiades. Prinsip-prinsip tersebut sangat sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan tentang obat hewan dan pengobatan untuk hewan baik saat ini maupun di masa-masa mendatang (Milks, Zeissig, 1949; Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, 2009).
MAXIMUM ASCLEPIADES
Prinsip umum Maximum Asclepiades pertama kali digunakan untuk memberikan orientasi pada salah satu cabang ilmu pengobatan hewan berupa peresepan obat hewan (Milks, Zeissig, 1949). Selanjutnya konsep umum tersebut tetap digunakan seiring dengan berdirinya pertama kali pendidikan Kedokteran Hewan yaitu di Inggris tahun 1771 (Winslow, 1902; Martinet al, 1961; Fish, 2010).
Terdapat empat muatan pada prinsip Maximum Asclepiades yang diketahui yaitu cito (cepat) tuto (aman) curare (manjur) et jucunde (dan menyenangkan). Diketahui pula bahwa didalam selembar kertas resep yang berwarna putih ukuran seperempat kertas folio, terdapat bagian resep seperti inscriptio, prescriptio, signatura dan subscriptio. Bagian resep prescriptio inilah implementasi prinsip Maximum Asclepiades pertama kali dipaparkan. Dalam paparan awal diuraikan bahwa untuk memenuhi kriteria cito maka peranannya ditekankan pada bahan-bahan adjuvan sedangkan untuk kriteria tuto peranannya dilakukan oleh bahan-bahan yang bersifat korektif. Khusus untuk kriteria curare diperankan oleh bahan-bahan yang tergolong remedium cardinale, sedangkan untuk kriteria jucunde diperankan oleh bahan-bahan yang disebut vehikulum.
Upaya pemutakhiran prinsip Maximum Asclepiades dalam penggunaan obat hewan dan alat-alat kesehatan hewan (alkeswan) sejak tahun 1950-an mulai dirasakan terutama di banyak negara di wilayah Eropa Barat. Dengan berjalannya waktu serta munculnya perilaku kehati-hatian dalam penggunaan obat hewan dan atau alkeswan serta seiring perkembangan zaman, maka nuansa tuntutan penggunaan prinsip Maximum Asclepiades makin mengemuka (OIE Guidelines on Veterinary Legislation, 2009; OIE Terrestrial Animal Health Code, 2009).
Mengapa masyarakat dunia semakin berhati-hati dengan masalah obat hewan dan alkeswan ?
Hadirin yang saya muliakan,
Sifat umum suatu obat hewan dan atau alkeswan, yaitu tidak mudah memprediksi kemunculan suatu respon menguntungkan di saat tubuh berinteraksi dengan obat hewan dan atau alkeswan. Dampak lanjutan dari sifat tersebut pada akhirnya akan berimplikasi seperti (i) memunculkan respon menguntungkan seperti harapan, (ii) timbulnya penyakit baru terhadap hewan penderita akibat pemberian obat hewan ataupun alkeswan. Dampak lain adalah (iii) menimbulkan bahaya residu dalam produk olahan asal hewan, (iv) menimbulkan cemaran habitat hewan penderita. Bila dampak yang ditimbulkan berupa respon menguntungkan sesuai rencana, tidak akan menjadi persoalan. Namun bila respon yang ditimbulkan berupa penyakit baru karena obat, dan atau menimbulkan residu obat hewan serta kontaminan habitat hewan, maka persoalan tersebut tidak akan menguntungkan kehidupan manusia. Sebagai jalan keluar dari persoalan tersebut di atas maka penggunaan obat hewan saatnya berubah orientasi terhadap strategi pengelolaan menuju orientasi logis dan bertanggungjawab.
Hadirin yang saya muliakan,
Apa yang dimaksud pengembangan prinsip Maximum Asclepiades ?
Pengembangan prinsip cito memiliki makna sesegera mungkin mendekatkan obat atau alkeswan terhadap sasaran bagian patologis tubuh. Namun bila bagian patologis tubuh telah pulih, maka secepatnya obat atau alkeswan yang digunakan harus dieliminasi. Pengembangan prinsip tuto memiliki empat makna yaitu (i) aman bila digunakan sebagai sarana pengobatan, (ii) aman dari dampak residu cemaran terhadap produk olahan asal hewan, (iii) aman dari penimbul kerusakan habitat hewan, (iv) aman dari penyalahgunaan obat hewan dan penggunasalahan obat hewan. Pengembangan prinsip curare memiliki persyaratan yaitu pemilihan berdasarkan strategi pengobatan penderita dengan merancang dosis, memilih jenis bahan aktif, mengaturwaktu dan cara pemberian, serta menetapkan bentuk sediaan. Pengembangan prinsip jucunde memiliki makna harus mengakomodasi kriteria-kriteria kesejahteraan hewan (animal walfare) diantaranya adalah sediaan obat hewan tidak boleh menimbulkan rasa sakit/rasa lapar, (ii) rasa takut, (iii) rasa tidak menyenangkan bagi hewan. Makna lain dari prinsip jucunde adalah aktivitas pemberian obat hewan harus menimbulkan rasa aman dari kemungkinan serangan hewan penderita sehingga membuat nyaman pemberi obat (Lazuardi, 2008).
FALSAFAH LOGIS DAN BERTANGGUNGJAWAB
Hadirin yang saya muliakan,
Falsafah logis dalam penggunaan obat pertama kali digunakan oleh Badan Kesehatan Dunia dan dipromosikan untuk melakukan strategi pengobatan individual melalui penulisan resep menggunakan konsep P-drug sekitar tahun 1995(Organisasi Kesehatan Sedunia dan Program Obat Esensial, 1998). Sementara perlu diketahui bahwa konsep strategi pemberian obat pada dasarnya memiliki banyak pilihan dan salahsatu pilihan yaitu konsep P-drug, sebenarnya telah dikenal di Eropa sejak awal tahun 1990-an.
Selanjutnya tahun 1998 dengan menggunakan pemahaman risalah kuliah guru besar dibidang filsafat yaitu Prof. Dr. Koento Wibisono (alm) dan diskusi-diskusi mendalam disela-sela waktu jeda istirahat kuliah yang kebetulan mengajar mata ajar filsafat di program studi strata tiga di Universitas Airlangga, saya mencoba memutakhirkan prinsip logis yang dikembangkan dengan prinsip tanggungjawab seorang dokter hewandalam penggunaan obat hewan.
Tahun 2008, prinsip penggunaan obat hewan logis dan bertanggungjawab yang telah tersusun secara konkrit saya perkenalkan pertama kali disaat menjadi pembicara tamu di seminar ilmiah di Semarang. Sejak saat itulah falsafah logis dan bertanggungjawab untuk pengunaan obat hewan mulai dikenal dilingkungan para dokter hewan klinisi hewan kecil (Lazuardi, 2008).
Logis dari asal kata latin logos yang mengandung makna ilmu, dan merupakan suatu epistemologi ilmiah dengan tata aturan yang menuntun penalaran untuk sampai pada suatu kesimpulan benar. Bila konsep tersebut bagian suatu ilmu setidaknya memiliki syarat-syarat sebagai ilmu yaitu (i) memiliki metode, (ii) didasarkan atas bukti (logico-verificatio), (iii) dan berlaku sesuai rentang masa atau rentang zaman tertentu. Bila dalam perjalanan masa atau zaman ditemukan konsep atau teori baru (novelties) yang dapat menjatuhkan teori lama, maka perilaku demikian adalah ciri dalam suatu ilmu. Bila perilaku tersebut terjadi silih berganti dalam menghasilkan konsep atau teori baru, maka suatu saat akan muncul resultante tinggi dari hasil temuan ilmu terbaru.
Aplikasi empirik penggunaan obat hewan dan alkeswan dapat terbagi tiga yaitu (1) mampu dibuktikan (the true value), (2) belum dapat dibuktikan di zaman itu dan (3) tidak dapat dibuktikan. Pada pola penggunaan obat hewan dan alkeswan yang telah diaplikasikan secara empirik selanjutnya mampu dibuktikan secara ilmiah, maka akan menghasilkan fenomena reprodusibilitas dan ripitabilitas. Artinya pola penggunaan obat hewan tersebut dapat diaplikasikan di berbagai tempat dengan hasil sama, kendati memiliki deviasi berbeda-beda. Pola pengobatan inilah yang disebut temuan empirik yang akhirnya dapat diteoritikkan sehingga munculah pola baku yang disebut Pedoman Diagnosis dan Terapi (PDT). Dengan demikian aplikasi teknis falsafah logis yaitu pemberian obat hewan sesuai PDT yang selalu dilakukan verifikasi dari waktu ke waktu berdasarkan penelitian. Namun bila terjadi perubahan PDT dalam suatu masa maka harus menggunakan PDT yang telah diperbarui. Di bawah prinsip penggunaan obat dalam koridor rentang PDT, maka respon menyimpang terhadap suatu obat tidak akan menimbulkan persoalan-persoalan hukum berupa tuntutan perdata ataupun pidana bagi seorang dokter hewan. Sebab prosedur yang dilakukan telah mengikuti suatu aturan baku sementara kejadian respon menyimpang karena suatu obat dapat dapat terjadi diluar kemampuan akal dan fikiran manusia. Namun melalui falsafah bertanggungjawab maka pemantauan obat hewan dalam masa pengobatan hingga berakhirnya waktu henti obat hewan (withdrawl time) oleh pemberi obat hewan, akan mampu mengantisipasi kejadian respon menyimpang. Akibat tidak mudah menduga perilaku dinamika obat hewan di dalam tubuh subyek sakit maka saya sering menyebut bahwa obat hewan di dalam tubuh hewan dengan berbagai jenis dan pola hidup yang ditemui, adalah suatu obyek misteri.
Falsafah bertanggungjawab, mengandung makna bahwa obat hewan adalah suatu bahan yang berbahaya oleh sebab itu sejak obat tersebut diproduksi, diedarkan hingga digunakan dan bahkan dimusnahkan terdapat fihak otoritas yang bertanggungjawab. Ditingkat pengguna obat hewan, maka bentuk pertanggungjawaban ada di fihak penjual obat dan fihak peminta obat. Bila obat hewan tergolong obat bebas dan bebas terbatas suatu saat terjadi sesuatu dampak merugikan akibat penggunaan obat hewan, maka pertanggungjawaban ada di Pemerintah sebagai pemegang hak otoritas melalui otoritas veteriner. Namun bila obat yang dimintakan termasuk obat keras, maka bila suatu saat terjadi dampak yang merugikan pasca penggunaan obat hewan oleh dokter hewan penanggungjawab, maka pertanggungjawaban dibebankan kepada dokter hewan penanggungjawab. Oleh sebab itu bagi dokter hewan peminta obat hewan golongan obat keras ataupun alkeswan harus disertai pernyataan tertulis yang dilengkapi paraf atau tanda tangan. Pada ilustrasi demikian maka dokter hewan pemberi obat hewan harus memiliki tanggungjawab moral yaitu secara pro aktif memantau dampak baik maupun buruk selama penderita terpapar obat hewan hingga masa waktu henti obat hewan berakhir. Setelah hitungan masa waktu henti obat hewan berlalu, maka tanggungjawab kembali dibebankan kepada pemerintah melalui otoritas veteriner.
Tanggungjawab dokter hewan dalam menggunakan obat hewan tergolong obat keras dilakukan terhadap (i) obat-obat hewan yang telah diketahui penggunaanya melalui PDT, (ii) obat-obat hewan yang dalam penggunaannya belum memiliki PDT. Dengan demikian bila terjadi respon menyimpang pada umumnya respon suatu obat maka dapat dilakukan tindakan pertolongan secara cepat (fenomena variabitias respon obat). Tanggungjawab dokter hewan pemberi obat hewan harus tercatat secara runtut dalam rekam medik veteriner sehingga mampu dilakukan pemantauan bila ditemukan individu menyimpang dalam merespon suatu obat hewan.
PERKEMBANGAN OBAT HEWAN DI INDONESIA
Hadirin yang saya muliakan,
Obat hewan serta alat dan mesin kesehatan hewan dalam tatalaksananya diatur dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2009 bagian ke II dan ke III di bawah tanggungjawab Pemerintah melalui Otoritas Veteriner. Secara teknis aturan obat hewan dan alat kesehatan hewan diatur pemerintah di bawah kendali Kementerian Pertanian maupun Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Obat hewan dalam penggolongan dikenal terbagi menjadi kelompok farmakoseutik premikdan biologik serta obat hewan bersumber bahan alami, yang diklasifikasikan menjadi obat keras, bebas terbatas dan obat bebas. Obat hewan dan alkeswan dalam peredarannya di Indonesia diawasi secara ketat oleh tiga komponen yaitu (i) komponen pemerintah pusat (ii) komponen pemerintah provinsi dan (iii) pengguna obat hewan. Komponen pemerintah pusat dilakukan oleh Subdirektorat Pengawas Obat Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan dan Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH). Komponen pemerintah provinsi dilakukan oleh unit-unit pengawas obat hewan dan alkeswan dinas-dinas terkait di bawah kendali Pemerintahan Provinsi. Komponen pengguna obat hewan dan alkeswan secara langsung ataupun tak langsung dapat melakukan re-evaluasi dengan penyampaian hasil monitoring lapangan pada fihak komponen pertama ataupun komponen kedua (Subdit Pengawas Obat Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, 2010). Komponen pengguna obat hewan dimaksudkan adalah (i) seluruh warga negara Indonesia yang bukan dokter hewan, (ii) dokter hewan berizin sebagai klinisi.
Sebagai dasar pengawasan obat hewan dan alkeswan, Ahamdulillah di tanah air tercinta telah terbit aturan baku nasional berupa Farmakope Veteriner Indonesia baik bidang farmasetik maupun biologik oleh Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Republik Indonesia (Farmakope Veteriner Indonesia, 2001a; Farmakope Veteriner Indonesia, 2001b). Namun dalam farmakope tersebut masih perlu dilakukan revisi-revisi mendasar terkait dengan perkembangan obat hewan baru serta aneka bentuk sediaan yang ada termasuk alkeswan yang menyertainya. Kedepan dengan menggunakan prinsip Maximum Asclepiades serta berorientasi logis dan bertanggungjawab berdasarkan ilmu yang saya tekuni dengan semangat sesuai moto Universitas Airlangga yaitu Exellence with Morality, sumbangan pemikiran untuk edisi mendatang dapat diwujudkan.
Dasar pengawasan obat hewan dan alkeswan dari tahun ke tahun berlangsung cukup ketat seiring dengan meningkatnya temuan-temuan derivatif jenis bahan aktif baru serta teknologi aneka bentuk sediaan obat hewan termasuk teknologi sistem penyampaian bahan aktif obat. Sejak tahun 1984 hingga tahun 2009, saya menganalisa orientasi karakter target pengawasan obat hewan dan alkeswan setiap rentang waktu lima tahunan. Hasil analisa menunjukkan bahwa tahun 1984 hingga 2009 target pengawasan adalah (i) mendapatkan produk bermutu, (ii) pencegahan residu obat hewan, dan (iii) aman terhadap kesehatan manusia serta lingkungan, (iv) pembinaan produsen obat hewan agar tetap menjaga ketersediaan produk dipasaran dengan harga terjangkau, (v) dapat dilakukan pemantauan kualitas obat hewan oleh siapapun. Kelima point tersebut menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun tuntutan ke arah kriteria Maximum Asclepiades makin siknifikan terutama di muatantuto yang mengutamakan keamanan secara menyeluruh. Demikian pula bagian jucunde yaitu makin menghasilkan aneka bentuk sediaan obat hewan yang tergolong animal taste tanpa mengurangi prinsip curare (efficacy). Ilustrasi konkrit adalah bentuk sediaan tablet salut yang saat ini terdapat tiga jenis tablet dan khusus diperuntukkan hewan akuatik yaitu tablet yang mengapung, melayang dan tenggelam yang semua itu mencerminkan semangat tuto, curare dan jucunde. Demikian pula bentuk sediaan guttae yang umumnya digunakan untuk pengobatan individu serta diperuntukkan untuk unggas dan hal itu mengadopsi prinsip cito, tuto, curare dan jucunde. Ilustrasi tambahan lain adalah bentuk sediaan pasta ad usum internum yang sering dikemas untuk sediaan kucing ataupun anjing, dan semua itu mengadopsi prinsip curare dalam pemilihan bentuk sediaan obat.
Bentuk sediaan obat hewan tidak semua identik dengan sediaan obat pada manusia dan bila sediaan obat hewan dibuat model raciksaji (magistralis) maka semua obat hewan dicirikan melalui signatura yang ditujukan untuk nama hewan dan dikendalikan oleh pemilik hewan (pro). Sedangkan obat hewan paten dicirikan dengan registrasi DEPTAN RI No. Import atau Dalam negeri serta tahun, bulan dan nomor urut registrasi serta penandaan huruf p (pharmaceutic) atau v (vaksin) dan t (keras) atau k (keras) diakhiri huruf depan dari berbagai bentuk sediaan (cair, serbuk kering, tablet dsb).
Diketahui bahwa beberapa jenis obat hewan, memiliki bentuk sediaan tertentu yang tidak ditemui pada bentuk sediaan obat manusia (Blodinger, 1983; Asosiasi Obat Hewan Indonesia, 2005). Perbedaan bentuk sediaan obat hewan yang sering ditemui adalah oral bentuk padat seperti (i) pelet, (ii) briket, (iii) bolus, (iv) blok, sediaan steril yang dilewatkan melalui orificium papila mamae untuk sapi (intra mamary infusion), dan sediaan setengah padat yang dioleskan pada lidah sapi (electuarium). Bentuk sediaan khusus tersebut menunjukkan bahwa obat hewan yang digunakan bersifat tuto dan jucunde.
PENGEMBANGAN MAXIMUM ASCLEPIADES UNTUK BIDANG PENDIDIKAN
Hadirin yang saya muliakan,
Pada tingkat Sarjana Kedokteran Hewan di semester V, salah satu cabang ilmu yang mempelajari persoalan obat hewan dan alkeswan dengan segala aspek praktisnya, mulai diajarkan dengan penekanan pada dasar-dasar penulisan resep untuk kasus-kasus rawat jalan dan kasus-kasus rawat inap.
Dalam upaya pengkayaan kajian cabang ilmu tersebut, maka persoalan falsafah obat hewan dan pengobatan dan sejarah perkembangan obat hewan, dilakukan pengembangan wawasan dengan memberikan asupan contoh implementasi prinsip dasar Maximum Asclepiades. Pendalaman materi lain seperti tatalaksana obat hewan dan alkeswan versi nasional dan universal, perihal dosis obat hewan dan pemilihan bentuk sediaan obat hewan secara umum, diorientasikan dengan menggunakan dasar falsafah penggunaan obat hewan yang logis dan bertanggungjawab. Penambahan wawasan prinsip Maximum Asclepiades tersebut makin implementatif disaat mendalami materi khusus yaitu aneka bentuk sediaan obat hewan yang akhiri dengan materi kapita selekta mengenai karakteristik obat hewan dalam aneka bentuk sediaan maupun saat berinteraksi antar obat hewan dan pakan hewan. Bentuk implementatif nyata dengan penerapan falsafah logis dan bertanggungjawab, akan lebih dirasakan disaat memberikan asupan materi latihan penulisan resep untuk obat hewan dalam bentuk magistralis ataupun permintaan alkeswan bagi mahasiswa yang menempuh Program Profesi Dokter Hewan (PPDH)
Dalam Program Pendidikan Dokter Hewan untuk bidang Ilmu Terapetik Veteriner, persoalan penulisan resep dengan penambahan muatan prinsip Maximum Asclepiades disertai falsafah Logis dan Bertanggungjawab, dapat dilakukan menggunakan model pembelajaran link and match. Dengan model pembelajaran demikian akan dengan mudah disisipkan materi khusus dalam Ilmu Terapetik Veteriner yaitu etika penulisan resep bagi seorang dokter hewan. Muatan pendidikan etika penulis an resep pada prinsipnya diberikan dengan nuansa saling asih asah asuh antara dokter hewan dan calon dokter hewan dan diibaratkan hubungan pembelajaran live skill antara seorang kakak dengan adik sesama saudara (Lazuardi, 2010a).
Mengapa materi etika penulisan resep amat penting untuk diberikan?
Hadirin yang saya muliakan,
Sifat resep merupakan materi hukum dan keberadaan selembar kertas resep dari seorang dokter hewan adalah ibarat suatu dokumen yang bersifat ”hitam dan putih”. Kesalahan dalam penulisan resep yang dapat mengakibatkan kerugian bagi pemilik hewan berarti membawa satu langkah lebih dekat ke persoalan hukum yang berujung pada tuntutan perdata atau tuntutan pidana.
Pemberian materi etika penulisan resep ditingkat Program Pendidikan Dokter Hewan dilakukan sembari memberikan contoh-contoh latihan penulisan resep dari kasus-kasus sesungguhnya yang pernah terjadi. Terdapat sembilan butir etika yang diperkenalkan dan kelak akan diimplementasikan oleh sipenulis resep yaitu (i) kehati-hatian, (ii) jujur dan dapat dipercaya, (iii) bertanggungjawab, (iv) tidak diskriminatif, (v) menghindari dari perilaku penyalahgunaan, (vi) menghindari dari perilaku penggunasalahan, (vii) sopan, (viii) bijaksana dan (ix) selalu melakukan pendidikan terhadap pemilik hewan.
Penanaman prinsip kehati-hatian dalam penulisan resep bagi seorang dokter hewan adalah mutlak diperlukan mengingat obat hewan hakekatnya adalah suatu racun ibarat pedang bermata dua yang dapat menghujam bagian sasaran dan dapat menghujam ke bagian yang tak dikehendaki. Dalam menajamkan kembali etika kehati-hatian maka dilakukan pula penanaman lebih lanjut yaitu agar dokter hewan mampu melafalkan nama-nama obat serta makna dan kepanjangan singkatan latin dalam resep dengan benar. Kompetensi tersebut dibutuhkan manakala layanan jasa profesional resep meminta keputusan obat pengganti (loco) yang disampaikan melalui sarana telephon dan atau mobile phone yang tertera di bagian inskripsio resep.
Penanaman prinsip jujur dan dapat dipercaya dalam penulisan resep perlu ditajamkan mengingat resep adalah suatu dokumen resmi dari dokter hewan yang berizin dan didalamnya terdapat hal-hal yang bersifat rahasia medik veteriner. Oleh sebab itu bahasa yang digunakan dalam resep dilakukan dengan menggunakan bahasa yang bersifat mati yaitu bahasa latin. Banyak negara di wilayah Eropa yang mengharuskan penulis resep membubuhkan tanda tangan (bukan hanya paraf), dan tanda tangan tersebut harus terdaftar terlebih dahulu di lembaga-lembaga resmi yang menangani masalah obat hewan dan alkeswan. Di Amerika bahkan dalam satu lembar kertas resep tercantum pula nama dokter hewan pengganti yang berizin. Pola tersebut seharusnya dapat diterapkan di Indonesia, dan dengan memasukan butir etika jujur serta dapat dipercaya maka dapat diyakini kelak produk resep di Indonesia tetap memiliki legitimasi tinggi.
Hadirin yang saya muliakan,
Penanaman sifat bertanggungjawab amat perlu dilakukan mengingat dokter hewan dalam melakukan penulisan resep diorientasikan mengikuti prinsip Maximum Asclepiades yaitu aman terhadap tubuh hewan, residu dan cemaran ekosistem. Perlu diketahui bahwa dua tahun yang lalu teknologi microchip telah masuk ke Indonesia dan perangkat tersebut disisipkan dalam tubuh hewan (untuk sementara pada anjing atau kucing) dengan tujuan agar dapat dilakukan penandaan atau pemberian identitas hewan tersebut. Perangkat microchip tidak mustahil kelak juga dapat disisipkan ke tubuh ternak (sapi, kerbau domba babi, dsb) termasuk unggas yang bakal dikonsumsi oleh masyarakat. Bila alkeswan seperti microchip tidak dilakukan pengaturan yang ketat, sementara Indonesia mengimport ternak yang bakal dikunsumsi masyarakat serta mengandung microchip, apabila ternak tersebut di potong, tidak mustahil perangkat tersebut masih terdapat dalam karkas hewan dan atau menjadi sampah elektronik dalam bangkai hewan dan mencemari habitat hewan. Seandainya aturan tentang microchip tersebut diperlakukan seperti obat keras dengan kriteria sebagai alkeswan dan hanya dapat diperoleh menggunakan resep dokter hewan, maka jumlah maupun sebaran edar di Indonesia dapat dikendalikan.
Sementara Prinsip tidak diskriminatif dalam penulisan resep perlu ditanamkan mengingat obat hewan atau alkeswan yang dimintakan tidak memilah-milah tempat unit penjualan obat hewan atau alkeswan yang bakal dituju.
Penanaman prinsip menghindarkan diri dari perilaku penyalahgunaan dengan tujuan agar permintaan obat hewan dan atau alkeswan tidak menjadi hal-hal yang bertentangan dengan hukum. Penanaman prinsip-prinsip penggunasalahan dalam arti luas yaitu menghindari diri dari cara-cara pemanfaatan selembar kertas resep yang tidak pada tempatnya. Disamping itu terkait pula dengan upaya penghindaran diri dari perbuatan yang tanpa disadari menyebabkan rasa ketakutan dari pemilik hewan mengenai dampak obat hewan yang dimintakan melalui resep. Fenomena tersebut akan menimbulkan suatu bentuk kecemasan dari fihak pemilik hewan dan tak jarang timbul rasa keputusasaan dari pemilik hewan. Rasa kecemasan dari fihak pemilik hewan muncul tanpa disadari oleh dokter hewan akibat hubungan antara dokter hewan dengan pemilik hewan yang bersifat vertikal. Hubungan tersebut disebabkan peran dokter hewan yang dianggap profesi penolong jiwa hewan (The healing profession).
Prinsip sopan dalam menuliskan resep selalu ditanamkan mengingat resep dokter hewan bakal dilayani oleh profesi lain jadi ibarat suatu komunikasi dua arah yang harus bersifat sopan. Contoh konkrit dalam hal ini adalah penekanan tentang keterbacaan permintaan tertulis serta kelaziman ukuran dan warna kertas resep termasuk penggunaan warna tinta dan penghindaran diri dari penggunaan warna tinta yang cepat memudar.
Prinsip bijaksana dalam menuliskan resep, juga ditanamkan mengingat tidak semua obat hewan yang tersedia di unit penjualan obat tersedia ataupun bila tersedia hendaknya disesuaikan dengan kemampuan beli pemilik hewan. Sifat bijaksana juga selalu ditanamkan pada calon dokter hewan dalam menyikapi hubungan antar dokter hewan dalam melayani peresepan obat hewan dan atau alkeswan sesuai kode etik dokter hewan.
Prinsip selalu melakukan pendidikan bagi pemilik hewan selalu ditanamkan mengingat keberhasilan pengobatan semata-mata bukanlah karena obat hewan dan ataupun alkeswan yang telah dimintakan melalui resep dokter hewan namun juga didasarkan pada perilaku hidup sehat dari pemilik hewan.
PENGEMBANGAN MAXIMUM ASCLEPIADES UNTUK BIDANG PENELITIAN
Hadirin yang saya hormati,
Dalam Pidato Rektor Pada Sidang Universitas Airlangga dalam rangka Dies Natalis ke 56 disebutkan bahwa semangat internasionalisasi dengan didasari landasan morality harus selalu tertanamkan dalam diri dosen dilingkungan Universitas Airlangga termasuk bidang penelitian dan publikasi ilmiah (Rektor Universitas Airlangga, 2010). Dalam menunjang kiprah tersebut maka prinsip-prinsip Maximum Asclepiades mengenai orientasi internasionalisasi penelitian dan publikasi ilmiah dengan obyek penelitian obat hewan dan alkeswan, amat menunjang untuk diimplementasikan. Prinsip-prinsip Maximum Asclepiades secara tersurat menuntut penelitian tentang obat hewan dan atau alkeswan menggunakan kaidah-kaidah internasional dengan aturan umum yang bersifat universal. Sebagai contoh muatan tuto yang berarti aman baik terhadap hewan itu sendiri, residu obat maupun lingkungan, demikian pula jucunde yang mengadopsi prinsip-prinsip kesejahteraan hewan, adalah sebagian dari prinsip Maximum Asclepiades yang mendukung kiprah internasionalisasi bidang penelitian.
Penelitian di bidang obat hewan dan alkeswan pada dasarnya menggunakan hewan coba sebagai subyek aplikasi. Dalam aturan internasional maka penggunaan hewan coba sebagai subyek klinik harus mengikuti prosedur baku yang telah diatur oleh unit etik hewan coba resmi ditingkat lembaga-lembaga Ilmu Pengetahuan dari suatu Kementerian atau di Perguruan Tinggi. Dalam studi profil perwatakan kinetik suatu obat hewan yang terdiri dari berbagai bentuk sediaan dengan subyek hewan sehat atau sakit, harus mengikuti aturan Animal Scientific Procedures atau dikenal dengan Animal Act1986 (Hollands, 1986). Aturan tersebut amat selaras dengan semua komponen yang ada pada prinsip Maximum Asclepiades. Oleh sebab itu tahun 1994, saya mulai menerapkan aturan tersebut yang sejalan dengan muatan-muatan prinsip Maximum Asclepiades sekaligus mulai mempopulerkan muatan cito, tuto curare et jucunde di bidang penelitian obat hewan dengan subyek tikus putih atau dikenal Rattus norvegicus (Lazuardi, 1994).
Bila kita menilai kesesuaian muatan-muatan prinsip Maximum Asclepiades untuk kebutuhan penelitian yang bersifat internasional, dapat kita kaji melalui ketentuan Cartagena Protocol on Biosafety To The Convention On Biological Divesity. Dalam artikel pertama secara tersirat dipaparkan tentang tujuan aturan universal tersebut yaitu memproteksi alam dari persoalan produk rekayasa mahluk hidup baik dalam segala aspek kegiatan. Aturan tersebut sangat sesuai dengan semangat komponen tuto dari prinsip Maximum Asclepiades(Secretary of the convention on biological diversity, 2000).
Semangat komponen tuto dan jucunde juga selaras dengan prinsip hidup yang sehat One World One Healthyang pertama kali diperkenalkan oleh The Wildlife Conservation Society dan didukung dengan Organisasi Epizootika Internasional, Badan Pangan Dunia dan Badan Kesehatan Dunia( International Federation of Animal Health, 2009).
Pada tanggal 15-26 juni 2009, untuk pertamakali dilakukan sosialisasi penggunaan persoalan Genetic Modifyed Organism (GMOS) dan Living Modifyed Organism (LMOS) sesuai aturan Protocol Cartagena oleh Badan Kesehatan Dunia melalui unit kerja Penelitian Penyakit Tropis Dunia dan di wilayah Asia dipusatkan di Centre fo Research in Medical Entomology (ICMR) di Madurai India. Dalam kegiatan tersebut secara tersurat telah dipersyaratkan bahwa penggunaan hewan coba ataupun produk-produk tergolong Living Modyied Organism harus mengikuti kaidah-kaidah tuto seperti salahsatu muatan prinsip Maximum Asclepiades (Visalakshi, 2009).
Indonesia tahun 2004 melalui Departemen Pertanian telah ikut meratifikasi aturan GMOS dan LMOS yang diatur dalam aturan universal Protocol Cartagena. Sebagai bentuk implementasi telah di buat aturan transfer material LMOS antar wilayah yang disebut Material Transfer Agreement (MTA) dan pertama kali dilakukan oleh salahsatu Unit Lembaga Penelitian di bawah kendali Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian di Bogor. Saat ini telah diatur persoalan MTA oleh Surat Keputusan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Dengan demikian persoalan GMOS dan LEMOS termasuk hal yang harus dikendalikan. Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan tuto dalam prinsip Maximum Asclepiades harus tetap diberlakukan manakala berhubungan dengan produk-produk GMOS dan LMOS.
Prinsip Maximum Asclepiades juga amat selaras bila digunakan untuk mendorong semangat internasionalisasi penelitian bidang alat dan mesin kesehatan hewan. Disebut selaras mengingat penelitian jenis alat dan mesin kesehatan hewan di tingkat internasional dicirikan selalu mempersyaratkan harga-harga kontrol validitas terhadap kinerja perangkat tersebut. Tuntutan tersebut dimintakan mengingat alat dan mesin kesehatan hewan dalam aktivitas penelitian merupakan perangkat pendukung suksesnya penelitian dilakukan. Ciri tersebut secara tak langsung melekat pada prinsip curare yang merupakan jabaran dari Prinsip Maximum Asclepiades. Contoh konkrit adalah kegiatan penelitian yang sering dilakukan di tanah air dengan kendala-kendala umum seperti (i) keterbatasan perangkat alat dan mesin, (ii) usia alat dan mesin penelitian yang tidak tergolong baru, (iii) terbatasnya anggaran penelitian, (iv) tidak mudahnya mengimpor satu alat dan mesin tertentu untuk kinerja penelitian., (v) kebutuhan alat dan mesin khusus yang tidak ada duanya. Pada keadaan demikian terkadang para peneliti di tanah air mencoba merancang sekaligus membuat perangkat alat dan mesin untuk mendukung kinerja penelitian. Dengan membuat peralatan penelitian sendiri ada banyak hal yang dapat menolong para peneliti. Bahkan tidak jarang peralatan yang dibuat akhirnya dimanfaatkan oleh peneliti lain atau bahkan digunakan untuk sarana belajar mengajar di tingkat Perguruan Tinggi. Perangkat yang telah dibuat tidak sedikit memiliki kinerja yang cukup memenuhi syarat setelah dilakukan kontrol validitasnya.
Hadirin yang saya hormati,
Fenomena pembuatan alat dan mesin penelitian akibat keterbatasan perangkat kerja di tanah air, pernah saya alami sejak aktivitas penelitian tingkat skripsi tahun 1982-1983 hingga tingkat disertasi tahun 2004. Dalam rentang waktu tersebut banyak hikmah yang saya petik diantaranya adalah saya mendapatkan alat dan mesin dengan harga yang murah, tepat guna dan memiliki nilai validasi yang cukup memuaskan. Bahkan peralatan yang saya buat tersebut pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh sejawat-sejawat peneliti baik tingkat strata satu hingga tingkat strata tiga dan tetap bermanfaat hingga kini. Hikmah tersebut amat selaras dengan prinsip Maximum Asclepiades yang bernuansa menghasilkan kinerja cepat, tepat, dengan fungsi serbaguna dan diakhiri keberhasilan.
PENGEMBANGAN MAXIMUM ASCLEPIADES UNTUK BIDANG PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Hadirin yang saya muliakan,
Prinsip Maximum Asclepiades dengan orientasi penggunaan obat hewan logis dan bertanggungjawab pada bidang pengabdian kepada masyarakat dapat dicontohkan berupa layanan pengobatan hewan. Kegiatan tersebut akan mendukung semangat One World One Health secara penuh. Sebagai ilustrasi hipotetik adalah upaya tindakan eradikasi letupan wabah sesegera mungkin pada banyak ternak ataupun tindakan pengobatan pada kasus klinik secepat mungkin secara individual. Pada kasus demikian dilakukan tindakan lanjutan berupa pembebasan paparan obat terhadap tubuh secepat mungkin pasca pulihnya kondisi tubuh hewan.
Dalam melakukan tindakan layanan pengobatan perlu dilakukan perancangan pemberian obat hewan dengan pengaturan regimentasi dosis agar ketersediaan hayati obat bebas dalam tubuh penderita berlangsung lama namun tak menimbulkan penyakit baru karena obat hewan. Hasil perancangan regimentasi dosis obat hewan juga tidak boleh mengakibatkan timbulnya residu obat hewan akibat meningkatnya waktu henti obat hewan. Hasil rancangan obat hewan juga tidak diperkenankan menggunakan bahan-bahan aktif yang diekskresi dalam bentuk utuh dan mudah terurai di alam. Rancangan regimentasi dosis dilakukan pengaturan obat hewan agar agent penyakit terpapar dengan kecukupan kadar (consentration dependent) serta waktu paparan (time dependent) (Lazuardi, 2010b).
Dalam perancangan pemberian obat dikenal dengan nama pengaturan strategi pengobatan yang dirancang oleh dokter hewan dan melibatkan lebih dari satu macam obat hewan dan atau beserta alkeswan. Hasil perancangan pemberian berbagai obat hewan dengan pola pengobatan yang beragam akan berkesan sebagai art of compounding dan bila dimintakan menggunakan selembar kertas resep secara ilmiah bagaikan art of prescribing (Guidelines for the compounding of veterinary drugs, 2007). Strategi pemberian obat hewan dengan hasil ibarat art of prescribing perlu dilakukan pertimbangan seperti melakukan penambahan komposisi yang mengandung flavouring agent agar hewan penderita bebas rasa tidak menyenangkan. Komponen flavouring agent dapat berupa corrigen warna dan bau bila menghendaki hewan bebas dari rasa takut, ataupun corrigen rasa bila menghendaki hewan bebas dari rasa sakit. Dalam melakukan perancangan pemberian obat juga harus mempertimbangkan kemudahan pemberian dan keselamatan terhadap si pemberi obat hewan. Obat-obat hewan bentuk sediaan padat seperti tablet, pilulae dan bolus akan memudahkan pemilik hewan memberikan obat hewan tersebut dengan cara dilemparkan ke dalam rongga mulut hewan. Cara tersebut digunakan dalam rangka memenuhi muatan jucunde dalam kaitannya penjagaan keselamatan diri dari ancaman serangan hewan yang diobatinya.
Ilustrasi hipotetik seperti paparan di atas pada kasus empirik adalah upaya pengobatan kasus Tripanosomiasis pada ternak sapi kerbau dan kuda di Indonesia yang dilakukan sejak letupan wabah tahun 1988 di Bangkalan (Madura). Beberapa kemotripanosidal yang ada di dunia umumnya bersifat spektrum sempit diantaranya adalah golongan asam naftilamine, golongan fenantridin, golongan kuinaldin dan golongan diamidin. Diantara golongan-golongan tersebut terdapat satu jenis kemotripanosidal yang dianggap merupakan obat pilihan yaitu Suramin (Naganol). Namun Suramin pada tahun 1995 telah ditarik peredarannya diakibatkan sifat ketersediaan hayati obat yang mencapai tiga hingga empat bulan. Suramin juga terkenal dengan jenis kemotripanosidal yang diekskresikan dalam bentuk utuh dari tubuh hewan penderita dan tak mudah terurai di alam. Akibat sifat-sifat yang tidak mendukung prinsip tuto dari Maximum Asclepiades, maka kemotripanosidal tersebut dinyatakan dilarang untuk digunakan sebagai obat hewan pada ternak. Sementara jenis-jenis lain dari ke empat golongan tersebut banyak yang telah resistant terhadap agen penyakit tersebut. Meskipun demikian tahun 2001 dilakukan upaya perancangan regimentasi dosis dari senyawa kemotripanosidal diminazen aseturat. Pada rancangan tersebut tindakan mempercepat pendekatan obat dengan agen infeksi adalah melalui model rancangan superposisi. Dalam rancangan tersebut dasar yang digunakan adalah menggunakan konsep concentration dependent dan time dependent dari kemotripanosidal yang dipilih. Dengan demikian yang didapatkan adalah pemberian obat dengan mencari kecukupan kadar paparan dan lama paparan suatu kemotripanosidal melalui dosis muatan yang disusul dengan dosis pemeliharaan. Upaya perancangan tersebut diatur sedemikian rupa agar tidak menghasilkan kadar tunak dalam tubuh hewan penderita. Hasil rancangan regimentasi dosis tersebut telah berhasil mendapatkan kecukupan kadar tripanosidal pada rentang waktu paparan yang lama (Lazuardi, 2007).
Namun masih ada kelemahan yang ditemui dalam rancangan seperti paparan Lazuardi (2004), yaitu mengabaikan prinsip jucunde dengan implikasi hewan menjadi amat menderita akibat pemberian dosis berulang secara parenteral ekstravaskular. Penderitaan tersebut akibat sifat fisikokimia diminazen aseturat yang akhirnya mampu mengakibatkan kebengkakan di daerah penyuntikan. Untuk mengurangi kebengkakan tersebut dilakukan penambahan antipyrin sebagai senyawa non steroid anti inflamasi. Ke dua kombinasi tersebut masih belum mampu mengurangi rasa sakit di saat dilakukan penyuntikan intramuskular. Oleh sebab itu sejak awal tahun 2010, dikembangkanlah upaya kemotripanosidal lepas lambat yang diatur sistem pelepasannya melalui suatu bahan mikroenkapsulasi.
Teknologi pelepasan lambat menyebabkan suatu bahan aktif obat menjadi berkerja secara lama. Teknik tersebut banyak dipengaruhi oleh vehikulum suatu obat diantara beberapa bahan lemak asal hewan seperti adeps lanae, lanolin, adeps suilis. Lemak unggulan lain adalah liposom yang ditemukan pada th 60-an, dan awalnya digunakan sebagai model dari membrane sel, yang kemudian diketahui dapat digunakan sebagai carrier atau vehicle untuk berbagai sediaan biologis. Dalam media tahun 2000 substansi liposom pada akhirnya juga dimanfaatkan oleh industri obat hewan untuk membawa bahan aktif agar bersifat deep tissue. Diketahui terdapat tiga jenis ukuran liposom yaitu (i) Small Unilamellar Vesicle (SUV) berukuran 0,02-0,05 μm, (ii) Large UnilamellarVesicle (LUV) berukuran sekitar 0,06 μm, dan (iii) Multilamellar Vesicle (MLV) berukuran antara 0,1-0,5 μm. Liposom yang tergolong original, digunakan dengan sangat terbatas hal itu disebabkan waktu paruh eliminasi dalam sirkulasi darah cukup pendek. Dalam rangka memperbaiki produk tersebut, telah dikembangkan kembali suatu produk liposom yang mempunyai waktu paruh eliminasi panjang dangan cara melekatkan Poly Ethylen Glycol (PEG) pada phospholipid-bilayerdan dikenal dengan long circulating (Stealth) Liposomes. Advance liposomes inilah yang digunakan sebagai vehicle / carrier dari berbagai obat termasuk obat-obat untuk penggunaan transdermal mengingat kemampuannya dalam meningkatkan transdermal flux, prolong release action, dan meningkatkan site specific dari molekul bioaktif (Lazuardi et al., 2010).
Dalam penggunaan obat-obat hewan untuk kasus seperti trypanosomiasis pada dasarnya mengikuti aturan yang disebut PDT disamping itu perlu dilakukan pemantauan oleh dokter hewan pemberi obat hewan, dengan kurun waktu masa pengobatan hingga masa waktu henti obat berakhir. Tindakan pengobatan menggunakan aturan PDT serta upaya monitoring adalah bentuk implentatif penggunaan falafah logis dan bertanggungjawab dalam penggunaan obat hewan
Hadirin yang saya muliakan,
Pada tahun sekitar 2007-2008 di saat Indonesia mengalami wabah Flu Burung maka banyak fihak insan perunggasan di Indonesia menggunakan larutan antiseptik serta desinfektan untuk membasmihamakan kandang serta perlengkapan kandang lainnya secara terus menerus yang tidak lege artis berakibat pada resiko cemaran terhadap ekosistem amat tinggi dan pada akhirnya akan merusak keseimbangan lingkungan.
Kita mengenal obat-obat hewan yang diperjualbelikan secara bebas pada poultry shop atau depo obat hewan dan kita pernah mendengar pula bahwa beberapa bahan kimia seperti ammonium nitrat, potassium nitrat dan sulfur serta charcoal. Bahan tersebut pada akhir dapat diraciksajikan dan diklasifikasikan sebagai bahan obat hewan yang dapat digunakan untuk melakukan pembuatan bom ikan. Kita juga pernah mendengar bahwa mineral alam maupun bahan-bahan herbal di tanah air dapat pula dimanfaatkan untuk membuat habitat ikan menjadi beracun sehingga ikan-ikan dengan mudah dapat ditangkap. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahan-bahan kimia yang pada akhirnya dapat digunakan untuk melakukan euthanasia pada hewan, dengan amat mudah dapat disalahgunakan ataupun digunasalahkan. Tentunya dengan menggunakan prinsip-prinsip Maximum Asclepiades serta berorientasi logis bertanggungjawab maka persoalan penyalahgunaan obat hewan ataupun penggunasalahan obat hewan dapat diminimalkan.
Pelayanan jasa pengobatan hewan sejak awal millennium terjadi pergeseran pandangan antara pemilik hewan dengan dokter hewan dimana hubungan antara keduanya cenderung bersifat equal. Artinya penggunaan obat hewan dan atau alkeswan oleh dokter hewan yang tetap mengabaikan prinsip logis dan bertanggungjawab, akan beresiko menghadapi persoalan tuntutan hukum dari pemilik hewan. Namun sebaliknya bila penggunaan obat hewan mengadopsi prinsip-prinsip Maximum Asclepiades yang berorientasi logis dan bertanggungjawab, maka kemungkinan resiko berhadap-hadapan dengan persoalan tuntutan hukum dari pemilik hewan dapat dihindari.
PENGEMBANGAN MAXIMUM ASCLEPIADES UNTUK KEMASLAHATAN UMAT MANUSIA
Hadirin yang saya muliakan,
Obat hewan sesuai deskripsi UU No. 18 tahun 2009 disebutkan berupa sediaan yang dapat digunakan untuk mengobati hewan, membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh. Adapun makna memodifikasi proses kimia tubuh hewan, dapat merujuk pada PP 78/1992 Bab II Pasal 3.Penggunaan obat hewan untuk ternak yang bakal dikonsumsi manusia diatur melalui UU No 18 tahun 2009 yaitu Pasal 51 butir 3, yang menyatakan setiap orang dilarang menggunakan obat hewan tertentu pada ternak yang produknya untuk konsumsi manusia.
Paparan di atas amat jelas resiko obat hewan pada umat manusia bila mengabaikan prinsip-prinsip Maximum Asclepiades serta berorientasi logis dan bertanggungjawab dalam penggunaan obat hewan. Ada lima hal kerugian manakala kita mengabaikan prinsip-prinsip tersebut yaitu (i) bahaya cemaran residu obat hewan dan alkeswan pada produk olahan asal hewan, (ii) bahaya cemaran habitat hewan, (iii) bahaya terhadap gangguan keseimbangan ekosistem yang berdampak mengakibat kepunahan salahsatu spesies hewan, (iv) bahaya penyalahgunaan obat hewan ataupun alkeswan untuk hal-hal membahayakan umat manusia, (v) bahaya penggunasalahan obat hewan ataupun alkeswan yang pada akhirnya dapat merugikan umat manusia. Lima dampak tersebut tidak menyemangati kiprah dokter hewan Indonesia dalam menggunakan obat hewan terkait aktivitas seperti tema kongres ke 16 (Enviroment Health: Veterinary Roles For a Better Health and a Safer World).
Kiprah tersebut pada akhirnya menyadarkan kita semua arti bahaya akan obat hewan yang satu hingga dua tahun lalu pernah mengancam kesehatan masyarakat di tanah air seperti contoh di bawah (Bambang et al., 2009);
• Kasus cemaran melamin, trembolon asetat pada produk susu dan daging sapi
• Kasus cemaran krom, pumblum, merkuri dan tawas pada produk kulit sapi
• Kasus cemaran fosfat, kloramfenikol dan tetrasiklin pada udang,
• Kasus cemaran formalin, dan bahan pewarna, pengawet pada ikan dan daging sapi
Oleh sebab itu peranan penggunaan prinsip-prinsip Maximum Asclepiades dengan orientasi logis dan bertanggungjawab pada pengelolaan obat hewan akan menghilangkan perilaku penyalahgunaan dan penggunasalahan obat hewan.
Hadirin yang saya muliakan,
Perkenankanlah saya mengemukakan tujuan topik pidato ini.
Pada Bulan Maret 1984 berdirilah BBPMSOH di wilayah Bogor (Jawa Barat) sebagai tonggak awal bentuk profesionalitas pengendalian obat hewan di Indonesia (The National Veterinary Drug Assay Laboratory, 2009). Dalam perjalanan waktu BBPMSOH mendapat kunjungan tamu salahsatunya adalah mendiang Prof. Amitaba. Beliau saat itu menanyakan pekerjaan saya yang kebetulan saya ditempatkan di seksi pengujian vaksin virus rabies BBPMSOH, dan membisikkan sesuatu ke pada saya sbb: “ini adalah permatanya dokter hewan dan pengetahuan obat hewan harus dipermodern sesuai perkembangan dunia”. Selepas saya bekerja di lingkungan Departemen Pertanian, wawasan saya makin terbuka dengan diterimanya saya sebagai salahsatu pengajar di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Selanjutnya melalui guru-guru saya yang ada, saya mendapat bimbingan untuk mengembangkan diri dengan dilibatkan mengikuti kegiatan profesi keahlian dan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta mengikuti program pascasarjana.
Pada akhirnya saya bertekad untuk:
MEMBANTU SECARA IKHLAS ALMAMATER TERCINTA UNIVERSITAS AIRLANGGA BANGSA DAN NEGARA INDONESIA PARA ILMUWAN SERTA UMAT MANUSIA UMUMNYA MELALUI AMALAN ILMU YANG SAYA TEKUNI.
ADAPUN TARGET AKHIR HARAPAN SAYA ADALAH AGAR PENGELOLAAN OBAT HEWAN DAN ALKESWAN BERSIKAP HATI-HATI, BERDAYA GUNA, SELEKTIF, AMAN DAN TIDAK MERUSAK LINGKUNGAN
UCAPAN TERIMA KASIH
Hadirin yang saya muliakan,
Di akhir pidato pengukuhan ini, perkenanlah saya untuk mengucapkan rasa terima kasih dan rasa hormat saya kepada Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Muh. Nuh DEA yang telah menyetujui pengangkatan saya sebagai Guru Besar di Departemen Kedokteran Dasar Fakultas Kedokteran Hewan Univ. Airlangga.
Kepada yang terhormat Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Fasich, Apt., Ketua Senat Akademik Universitas Airlangga Prof. dr. Sam Soeharto, Sp. MK, Sekretaris Senat Akademik Universitas Airlangga Prof. Dr. Noor Cholies Zaini, Apt., serta Seluruh Angota Senat Akademik Universitas Airlangga yang telah mendukung dan mengusulkan saya sebagai guru besar.
Kepada yang terhormat mantan Rektor Universitas Airlangga Prof. R. Soedarso Djojonegoro, dr., AIF, Prof . Bambang Rahino Setokoesoemo, dr., Prof. Soedarto, DTM&H., Ph.D. dr., Sp.Par. dan Prof. Dr. Med. Puruhito, dr., Sp.BKV, yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk bekerja dan mengabdi sebagai dosen di Universitas Airlangga.
Kepada yang terhormat Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Prof. Hj. Romziah Sidik, Drh., Ph.D., serta Ketua, Seketaris dan Anggota Senat Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga yang telah menyetujui dan mengusulkan saya sebagai guru besar.
Kepada yang terhormat mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, mendiang Prof. Amitaba (alm), Drh; Prof. Dr. Soehartojo Hardjopranjoto, Drh., MSc., Prof. Dr. Rochiman Sasmita, Drh., MS., MM., Prof. Dr. Ismudiono, Drh., MS., yang telah menerima saya sebagai mahasiswa dan selanjutnya memberi kesempatan bekerja sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
Kepada yang terhormat mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof. IGN Gde Ranuh, dr., Sp. A(K) dan Kepala Bagian di unit kerja saya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yaitu Prof. Nanizar Zaman-Joenoes, Pharm.D., yang telah mengizinkan dan menerima saya pertama kali untuk dititipkan bekerja sebagai dosen di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus membina dalam melakukan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kepada yang terhormat Drh. Soelistijanto (alm) sebagai pembimbing utama skripsi tingkat sarjana kedokteran hewan dan Prof. Dr. Rahaju Ernawati, Drh., MSc., sebagai pembimbing pendamping skripsi tingkat sarjana kedokteran hewan yang telah banyak membantu saya dalam pengerjaan penelitian maupun penyelesaian pembuatan skripsi.
Kepada yang terhormat Prof. Dr. Fasich, Apt., sebagai pembimbing utama pada program pendidikan Magister di Universitas Airlangga serta Prof. Dr. Rochiman Sasmita, Drh., MS., MM, sebagai pembimbing pendamping pada program pendidikan Magister di Universitas Airlangga. Beliau berdua telah membina saya dengan sabar dan tulus serta membantu kesulitan-kesulitan saya di saat penelitian maupun penulisan dalam penyelesaian tugas pembuatan thesis.
Kepada yang terhormat Prof. Dr. A. Aziz Hubeis, Apt selaku promotor dan Prof. Dr. Rochiman Sasmita, Drh., MS.,MM., selaku ko-promotor yang telah memberikan bimbingan dan dorongannya ketika saya menempuh pendidikan program doktor sekaligus penyelesaian pembuatan disertasi. Dari Beliau berdualah saya mendapatkan tambahan asupan menjadi seorang ilmuwan sekaligus pendidik yang bermartabat dilandasi moral kepada Allah SWT.
Kepada yang terhormat kakak-kakak sekaligus guru-guru saya sewaktu pertama kali saya bekerja sebagai dosen di lingkungan Universitas Airlangga yaitu, dr. Harjono., dr. Soeharmi Soedibjo, MS., beserta Prof. Dr. H.R. Soedibjo Hari Purnomo, dr., DTM., MPH., Drs. Soetomo W, Apt (alm), dr. Muh. Usman., Dra. Nuraini Farida, MS, beserta Prof. Muljarjo, dr., Sp THT (K)., dr. Haryanto Husein, MS., dr. M. Teguh Wahyudi, MS, dr. Ratna Sofaria Munir, MS., dr. Roostantia Indrawati, MKes., dr. Bambang Hermanto, MS., atas bimbingan dan arahan baik mental maupun moral selama menjadi dosen. Demikian pula kepada sahabat-sahabat sesama dosen tercinta Drs. Abdul Mughni, Apt., dr. Siti Farida, M.Kes., dr. Arifah Mustika, M.Kes., dr. Nurmawati Fatimah yang telah menemani dan selalu mengingatkan saya selama saya menjadi dosen.
Kepada yang tercinta teman-teman sejawat saya dilingkungan cabang ilmu yang selama ini saya tekuni yaitu Drh. Rahmi Sugihartuti, M.Kes., Drh. Lilik Maslachah, M.Kes., Drh. M. Sukmanadi, M.Kes dan Yuni Priyandani,SpFR., SSi., Apt., yang telah menemani, mengingatkan dan bekerja sama serta berbagi rasa selama saya menjadi dosen dan berkiprah dalam organisasi profesi seminat di bawah lingkup Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia.
Kepada yang terhormat guru-guru saya sewaktu saya masih bersekolah ditingkat Sekolah Dasar Negeri Deli I Surabaya, Sekolah Menengah Pertama Negeri VII, Surabaya, Sekolah Menengah Atas Negeri II Surabaya., yang telah mencetak perilaku saya menjadi insan terdidik dan bermoral
Kepada yang terhormat guru-guru saya di saat saya menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran Hewan dan Dokter Hewan di Universitas Airlangga, serta guru-guru saya di saat saya masih menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di Universitas Airlangga baik tingkat strata dua maupun tingkat strata, yang telah membina saya menjadi insan professional yang bermoral.
Sembah sujud, saya sampaikan kepada yang terhormat dan yang tercinta Bapak dan Ibu kandung saya Letkol Laut (purn) Drs. H. R. Hartojo (alm) dan Hj. Rr. Sriwatoen Hartojo, yang telah memberi kasih sayang, asuhan keimanan kepada sang Khalik, membimbing kejujuran saya, kedisiplinan saya, mendorong agar tetap belajar dan bekerja keras, serta selalu membina saya agar selalu hormat dan asih pada sesama. Semoga Allah swt., mengampuni segala dosa, menerima segala amal kebaikannya dan menempatkan pada tempat yang paling mulia di sisi-Nya.
Sembah sujud juga saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu Mertua yaitu Bapak R.P. Soedjono (alm) dan Ibu Rr. Sri Oemijati yang selalu mendoakan saya dan keluarga selama saya meniti karier di dunia pendidikan tinggi sekaligus memberikan dorongan moril dalam berkarya sebagai dosen.Semoga Allah swt., mengampuni segala dosa, menerima segala amal kebaikannya dan menempatkan pada tempat yang paling mulia di sisi-Nya.
Kepada istri saya tercinta Dra. Rr.Nenny Handayati serta anak-anakku Mahendra Surya Hanardi (Enda), Handi Dwi Rachmabayu (Andi), Rizki Aditya (Adik), Ichsananda Lazuardi (Ican) atas segala kasih sayang, pengertian, perhatian serta kebersamaan didalam mengarungi hidup bersama.
Kepada yang terhormat saudara kandung saya, Kel. H. Budi Harto dr. Sp. BU, Kel. Ir. Indrajaya., Kel. Hj. Dra. Budisakti (alm) maupun saudara iparKel. Drs. Hadi Purwanto, Kel. Ir. Cahyono Yudo, MSc., dan Rahayu Astuti SH atas segala kebaikan dan hubungan persaudaraan yang akrab selama ini.
Kepada segenap anggota panitia (termasuk teman sejawat dalam satu Departemen Kedokteran Dasar Veteriner di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga) yang diketuai oleh ibu Monique., SE dan Drh. Ratna Damayanti, M.Kes, Tim Paduan Suara Universitas Airlangga, serta semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara pengukuhan ini dengan lancar.
Kepada semua pihak yang telah memberi kebaikan dan hal-hal yang membantu kepada saya tetapi tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
Semoga Allah swt, berkenan memberikan imbalan kebaikan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberi budi baik kepada saya maupun keluarga.
Saya dan keluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan yang mungkin terjadi pada acara ini.

Alhamdulillahirobbil alamin,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

DAFTAR PUSTAKA
Asosiasi Obat Hewan Indonesia, 2005. Indeks Obat Hewan Indonesia. Edii 5. RH J Lt2, Jl. Harsono RM No. 28, Ragunan 12550, Jakarta: PT Gallus Indonesia Utama (GITA Pustaka).
Bambang H, Nuraini F, Roostantia I, 2009. Peningkatan Pengetahuan Residu Bahan Kimia Berbahaya Produk Olahan Asal Hewan Melalui Pelatihan Petugas Laboran Dinas Peternakan Kabupaten dan Kota Propinsi Jawa Timur. Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat. Surabaya: Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Fakultas Kedokteran Univrsitas Airlangga.

Blodinger J, 1983. Formulation of Veterinary Dosage Forms. New York and Basel: Marcel Dekker Inc.

Farmakope Veteriner Indonesia, 2001a. Farmakope Veteriner Indonesia: golongan farmasetik. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.

Farmakope Veteriner Indonesia, 2001b. Farmakope Veteriner Indonesia: golongan biologik. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.
Fish Pierre Augustin, 2010. Book of Veterinary Dose, Therapeutic Terms and Prescription Writing. London: BiBliolife Press.
Guidelines for the compounding of veterinary drugs, 2007. USA: The College of Veterinarians of Ontario.

Hollands C, 1986. The Animals (Scientific Procedures) Act 1986. Lancet (July): 32-33,

International Federation for Animal Health, 2009. One World – One Health: an integrated approach to the fight against infection disease in Annual Report 2009. Belgium: Rue Defacqz 1, 1000 Brussels, Belgium. 6-11. (http://www.phac-aspc.gc.ca/owoh-umus/index-eng.php)
Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, 2009. Profesi Dokter Hewan Di Indonesia. Mini Workshop Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia 16 Juni 2009. Jl. Ragunan Jakarta : Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia.
Lazuardi M, 1994. Potensiasi Terapi Suramin Terhadap Trypanosomiasis dan Ketersediaan Hayatinya. Surabaya : Program Pascasarjana Universitas Airlangga. 43, 111-112.
Lazuardi M, 2004. Uji Tripanosidal Diminazen aseturat : Perancangan regimen dosis efektif dan pemeriksaan toksisitas akibat pemberian obat berulang pada kambing Peranakan Etawa penderita Tripanosomiasis. Surabaya: Program Pascasarjana Universitas Airlangga.
Lazuardi M, 2007. The trypanocide assessment of diminazene aceturate by multiple dose design: an animal experimental model. Majalah Kedokteran Bandung Vol XXXIX No. 2 2007. 80-86.
Lazuardi M, 2008. Resep (R/) Logis dan Bertanggungjawab: Apa dan Bagaimana Pandangan Pada Implikasi Klinik. Dalam Panitia Nasional Asosiasi Dokter Hewan Praktek Hewan Kecil Indonesia MUNAS 27-28 Juni 2008. Makalah Musyawarah Nasional Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia Semarang 27-28 Juni 2008. Jakarta : Asosiasi Dokter Hewan Praktek Hewan Kecil Indonesia Pusat.
Lazuardi M, 2010a. Panduan Model Pembelajaran Live Skill Untuk Program Pendidikan Penulisan Resep Tingkat Dokter Hewan. Jakarta: Sagung Seto (Inpress).
Lazuardi M, 2010b. Biofarmasetik dan Farmakokinetik Klinik Medis Veteriner. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Lazuardi M, Ratna SM, Wahyudi TM, 2010. Perancangan Regimentasi Dosis Sediaan Intramuskular Diminazen Aseturat Dalam Campuran Biner Liposom Pada Ternak Besar Indonesia Penderita Tripanosomiasis. Laporan Penelitian Hibah Kompetensi Tahap I Tahun Anggaran 2010-2011 DP2M DIKTI Kementerian Pendidikan Nasional. Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Airlangga.
Martin EW, Cook EF, Leuallen EE, Osol A, Tice LF, Van Meter CT, 1961. Remington’s Practice of Pharmacy. 12th Ed. Mack Publishing Comp, Easton, Pennsylvania.

Milks HJ, Zeissig A, 1949. Practical Veterinary Pharmacology, Materia Medica and therapeutics. 6th Ed. London: Bailliere, Tindall and Cox

OIE Guidelines on Veterinary Legisaltion, 2009. International Office of Epizootics, 12, Rue de Prony, Paris (XVII), France. Cables: INTEREPIZOOTIES PARIS.

OIE Terrestrial Animal Health Code, 2009. International Office of Epizootics, 12, Rue de Prony, Paris (XVII), France. Cables: INTEREPIZOOTIES PARIS.

Organisasi Kesehatan Sedunia dan Program Obat Esensial. 1998. Pedoman Penulisan Resep. Jl. Ganesha, Bandung : ITB Bandung.

Rektor Universitas Airlangga, 2010. Pidato Rektor Pada Sidang Universitas Airlangga Di Hadapan Sidang Universitas Airlangga Dalam Rangka Dies Natalis ke-56. Rabu 10 November 2010. Surabaya: Airlangga University Press.

Secretary of the convention on biological diversity, 2000. Cartagena Protocol on Biosafety to the Convention on Biological Diversity. The Secretary of the convention on biological diversity, World Trade Centre 393 St. Jacques Suite 300, Montreal, Quebec, H2Y IN9, Canada.

Subdit Pengawas Obat Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, 2010. Ragunan, Jakarta: Direktorat Kesehatan Hewan, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Republik Indonesia.

The National Veterinary Drug Assay Laboratory, 2009. Pembangunan Road, Gunung Sindur, Bogor: Directorat General of Livestock Services, Ministry of Agriculture, The Republic of Indonesia.

Visalakshi, S. 2009. Overview of the Cartagena Protocol. In Tyagi et al., Proceeding 1st Asian Biosafety Training Course. Centre For Research in Medical Entomology (Indian Council of Medical Research, Departement of Health Research, Ministry of Health & Family Welfare, Govt. Of India) Madurai TN, India. TDR-WHO.

Winslow Kenelm, 1902. Veterinary Materia Medica and Therapeutics. New York : WR Jenkins Publication.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s